Maafkan…

Tuesday, August 19, 2014

Bismillahirrahmanirrahim.

MaafkanMagrib menjelang, aku pulang dari rumah inna. kakak tak sempat menjemputku kembali di rumah itu. Karenanya ia menyuruhku untuk bertemu di Mtos (Makassar Town Squer). Acaranya belum juga selesai hingga magrib menjelang. Aku pun memutuskan untuk ke sana. Kebetulan aku memang ingin melihat dan mengecheck buku.

Inna mengantarku ke depan. Aku harus ke depan untuk mengambil angkot. Maaf ya merepotkan, ucapku dalam hati. jaraknya lumayan jauh. Jika jalan kaki bisa memakan waktu sekitar 15 - 20 menit.
“Makasih sudah di antar ya inna” ucapku stelah turun darai motor.
”iyaa..” ucap inna.
”oke. hati-hati nah. Terima kasih. Assalamualaikum” ucapku.
”Wa’alaikum salam” ucapnya.

Inna berlalu pergi dan aku pun tinggal menunggu angkot. Adzan magrib berkumandang. Aku tengah berada di atas angkot menuju ke Mtos. Aku menikmati perjalanan singkat dalam diam. Hanya melihat sekeliling. Sekali-kali angkot berhenti untuk mengambil penumoang. Namun tak ada juga penumpang yang naik. Kadang aku merasa kesal. Tapi ini bukan mobil pribadi. wajar jika angkot mencari penumpang. Itulah sumber pencaharian mereka sehari-hari. Diam saja lebih baik.

Akhirnya setelah 4 kali singgah, aku sampai juga di M’tos. Saatnya menuju ke toko buku. Dengan senangnya aku melangkahkan kaki ini. Semoga buku yang aku cari bisa di temukan. Amin.

Aku menaiki tangga eskalator dua kali. Toko bukunya ada di lantai 3. Alhamdulillah.. sampai juga, gumamku dalam hati. Aku pun memasuki kawasan toko buku. Tak lupa untuk menitipkan barang-barang. Tentu saja di tempat penitipan barang.

segera akau menuju ke tempat buku sastra. tak seperti biasa ketika aku di toko buku akan langsung menuju ke buku islam. kali ini aku ingin mencari buku bahasa Arab. Aku sudah memutuskan untuk belajar bahasa arab. Semoga Allah swt. meridhoi niatku ini. Semoga bisa lancar dan bisa menguasai bahasa arab. Aku sungguh berharap dengan belajar bahasa arab aku bisa lebih memahami isi Al-Qur’an. Amin… Amin.. Amin.. Ya Rabbal`alamin.

“kak dimana? saya sudah di Mtos. di graha media” aku mengirim BBM ke pada kakak. Aku tak punya pulsa untuk sms. Mumpung BBM gratis, jadi manfaatkan apa yang bisa di manfaatkan. BBM belum terkirim. Nampaknya kakak sedang mematikan paket datanya.

Huffttttt…

Aku terus berkeliling meilhat-lihat. Belum kutemukan juga buku yang aku cari. Sampai akhirnya setelah berkeliling bolak-balik 3 kali, mataku tertuju padanya. Mata dan hatiku seakan berbinar kala melihat buku yang aku cari. Alhamdulillah, ketemu juga. Buku Bahasa arab yang aku cari sejak kemarin. Aku membandingkan harga di beberapa toko buku dan mencari buku yang sama. Setelah dibandingkan, di toko buku inilah yang paling murah. Karena akan mendapatkan potongan 10% untuk hari lain.

Aku pun memutuskan untuk membelinya. Aku terus membawa-bawa buku itu. Penjaga toko pun memberiku kantong belanja. Aku tak menyadari kalau ada kantong belanja. “Terima kasih” ucapku lalu menorehkan senyum untuk wanita itu. Aku pun berjalan-jalan lagi. Melihat buku-buku bahasa yang lain. membuka-buka isinya. Jika sudah bosan di buku sastra aku menuju ke rak buku agama islam. Melihat-lihat buku lagi.

Rasanya aku menunggu sudah sekitar 30 menit tapi kakak belum juga datang. Tiba-tiba perutku sakit. aduh! dimana ya WCnya? Aku belum pernah ke WC di dalam mtos sebelumnya.
“Mas, WCnya dimana ya?” tanyaku kepada mas penjaga di penitipan barang.
”Itu di dekat foodcord”ucapnya sambil menunjukkan arahnya.
”ohhh.. itu. Makasih ya mas” ucapku. Aku lalu melahkahkan kaki. Perutku terasa terlilit. Aku benar-benar harus ke wc. Aku berjalan pelan-pelan hingga mencapai WC wanita.

