Diva sayang, Sabar Ya..

Tuesday, December 09, 2014

BIsmillahirrahmanirrahim.

DivaSeem like every plan for today not running well. Hiksss T_T

Ceritanya hari ini aku mau ke kampus. Seperti biasa, Aku harus ikut les bahasa korea. Pekan lalu, aku tak ikut 2 kali. Ini gara-gara belum punya mantel hujan. Aku pun tak berani menerobos hujan. Apalagi anginnya lumayan kencang. Jika di paksakan bisa merugikan diri sendiri.

Diva kecil, kemenakanku yang masih berumur 3 bulan-an, sedang sakit. Demamnya naik turun sejak pekan lalu. Kali ini kami harus membawanya ke dokter. Awalnya aku tak mau ikut. Bisa jadi disana akan sangat lama menunggunya. Tapi aku tak tega juga membiarkan kakak pergi sendiri. Aku pun ikut bersamanya.

Kami pergi sekitar pukul 10 pagi. Hmm.. sesungguhnya dalam hati kakak agak kurang yakin masih bisa apa tidak. Pasien pagi rata-rata banyak. Jam 10 pagi bisa jadi sudah tak menerima tambahan pasien. Namun, kakak masih bersi keras untuk pergi. Seperti pengalaman sebelumnya, ia hanya terus menunggu. Sang dokter kasian juga melihatnya menunggu dari pagi, Ia pun mengijinkan kakak masuk. Jadi kakak selalu menjadi pasien yang terakhir.

Kali ini ia pun berharap sama. Siapa tahu saja, kejadian yang sama bisa terulang. Sesungguhnya keterlambatan ini bukalah salah kami. Taxi yang kami pesan lama datang. Setelah menunggu hampir 1 jam barulah ia datang. Kami pun akhirnya berangkat jam 10 pagi tadi.

Sesampainya di sana, aku langsung cepat-cepat menuju tempat pendaftaran. Yah, sudah tutup, ucapku dalam hati. Yah, mau gimana lagi. Kami hanya bisa bersabar menunggu peruntungan. Kami ingin beranjak dari tempat itu, namun apa boleh dikata hujan deras tiba-tiba mengguyur Makassar lagi pagi itu. Kami pun hanya bisa menunggu.

Aku sempat kesal. Masalahnya aku harus menunggu sampai jam 3 lagi. BUkan masalah menunggunya sih, tapi aku takkan sempat untuk mengikuti les korea. Hmm.. bagaimana ini? pikirku dalam hati. Aku pun mencoba menenangkan pikiranku. Aku hanya bisa mengirim pesan kepada 성생님-ku (guru bahasa korea). Mau tak mau, aku harus memilih kakak. Alhamdulillah, guruku pun mengerti. Sesungguhnya aku tak enak, karena ini kali ke-3 aku tak hadir di kelas. Tapi tak apalah, rejeki itu tak kemana. Allah swt. yang mengatur rejeki kita. Yang penting, aku sudah memberi kabar. Selanjutnya tersehar pada Allah swt.

Aku pun menikmati waktu ini. Karena tak bisa menunggu di tempat praktek, kami pun pergi ke Mari. Memang itulah rencananya, setelah ke dokter pagi ini kami akan pergi ke TimeZone-Mari. Kami ingin menukarkan tiket yang sebentar lagi expired. Kakak pun memanggil taxi menuju ke mari.

Sesampainya di sana, kami langsung ke mesjid untuk sholat. Mari adalah satu-satunya Mall yang memiliki mesjid. Kami sholat terlebih dahulu. Kepalaku mulai pening tapi aku masih sanggup menahannya. Aku tetap menikamti waktuku.

Usai sholat, kami segera menuju ke timezone. AKu menyerahkan kantongan berisi tiket yang akan di tukarkan.Karyawan disana pun menghitung tiket kami. Alhamdulillah, ada sekitar 7000-an tiket yang bisa kami tukar. Aku dan kakak mulai memilih-milih hadiahnya.

“Mba’, yang ember/container 1 ya” ucapku pada karyawan cewek yang ada di depanku sambil menunjuk barangnya.
”Mau warna apa mba’?” tanyanya setelah melihat ke arah kontainer itu.
”Warna biru mba” jawabku singkat. Ia pun pergi mengambil barang itu.
”Apa lagi mba?” ucapnya.
”hmmm.. yang lampu meja” ucapku. Kakak juga memilih-milih barang yang lain. Ia memilih mobil-mobilan dan mainan golf untuk anaknya.
”Mau warna apa?” tanyanya ketika mengeluarkan isi dalam dos.
“Yang itu mba’. Warna ungu” Aku menunjuk kepada barang yang ada di depanku.
“Mau di coba mba’?” Tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk.
”Apa lagi mba’? Tanyanya lagi sambil menunjukkan sisa tiket yang masih bisa di tukarkan.

Kami pun memilih banyak barang. Tinggal menunjuk saja hingga tiket kami habis. kami juga membawa pulang cetakan jelly, jepit rambut, gula-gula, ice cream, lap tangan yang digantung, dan celengan.

Usai menukarkan tiket, Aku dan kakak kembali ke dokter. Di sana sudah banyak pasien lagi. Kami mendapat antrian ke-17. Oke siiippp..

***

Pas magrib, kami baru saja tiba di rumah. Astagfirullah.. belum sholat ashar. Hikssssssss T_T. Aku pun langsung sholat magrib dan memohon ampun atas kelalaian ini.

Kepalaku sakit lagi. Kini sakitnya melebihi sebelumnya. Ayah memijatku seperti kemarin. Tapi kali ini tak mempan. Sakitnya masih terus terasa bahkan lebih sakit lagi. Aku tak tahan. Astagfirullah ya Allah… Innalillah.

Dengan segera aku mengambil bantal dan berbaring. Entah kapan aku tertidur. Rasanya tak bisa juga tidur atau mungkin aku sedang dalam dunia mimpi. Sedikit-sedikit rasanya mata ini terbuka lalu tertutup lagi.

Sekitar pukul 12 aku terbangun. Aku masih terbaring di tempat tidur. Aku harus segera bangkit. Aku belum menunaikan sholat Isya. Perlahan aku meninggal tempat tidur menuju kamar mandi. Di luar kamar terlihat kemenakanku masih terjaga bersama sang bunda. Ia belum tertidur.

Yang sabar ya Diva. Kamu harus kuat. Aku tahu sakit itu tak enak. Apalagi kamu masih kecil. Kamu tampak lemas sekali. Ya Allah.. berikanlah pertolonganMu untuknya T_T

Alhamdulillah, Aku kembali segar. Alhamdulillah, kepala tak lagi sepening tadi. Alhamdulillah ya Allah ^^

Alhamdulillahirabbil`alamin ^^

Makassar-Barombong 8-9 Desember 2014

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)