Berkunjung ke tempat kerja Ayah

Friday, December 12, 2014

Bismillahirrahmanirrahim.

love Allah“Mam besok boleh minta izin?” chatku pada mam er, teacher coordinatorku yang cantik, di BBM.
“ih.. jangan. Besok 2 kelasta” balas beliau.
Hmmm… aku berpikir sejenak.
“oke pade mam” balasku lagi.
”sipp mam. Thank you :* (emotikon yang cium itu lho)” balasnya.
Percakapan ini terjadi kemarin. Sesungguhnya agak berat untuk tak meminta izin hari ini.  Besok aku akan menjalani ujian final di tempat les bahasa korea. Aku harus belajar. Apalagi aku sudah tak datang selama 3 hari. hiks T_T

Aku harus merelakan hari ini tak belajar. Sebenarnya aku masih punya waktu untuk belajar dari pagi hingga siang hari. Namun, pagi itu ayah ingin aku mengantarnya pergi. Awalnya aku pikir, Ia mau pergi kerumah kakak. Jadi, ayahlah yang akan mengendarai motor. Aku pun di bonceng.

Kami pergi berdua. Aku agak cerewet dijalan. Terutama masalah penggunaan gigi motor.
”Ambo (panggilan kesayangan untuk ayahku), jangan pake gigi 3 kalau jalanan lagi jelek” ocehku pada ayah saat aku melihat display gigi yang ada. kami melewati jalanan yang tak rata. Aku sempat mengoceh ini beberapa kali. Mungkin sekitar 3 kali, habis ayah kurang mendengarkan. Sadar akan kesalahanku, aku pun berhenti mengoceh. Aku sadar bahwa ini salah. Biarkan saja apa yang ia lakukan. Ayah tahu kok caranya, bisikan hatiku berbicara.

Sesampainya di ujung jalan Tanjung Bunga, kami harusnya belok kanan di depan. Entah mengapa ayah masih saja di bagian kiri. Padahal aku sudah berkata untuk menyalakan weser ke kanan. Sedikit lagi kami akan melewati belokan itu. Sedikit geram, aku menyuruh ayah turun. Aku harus gantian dengan  ayah sampai disini.

Ayah pun turun. Ternyata, Ia ingin pergi ke jalan lain. Ia ingin mengunjungi teman lamanya, bukan ke rumah kakak yang ada di antang.
“Mau kemana?” tanyaku.
”Jl.Tinumbu” ucap ayah lirih.
”dimana itu?” tanyaku lagi.
”jl. Tinumbu” ucapnya lagi.
”iya, tapi dimana itu? lewat mana?” ucapku dengan nada sedikit jengkel.

Aku memang sedang bad mood hari. Aku harus mengajar namun kepekiran sama ujian esok. Sekarang harus mengantar ayah, ngga bisa belajar deh. Aduh, gimana ya? pikirku. Aku pun mengendarai motor. Entah di jalan mana. Kami lurus saja, belok kesana-kemari tak tahu arah. AKu sedikit kesal juga sama ayah. Ia memberikan jalanan yang salah. Sesungguhnya Ia tak tahu jalan. Ia hanya tahu alamat rumah yang ingin di kunjungi.

Walau aku sudah lama di sini, aku pun jarang memutari tempat ini. Aku jarang ke daerah ini. Sehingga aku pun tak tahu. Apalagi aku sempat menemui jalan yang hampir buntu. Untung saja masih ada belokannya.
“Bertanya dulu deh” ucapku dengan nada sedikit dongkol.
Ayah pun turun dari motor. Aku memarkir motor di depan sebuah rumah makan di ujung jalan.
“Pak dimana jalan tinumbu?” ucap ayah pada bapak-bapak yang sedang mengipas-ngipas ikan bakar.
”Jl.Tinumbu? oh, di sana. Dari sini belok kanan sampai lampu merah belok kiri. Lurus saja nanti dapat jalan tinumbu” ucap bapak itu sambil menunjukkan arah.
”terima kasih pak” ucapku dan ayah padanya.
Ayahpun kembali duduk di jok bagian belakang. Aku pun langsung pergi ke arah yang di tunjukkan oleh bapak tadi. Ke kanan, kekiri pas lampu merah, lalu lurusssss, dan akhirnya aku mendapatkan persimpangan jalan.
”Ambo, kiri atau kanan? di depan sudah jalan tinumbu” ucapku sebelum persimpangan di depan.
“hm. belok kiri saja” ucap ayah. Aku pun mengikuti perintahnya. Di tengah terik matahari yang menyengat, aku berusaha semangat. Kendaraan juga begitu padat kala melewati pasar. Aku terus maju mengikuti jalan raya.
Setelah pasar ternyata sudah jalan Panampu. Jalan tinumbu sudah lewat dan kami belum menemukan tempat yang di tuju.

