Hari Merdeka RI-69

Monday, August 18, 2014

Bismillahirrahmanirrahim.

IMG_20140817_131517Hari ini ada janji bertemu dengan teman-teman kuliah. Memang kita dekat, teman-teman jalan tapi lama ngga ngumpul bareng dan masak bareng. nah, kali ini di hari ahad kami berencana membuat menu special yang dirindukan. Dulu semasa kuliah kami suka memasak dan makan bersama sesekali.

Nama masakannya adalah Barobbo. Orang bugis pasti tahu nih. Ini adalah salah satu makanan khas orang bugis. Mirip sama bubur manado kentalnya tapi bukan bubur manado. Bedanya bubur manado pake sayur labu sedangkan Barobbo ini tidak. Tapi bahan dasarnya sama yaitu jagung.

Rencana ini sudah dibicarakan lewat BBM sejak jumat kemarin. Anti, temanku, menghubungiku lewat BBM.

PING!
Evhy minggu free?” chatnya padaku.
”Insya Allah.. Mau kemana?” balasku.

Ifa ngajak ke kontrakannya. Buka line. (yang cetak miring itu kata anti)
Nda bisaka buka line. Nda ada paket dataku. Cuman bisa pake BBM. Biasa kartu 3. (chatku)

Bisaji ikut toh? Ada ria, inna, saya, aflaha, ifa
Insya Allah. Jam berapa memangnya?

Rencana jam 9. Alamatnya nyusul
Oke oke.. tanya saja kemana saya harus pergi. Sekalian sama jamnya nah. Okay okay. Saya juga mau ajak kalian ke rumah. Tapi nda bisa kalau hari Ahad. Bisanya cuman hari senin – sabtu. Rumahku di Barombong..

Percakapan kami pun selesai sampai disitu. Aku pun menetapkan jadawal kegiatan ahad ini adalah ngumpul bareng teman-teman. Esok harinya aku pun bertanya lagi untuk meyakinkan.

Assalamualaikum. Anti bagaimana besok?
Evi besok di rumahnya inna. Tidak jadi di rumahnya ifa

Oh jam berapa? Apa dibikin besok?
Jam 10. Bikin Barobbo.

Oh besok saya liat nah. Sakit sekali perutku ini. Lagi Haidka.
(Jempol) Semoga bisa gabung besok

Amin.

Malamnya pun aku berusaha untuk tidur dengan tenang. Saking tenangnya tak terasa aku terbangun jam 9.01 pagi. Ini karena aku mendengar alarm. Astagfirullah. Hmm.. 1 jam lagi acara di rumah inna di mulai.

Eh, tapi biasanya juga telat sih. Cuman ngga enak juga datang pas semua sudah selesai. Karenanya aku pun dengan sigap menuju ke kamar mandi. Selesai mandi aku pun bersiap-siap.
”Kak bangun. Sudah jam 9 lewat. Bangun mandi. Mau pergi toh? Saya tinggal itu” ucapku pada kakaku yang masih tertidur. Maklum hari ini hari ahad. Orang pada libur.
”Pergimi, Nanti jemputka lagi” ucapnya ngelantur.
”iyuhhh.. jauhnya. Ujung pukul ujung. Cepat bangun mandi. Kalau cepat datang singga dulu di Mtos. Biar tidak lama menunggu. Tapi paling nanti kita sampai jam 11. Soalnya paling kita berangkat jam 10. Kan dirimu lama ditunggui. Jadi antarma saja baru pergimi” ucapku yang berada di depan cermin.

Ia pun bangun dan mempersiapkan bajunya lalu bergegas ke kamar mandi. Sementara itu, di luar di depan rumah terlihat iparku sedang memandikan motor. Eh salah! Maksudnya sedang mencuci motor. Ia pun mencuci motor yang biasa kami bawa. Rasanya tak enak kalau pergi begitu saja. Dengan inisiatif, aku lalu membersihkan rumah sebelum pergi sambil menunggu kakaku yang baru madi. Pastinya dandannya juga lama. Jadi tak ada salahnyalah bersih-bersih rumah sebelum keluar.

Seperti dugaan, jam 10 kami baru selesai berpakaian rapih dan siap untuk berangkat.