Aku mengecheck sekeliling WC. “Yah, tak ada sabun ataupun tissu. Ngga bisa nih” gumamku dalam hati. Aku pun keluar dari WC. Aku bertekad untuk menahannya. Ku BBM kakak untuk membelika sabun. Aku keluar secara perlahan. Dari sebuah tempat duduk, nampaknya seseorang tersenyum padaku. Aku juga tersenyum sedikit, karena aku tak mengenali siapa.

Seseorang menuju ke arahku. Aku baru sadar dengan sosok itu kala iya sangat dekat.
”weeeeiiii….” seorang wanita mendekatiku dan ia tersenyum.
”Anaaa… lama tak jumpa. Apa kabar?” tanyaku.
”alhamdulillah. Evhy bagaimana?” tanyanya balik.
”Alhamdulillah… juga” ucapku lalu mengukir senyum untuknya.
”eh, dimana sekarang?” tanya ana lagi.
”saya tinggal di barombong. Masih di rumah belum kerja. Kita (ungkapan kamu dalam bahasa sopan orang bugis-Makassar)?” ucapku.
”Saya kerja di Sari Roti" ucapnya.
”Dimana itu?” tantaku lagi.
”Di Kima” ucapnya. ohhh.. Kima adalah kawasan industri Makassar. Banyak pabrik-pabrik berkumpul di kawasan tersebut.
”evhy mukanya tmabah putih” lanjut ana.
”masa sih?? Serius?” ucapku agak heran. Hmmm.. bisa jadi karena aku lagi pucat.
”iyaa..” ucap ana lagi. Aku hanya tersenyum. Entah ini sanjungan atau apa. hehe.
”oh iya, mau menikah ani” ucapnya memberitahuku.
”oh ya? Kapan?” ucapku agak sedikit kaget dan senang.
”nanti tanggal 24. Ini saya mau ke soppeng. Nakiraki Ani lagi di luar. Nabilang mungkin evhy di luar nda di Makassar” ucap ana.
”ohh.. tidakji. Di Makassarja terus. Wahhh.. nada bisaka pulang. hhhmmm..” ucapku agak sedih karena tak bisa datang ke acara tersebut.Ani adalah temanku sejak SD hingga kuliah di tempat yang sama. Kami lumayan akrab. Tapi pas kuliah ia mengambil jurusan keperawatan sedang diriku teknik. Akibatnya kami jarang berkomunikasi walau kuliah di kampus yang sama.
”ihhh.. tawwa menikahmi. Bikin apa disini? Sama teman-temannya ya?” tanyaku
”Ohh.. iya, samaka teman-temanku. Mereka tadi nonton. Tapi sudahma nonton. Jadi saya datang untuk makan saja. kita iya sama siapa? bikin apa?” ucapnya.
”Oh. sendiri. mauja cari buku. hehe..” ucapku sambil melihat kearah teman-teman yang sedang asyik ngobrol. Mereka juga temanku walau kami tak dekat. kami adalah teman seangkatan di teknik. Mereka adalah teknik industri dan aku teknik elektro. Ana sendiri adalah sahabatku sejak SMA. Kami sering belajar bersama dan jalan bersama. Dulu saling mengunjungi ketika lebaran tiba. Namun beberapa tahun terakhir aku lost contact sama teman-teman (sahabat-sahabat) masa SMA. Alhamdulillah, hari ini di pertemukan oleh salah satu diantaranya.
”Eh, jalan-jalan ke kosanku. Saya satu kosan sama ani. Tapi ani maumi pindah jadi pindahma juga. Kosanku di belakangnya sedikit asal mula” ucap ana.
”ohhh.. begitu. Yayaya.. nanti Insya Allah kalau sempat ke sana” ucapku.
”iya nahhh..” ucap ana dilanjutkan dengan senyumnya yang menghangatkan hati. Aku pun tersenyum.
”Insya Allah. Oke pade nah.. Eh, minta nomorta dulu” ucapku sambil mengeluarkan HP dari tas kecil yang kugenggam dari tadi.
”oh iya.. nomorku masih yang dulu. Nda pernah berubah. ini.. 085xxxxxxxx” ucapnya.
”oke di save. Nanti biar bisa saya hubungiki” ucapku. Maaf nomornya tak ada di HPku karena tak sempat di backup dari HP sebelumnya. Maaf ya teman. Semoga engkau ta merasa kalau aku melupakanmu.
”oke deh..” ucapnya.
”Saya kesana dulu nah. Duluan…” ucapku pada ana dan teman-teman yang duduk tak jauh dari tempat percakapan kami. Mereka pun tersenyum melepas kepergianku. Saking senangnya, percakapan ini berlangsung sambil berdiri di antara meja-meja. Ketika percakapan, aku sempat melihat ke arah mereka. Seakan mereka membicarakan diriku. Dipikiranku seakan mereka tengah membicarakan perubahan penampilanku. Ya, hari ini aku berpakaian agak rapih dan lain dari biasanya. Jika sehari-harinya kemana-mana aku pakai jaket dan jilbab pasang, kali ini aku memakai gamis dan jilbab pasmina yang kubentuk seakan yang kupakai adalah jibab segi 4 yang dilipat jadi jilbab segitiga.