Aku kesal. Air mata hampir saja jatuh. Bukan karena aku lelah. Tapi karena mengapa aku harus marah-marah pada ayah. Kenapa aku harus dongkol? mengapa nada bicaranya harus kesal padanya? kenapa? kenapa? “Ya Allah, ampunilah hambamu ini. Sungguh aku tak bermaksud. Ampunilah, yA Allah” doaku dalam hati. Kata-kata ini selalu aku ulang. Tapi masih belum berefek banyak.

Ayah turun dari motor. Ia bertanya lagi pada seorang tukang bentor. Mereka pun berbicara. AKu hanya tertunduk. Malu rasanya sama peerbuatanku ini. Mungkin aku kelealahan ditambah jengkel yang masih tersisa dan banyak pikiran. Ternyata kami harus berbalik arah. Kami harus melewati jalanan tadi dan lurus terus. Di persimpangan tadi harusnya belok kanan, bukan kiri T_T

Ketika mendapat sekolah yang ayah kenali, ayah menyuruhku belok kiri.
”Stop” ucapnya. Aku pun mengerem.
”hmm.. ini tempatnya” ucapku sambil melihat ke rumah itu. Rumah berwarna coklat yang nampak seperti rumah kosan.
”iya. ini” Ucap ayah. Ayah pun berjalan masuk. Aku memarkir motor diarea kosong di halaman rumah. Halamnya sungguh luas.

Ayah langsung menuju ke tempat beberapa orang berkumpul. Aku duduk di kursi-kursi kayu kecil di halaman itu. Ayah terlihat bahagia dan disambut oleh orang-orang itu. Rupanya mereka adalah teman-teman ayah. Mereka seperti bernostalgia. Silaturahim yang indah.

Aku mencoba membuka bukuku. Aku mempelajari pelajaran terakhir yang belum kupelajari akibat tak datang. Aku menanyakan beberapa kata kepada temanku lewat line. Alhamdulillah, kami sudah punya group line. Jadinya bisa komunikasi. Walaupun group line ini baru ada ketika kelas sudah berakhir, aku tetap senang. Alhamdulillah ^^

Emosi dan kejengkelanku pun mulai mereda. Apalagi ketika ayah mengajakku naik ke lantai 2. Ayah bertemu lagi dengan temannya yang lain. Mereka benar-benar terlihat bahagia berjumpa. Setelah sekian lama tak pernah berjumpa. Hatiku mulai merasa gembira kembali.

Bahagia sekali hari ini mengenal beberapa teman ayah. Berkunjung ke tempat ayah bekerja jaman dulu sebelum aku lahir. Melihat tempat dimana ayah menghabiskan sebagian hidupnya bersama ibu. 3 Kakakku juga pernah tinggal disini. Ya, di tempat inilah ayah hidup dan bekerja sebagai pembuat bahan untuk rokok gulung. Rokok yang terkenal di jaman dulu.

Kami duduk di lantai. Mereka membuatkan teh dan kopi. Ayah tak minum kopi lagi. Mungkin ia tak mau banyak merepotkan makanya ayah tak memberitahu mereka. Ayah pun meminum kopi itu. Sedang aku meminum teh yang disuguhkan. Tehnya terasa nikmat. Racikannya terasa pas dengan seleraku.

Aku menikmati teh itu. Ayah menikmati percakapannya dengan teman-temannya. Aku duduk dengan manisnya tanpa berkata-kata. Hanya bisa mengeluarkan senyum manis.

Ayah.. maafkan diriku hari ini. Aku tak bermaksud melakukan itu. Aku tak bermaksud marah. Aku sedang banyak pikiran. Maafkan aku ya. Maafkan hambaMu ini Ya Allah T_T

Astagfirullah..
Astagfirullah….
Astagfirullah……

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar, 11 Desember 2014

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)