“Kak nda (read: tidak) ada helm. Bagaimanami? Singgami beli helm.”aku baru tersadar bahwa helm yang bisa kami pakai cuman satu. Terpaksa harus beli helm baru.
“Mahal!” ucapnya.
”jadi bagaimana? Nda ada helm” ucapku lagi sambil menenteng helm putih. satu-satunya helm yang bisa dipakai itu.
”Belimi saja” ucapnya.
”Tapi bilangnya mahal” ucapku
”Maumi di apa (read: mau bagaimana lagi?” ucapnya lagi sambil menuju ke depan rumah. Bunyi mesin pun berderu and Thannnnn

Let’s Go! Berangkat!

Motor melaju kenjang dibawah oleh kakakku. Entah mengapa perasaan ini selalu was-was jika ia membawanya. Tapi tak mau juga membawanya. Capek bawa motor. Mending dibonceng aja. Aku pun beralasan sakit perut ketika di minta untuk membawanya. Walau tak sakit-sakit amat, tapi memang sakit.

Kami pun sampai di pertigaan dimana penjual helm itu berada. Sedih! Ternyata TUTUP! Oh No! Tidak!
“Bagaimana ini? Dimana beli helm?” Ucapku berbicara pada kakak yang sedang mengendarai motor. Ia tetap melaju kencang. Kami pun tetap meneruskan perjalanan kami.

Orang-orang melihat kami dari tadi. Bagaimana tidak? Rasanya kami memang membuat hal lucu. Saya saja berpikir itu kala di motor. Aku yang dibonceng memakai helm, sedang kakak yang membawa motor tidak. hihihi.. kadang aku senyum-senyum sendiri entah kakakku sadar atau tidak. Tapi untung saja masker menutupi mulutku jadi tidak terlalu kelihatan. :D

Perasaan ini berubah menjadi was-was kembali. Selain karena kakak yang melaju kencang juga karena kini aku tak memakai helm. Sebelum keluar dari kawasan metro tanjung bunga dan memasuki kawasan pantai kota makassar aku menyerahkan helm kepada kakak. Tapi kini giliranku was-was kalau-kalau ada polisi yang memergoki kami. Entah mengapa kakaku terus saja melaju kencang. Melewati jalan-jalan inti.

Dag-dig-dug..

Motor tiba-tiba kami pinggirkan dan aku turun dari motor.
“Ada polisi di depan berhenti. Jadi bagaimana ini? Dimana beli helm?” ucapku ketika turun dari motor. Aku lalu tertawa kecil melihat kejadian ini.
”Dimanakah?” ucap kakakku yang masih berada di atas motor. “Ehhhh…….” aku pun rasanya ngomong ngelantur menunjuk arah kiri atau kanan. Seakan-akan diri ini tahu dimana penjual helm padahal tidak.

“Menyeberangmi. Kita kesana” Ia menunjuk ke arah sebaliknya.
“Tapi disana sampai mari ada juga polisinya” ucapku yang panik. Kami pun diam di tempat sejenak.
”Sudah, menyeberangmi” ucapnya lagi.
”Tapi mau lewat mana?” ucapku bingung sambil berpikir. Lalu aku pun menyebrang saja. Kakak juga membelokkan motornya. Sebenarnya itu melanggar sih. Karena di larang membelokkan motor di pembelokan itu. Namun tak ada pilihan lain. hahahahha.. Hari ini kami melanggar lagi. Sudah tidak pake helm pula.

Motor ini pun melaju. Kakak melewati jalur alternatif dan kami pun tak kedapatan oleh polisi. Huffftttt… Alhamdulillah. Syukur.. Syukurr

“Wah, macet. Ada apa di depan?” ucapku kala macet terlihat dan terdapat ribut-ribut.
“ada pasar” ucap kakaku.
”ada pasa? perasaan bukan pasar?” ucapku heran. Mencoba mengangkat kepala mencari tahu apa yang terjadi. Tapi dasar berleher pendek jadi tak kelihatan apa-apa dari jauh.
”orang bialng acara 17-an” ucapnya. Ohh ternyata yang tadi itu salah dengar. hahaha.. Kami pun melewatinya. Terlihat anak-anak sedang lomba lari karung di depan ruko-ruko sebelah kanan kami. Wah, senangnya mereka merayakan 17 Agustus. Pantas saja beberapa anak memakai baju SMP dan SMA hari ini. Awalnya kami heran, Mengapa mereka memakai baju sekolah? Sekarangkan hari Ahad. Libur. Akhirnya kami ingat juga pas memasuki kawasan pantai. Hari ini adalah perayaan Hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69.