Aku pun berlalu pergi. Aku menuju ke toko buku kembali. Aku mengambil buku yang tadi kupegang. Aku berkeliling lagi.

Auuuuuuuuuu.. esssssttttt

Rasanya tambah sakit. Sepertinya aku tak tahan. Di samping adalah bioskop 21. Pasti ada WCnya, WCnya pasti ada sabun dan tissunya, gumamku. Aku sungguh tak tahan. Aku melangkahkan kaki perlahan menuju kesana. Untungnya tempatnya bersebelahan. Dengan pelan aku menuju toilet di bagian ujung di dalam bioskop.

sesampainya di toilet. Alhamdulillah fasilitas lengkap. Alhamdulillah sakit perutpun sedikit teratasi. Aku pun keluar dengan leganya. Sebelumnya terserang keringat dingin. Kini leganya, sungguh!

Aku lalu menuju ke tempat semula dan mengambil barang belanjaan kembali yang aku gantung tadi sebelum pergi. Aku sudah berniat untuk membayarnya namun aku menunggu kakak. Tiba-tiba telfon berdering.
”Dimana? saya tunggu di luar” ucap kakak lewat telfon.
”ah.. kenapa nda masuk? Saya tunggu di toko buku” ucapku.
”janganmi nda ada STNK. Disinimi saja bla bla” ucapnya. Nadanya agak emosi dan akupun kurang jelas sedikit.
”Adaji STNK di saya. Oke tungguma pade di situ. Dibagianmana ini kah?” rasanya suaraku baru saja agak kencang. Astagfirullah lagi di toko buku. Aku agak sedikit emosi. Ia belum menjawab dan sudah menutup telfon.

Segera aku menuju ke kasir untuk melakukan transaksi pembayaran buku. Wah, kebetulan sekali hari ini diskon 17%. Jika aku menunggu hingga hari kamis mungkin cuman dapat diskon 15%. Alhamdulillah. Diskon itu hanya berlaku khusus untuk hari ini.

Aku pun selesai melakukan transaksi di kasir. Kakiku mulai melangkah ke penitipan barang. Tiba-tiba telfon berdering. Ahhh… tunggu saja, gumamku. Aku pikir kakak yang menelfon lagi. Kuambil HP dalam tas, oh.. ternyata ayah.

“hallo ambo. Assalamualaikum. Kenapa?” ucapku.
”Nda bisaka pergi kesana. Kalau adaji yang jagai putra janganma pergi. Karena banyak ini mau di kerja disini” kurang lebih seperti ini yang dibilang sama ayah waktu itu. Aku terdiam. Aku sedang emosi karena kakak dan kini ayah lagi.
”kalau nda bisaki janganmi. Siapa yang bisa jagai putra. Janganmi.. “ ucapku pelan. Aku masih sadar ini masih di toko buku. Namum raut mukaku agak sedikit berubah.
”apa??” ucap ayah sepertinya tak mendengarku.
”Tutupmi saja telfonnya. Habis saja ji pulsata” ucapku.
”assalamualaikum” ucapku lagi dan telfon pun ditutup.

Astagfirullah. Rasanya aku baru saja memarahi ayah. Walau tak terdengar jelas olehnya dan semoga tidak. semoga hatinya tak terluka. Sungguh menyesal rasanya. Astagforullah.

Aku meninggalkan toko buku menuju ke pintu luar. Aku mencari-cari dimana kakak menungguku. Alhamdulillah.. aku pun bertemu juga dengannya. Rasa sedih dan marah terhadap diriku sendiri membuatku tak nafsu apa-apa.
“Mau minum?” kakak menawariku membeli minuman. Aku hanya menggeleng dan menuju ke motor yang sedang terparkir.

Kami pun melaju pulang. Aku sungguh sedih dan meratapi diri sendiri. Tanpa sadar bulir-bulir air mata jatuh. Aku menangis di belakang. Kakak memboncengku. Sebelumnya ia menawarkan padaku untuk membawa motor itu. Aku tak mau. Aku sedang sedih dan capek menunggu. Walau aku tahu tentu ia capek mengendarai motor dari rumah sampai sekarang. Maaf yaaa.. Maaf sekali. Tapi aku tak sanggup. Maaf juga bila tak sopan padamu kakak. Aku sedang kesal. Sedang kesal karena tak mampu menguasai emosi dan amarah.

Astagfirullah.. Aku pun menangis kala menulis kisah ini. Akhir kisah yang membuatku sungguh sangat menyesal. Maaf Ayah.. Maaf kak.. Semoga engkau memaafkanku. Aku sanyang sama kalian T_T

Alhamdulillahirabbil`alamin.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)