“Ahhhhh… “ terikku di atas motor. Taksi hampir saja menabrak kami yang baru saja ingin mengambil jalur ke kanan. Ia hampir menerobos kami seenaknya. Walau tak tahu siapa yang salah, aku yang melihat taksi itu menjadi kaget. Tak sadar aku berteriak. Teriakan ini seakan mewakili kejadian-kejadian lain yang menegangkan. Aku terus berdoa dalam hati. Kadang rasanya akan menabrak mobil yang ada di depan, menyeremet motor di samping saking kencangnya.

Huffftttttt

Motor ini pun di pinggirkan lagi. Kali ini bukan masalah polisi dan taxi tadi. Sekarang kami berada di dekat penjual helm. Wah, senangnya. Akhirnya nemu penjual helm juga. Ia pun melihat-lihat.
“Yang ini berapa pak?” ucap kakak sambil menunjuk ke salah satu helm.
“Itu 90 ribu. Yang ini 130 ribu. Ini 120 ribu..” penjualnya pun menunjuk helm dan menyebutkan harganya.
”eh, inimo” tanya kakak padaku sambil menunjukkan helm berwarnah merah itu.
”Ah, jangan yang begitu” ucapku melarang.
”Jangan langsung dilarang-larang. Dilarang itu dilarang” ucap penjual yang berdiri di samping kami. Aku pun hanya tersenyum. Aku membiarkan kakak melihat-lihat sendiri. Terserah mau pilih yang mana. Kan dia sendiri yang bayar hehehhe. Aku pergi untuk membalik arah motor. Jika sudah selesai beli helm bisa langsung meluncur lagi.

“A’..” teriakku dalam hati. Kakiku terkena standar maotor kala membaliknya. Duhhhh.. sakittt… Nyut-nyut rasanya.

Selesai membeli helm, kami pun meluncur lagi. Kini menuju tujuan yang sebenarnya. Ke rumah inna. Alhamdulillah pakai helm baru. Ihiiiiiii.. walau bukan aku yang memakainya, tapi Alhamdulillah lah. Kita takkan kekurangan helm lagi, Insya Allah.

“pokonya nanti saya singga sholat sama makan dulu” ucap kakak saat kita hampir sampai.
”Iya. Sholatmi dulu. Kalau selesaimi masakannya, makanmi dulu” ucapku.
”Masa belum selesai dari jam 10” ucapnya.
”Biasa mereka begitu…” ucapku lagi.

Alhamdulillah. Pukul 12 siang kala adzan berkumandang kami sampai di rumah inna.
Hah… desahku. Akhirnya sampai juga.
“Assalamualaikum” teriakku dar depan pagar rumah inna.
Seseorang terlihat mengintip dari jendela. Aku tak mengenalinya. Hmmm… siapa ya? Sepupunya inna kali? atau adeknya. hmmm..
Aku masih menunggu di depan pagar. Orang itu mengintip lagi kedua kalinya. Lalu pagar terbuka. Dibukakan sama om-nya inna.

Kami pun masuk ke rumah.
“Assalamualaikum” ucapku dari luar. Aflaha, temanku, menyambut kami di depan pintu. Ternyata yang ngintip tadi adalah beliau.
“Wa’alaikum salam” ucapnya balik sambil berjabat tangan denganku. Tak lupa cipika cipiki, khas ukhti-ukhti yang sedang temu kangen. “Masuk” lanjutnya. Akupun masuk dan kakak mengikuti di belakangku.
“Kaceku (kakakku) mau sholat dimana whudu?” tanyaku.
”oh di sini” jawabnya sambil menunjukkan kamar mandi di sebuah kamar.

Aku pun segera masuk ke dapur. Kakak masuk ke kamar untuk whudu sekaligus sholat dhuhur.
“Jadimi semuanya? Mana Inna? Anti?” tanyaku kala memasuki dapur dan melihat ada apa gerangan di sana.
”Belumpi (read: belum). Inna pergi test. Anti jemput inna” jawabnya sambil mengurusi sesuatu.
”Hah? Inna? Saya kira test” ucapku sedikit heran.
”Ah, bukan. Asmi. Anti jemput asmi” ucapnya.
“ohhhh.. Asmi. Jadi apami yang bisa saya kerja ini?” tanyaku lagi sambil meihat bahan-bahan di atas meja. Di sana ada mangkuk berisi jagung yang sudah di serut dan daun bawang.
”Ohh banyak. Itu mau di goreng. Masih ada juga ikan asin yang mau di goreng” ucapku sambil memengang mangkok berisi jagung tadi.

Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. Suara salam terdengar dari balik pintu rumah yang tertutup. Siapa? Hmm… sepertinya Anti dan Asmi. Aku pun membukakan pintu untuk mereka.
“Assalamualaikum. Eh, adami evhy. Sama siapa?” ucap anti.
”Wa’alaikum salam. Iya. Samaka kakakku. Diantar”ucapku. Mereka pun masuk dan langsung menuju ke dapur. Aku menengok masuk kedalam kamar. Kakak masih sholat di kamar.
”eh, pasti haus toh. Saya bikinkan minum. Mau minum apa? Ada sirup DHT, ada sirup warna hijau. Mau yang mana?” ucap aflaha sambil menunjukkan sirup yang ada dalam kulkas. Kami pun sepakat untuk meminum sirup DHT. Aflaha menyiapkan minuman untuk kami.

Tak lama kakak sudah selesai sholat. Ia akan segera meluncur menuju pertemuan di tempat kerjanya. Sementara aflaha menyiapkan minuman itu. Anti menumbuk bawang merah. Asmi meracik campuran perkedel dengan tepung. Aku menunggu dan membantu aflaha merasakan racikan minumannya.
”Bagaimana? Manis nda? belum di’?” tanya aflaha padaku.
”coba saya rasa” ucapku sambil menyendok sedikit minuman itu lalu kucoba.
”Hmm.. sepertinya masih kurang. Tambah lagi,la” ucapku sambil meletakkan sendok itu. Aflaha lalu menambahkan minuman hingga akhirnya rasanyapun manis dan pas untuk di nikmati setelah perjalanan melelahkan.
“Ini minum dulu” aku menyerahkan segelas minuman ke kakak yang tengah memasang kaos kaki di ruang tamu. Ruang tamu berdampingan sama dapur. Hanya di batasi oleh dinding. Ruang tamu ini juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Di sinilah kita dapat menonton dan bersantai bersama.
”Belumpi selesai barobbonya” ucapku pada kakak. “Apa kubilang tadi. Belum toh.. hihihihi” lanjutku lagi. Kakak hanya tersenyum.

Kakak pun berpamitan lalu keluar rumah. Aku mengikutinya di belakang. Aku mengantarnya keluar.
”Jangan lupa jemputka lagi nah disini” teriakku pelan dari balik pagar.
”ihhhh…. “ ucapnya dari atas motor.
”ihhhhh.. nanti saya pulang sama siapa gangg..” ucapku. Ia pun pergi setelah mengucapkan salam. “jangan lupa jemputka” teriakku pelan sekali lagi.

Waktunya melanjutkan masak-memasak di dapur. Para gadis-gadis ini bergantian sholat. Kebetulan aku tak sedang sholat. Aku pun mendekati panci berisi jangung dan beras yang di masak dari tadi sebagai bahan utama barobbo.
“eh, coba deh. Kayak ada yang kurang” ucap anti yang baru saja mencoba sedikit rasa masakan itu. Aku pun datang mendekat untuk mencoba.
"emmm.. iya kayak ada yang kurang” ucapku sehabis mencoba juga.
”Kayaknya garamnya ya kurang” ucap anti lagi.
”iyaa.. sepertinya begitu” ucapku. Aku pun menambahkan garam. Anti pergi sholat.
”saya sholat dulu nah. Saya serahkan pada kalian berdua” ucap anti yang tengahmelangkahkan kaki untuk mengambil air whudu di WC dalam kamar.
“okee siippp” ucapku. Aku pun mencoba lagi setelah memasukkan garam. Asmi yang berada di dekatku sedang menggoreng perkedel juga mencobanya.
”bagaimana? Masih kurang? Kayak ada yang kurang. Tapi apa begitu?” ucapku.
”Iyaa.. kayak ada yang kurang. hmmm… mereicanya kali ya” ucap Asmi.
”Ahhhh.. kayaknya iya..” ucapku setelah mencobanya lagi. Aku dan asmi pun menambahkan merica bubuk sedikit. Tapi rasanya masih kurang. kami pun menambahkan garam lagi. Garamnya kali ini aku tambahkan agak banyak. Inilah penambahan yang terakhir. Insya Allah cukup.

“Mi, kayaknya ini sudah matang deh. Bisami di angkat” ucapku pada asmi yang masih asyik menggoreng di sebelahku.
”iya kayaknya. Tapi masa begini. Perasaan ada daun-daunnya barobbo deh?” ucap Asmi kala melihat masakan dalam panci.
”iya yahhh..” ucapku. Aku membalikkan badan ke kanan. Mataku pun melihat sekeliling. Kali saja ada tumpukan daun-daun yang sudah siap untuk di masukkan. Aha! Itu dia disana, ucapku dalam hati. Aku pun menuju ke kulkas di depanku di atasnya terdapat daun-daun yang nampaknya sudah siap untuk di gunakan.

Sayur kangkung dan bayam kini siap sedia.
“Mi, bagaimana ini? Nda tauka beginian. Langsungji di kasi masuk?” tanyaku pada Asmi lagi sambil memegang sebaki kecil sayur mayur.
“Kayaknya langsungji. kasi masuk saja” ucap Asmi.
“Yang mana duluan ini. Bayam di’” ucapku.
”kayaknya kangkung dulu baru bayam” ucap Asmi.
”Oh iya. Kangkung dulu” ucapku. Aku pun langsung memasukkannya ke dalam panci yang masih berada di atas kompor. Seperti kata asmi aku memasukkan kangkung terlebih dahulu barulah bayam 1 menit kemudian. Lalu kuaduk-aduk masakan itu. Sekitar 2 menit, jadilah masakan kami. Barobbo kini selesai dimakan.

Inna pun datang. Asmi membantu mengangkat panci ke bawah. Kini tinggal menunggu ikan Asin dan perkedal untuk disantap bersama. Aflaha menyiapkan piring-piring. Asmi sudah kelaparan. Tak sabar ingin makan. Panci pun diangkat keluar. Kami makan bersama di depan televisi sambil menonton acara 17-an Agustus. Acara Upacara bendera di Istana negara, kementrian, gubernuran, dan beberapa daerah lainnya.

Barobbo kini di depan mata. Piring-piring pun siap diisi untuk di santap. Ditemani dengan kecap, sambal terasi, dan jeruk nipis yang menambah kelezatan makanan. Mantapppp dah masakannya.
“Eh dimana ada upacara untuk umum nah? saya cari-cari tidak ada”  salah seorang angkat bicara.
“iya. saya juga cari. mauka juga ikut upacara” ucap Aflaha.
”iya saya juga. Dimana are itu? (read: dimana ya itu?)” Ucap Asmi melanjutkan.
”Saya kira bisaji. banyakji di lapangan” ucapku. Walau pun ini belum yakin. Nampaknya agak sok tahu. Tapi di pikiranku kita bisa ikut upacara bendera di lapangan. Banyak lapangan yang mengadakan upacara bendera.
”Lapangan mana?” tanya asmi.
”Lapangan! yang penting lapangan” ucapku menegaskan.

kini berita menayangkan kemeriahan Hari 17-an di beberapa daerah. Bagaiamana permainan-permainan khas dalam melaksanakan acara 17-an.
”Ihh.. tawwa main-main” ucap seseorang.
”iya. Di sini nda ada acaranya” ucap seseorang.
”iya. Sama di lorongku juga. Nda terlalu ramemi kayak dulu waktuta kecil” ucap asmi.
”Iya. padahal dulu kalau di kampung pasti ada gerak jalan. banyak lomba-lombanya. tapi disini nda terlaluji. Nda terlalu rame. Eh, tapi tadi saya lewat ada yang adakan lomba lari karung. Di barombong adaji juga lombanya. Masih adaji lah yang adakan lomba-lomba walau nda terlalu meriah bagaimana” ucapku sambil menikmati samtapan.

istttt

“kenapa asmi? pedis” ucap inna yang mendengar asmi sedikit terisak. Terilhat kami berkeringat memakan masakan di depan kami. Sungguh santapan yang lezat. Apalagi di temani lombok terasi racikan Anti. Perkedel jadi enak di cocol-cocol. Sadaaapppp.. dahhh.. masakan kali ini. Mantap beneeerrr..

Kami menikmati makanan sambil mengobrol. Inna kenyang duluan. Di susul oleh asmi dan diriku. Anti dan Aflaha masih asyik menikmati makanan di piringnya. Mereka bahkan menambah lagi. Kami pun terkapar kekenyangan habis makan.

huffftttt

Panasnya. Butuh udara segar. Inilah perayaan hari 17-an ala evhy dan kawan-kawan. Mumpung libur dan bisa berkumpul bersama. Sekalian belajar cara masaknya. makasih untuk waktu dan masakannya hari ini. Sungguh kebersamaan yang bahagia. Kurasakan dekapan ukhuwa sesungguhnya. Terima kasih teman. Engkau membuat Hari kemerdekaan menjadi hari yang sangat berharga.

Selamat Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69

Alhamdulillahirabbil`alamin ^^

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)