Kisah di Kantor Lurah

Tuesday, January 20, 2015

Bismillahirrahmanirrahim.

Aku tengah kurang kerjaan hari ini. Aku tak mengajar namun tetap ke kantor. Ini karena aku harus mengurus surat pindah kakak di kelurahan. Kebetulan kelurahan itu dekat dengan jalan masuk ke kawasan BTP. Ini sudah dekat dengan kantor.

Sebenarnya jika aku tak menemukan kantor lurah hari ini, aku takkan mengurusnya. Kemungkinan besar besok. Aku pun berangkat ke kantor sekitar pukul 9 pagi. Aku sudah berjanji untuk membantu teman kantor menyelesaikan kerjaannya hari ini. Aku berjanji akan datang lebih awal dari biasanya.

Sebelum memasuki pintu gerbang BTP, aku mulai melambatkan laju kendaraan motor. aku mulai memperhatikan kiriku. Aku baca keterangan setiap tempat dengan jelas. Hanya saja, aku tak kunjung menemukannya. Aku pun berhenti sejenak. “ini sudah di lampu merah. sudah harus belok ke BTP” ucapku dalam hati.

Huffttt.. “oke then! Besok saja urusnya” ucapku dalam hati.

Aku pun berbelok ke kanan kala lampu lalulintas sudah berpindah ke hijau. Aku sedikit membalap. Namun tiba-tiba aku berhenti. Aku pun memundurkan motor. Disana terlihat kantor lurah tamalanrea. Oke, mungkin ini tempatnya. Mari kita singgah.

Dengan perlahan aku memundurkan motor dan membaliknya. Kemudian masuk dan memarkin di area kantor kelurahan. Aku pun masuk.
”Pak, dimana urus surat pindah?”ucapku pada bapak yang berada di sebelah kanan dari pintu masuk.
”oh disini. duduk” ucapnya.
”Oh.. iya” ucapku.
”Mana KTPnya” kata bapak itu.
”Ini pak” ucapku sambil menyodorkan KTP di tanganku.

Ia pun mengambil sebuah lembaran formulir. Ia sempat bertanya tentang alamat. Aku pun langsung menyodorkan keterangan domisili di daerah barombong. Ia pun mengisi formulir itu. Kadang-kadang ia menerima terlfon. Aku pun harus menunggu hingga ia selesai berbicara. Entah apa yang ia bicarakan, hanya saja rasanya tentang pindah dinas.

Aku pun dengan sabar menunggu hingga ia selesai berbicara. Selesai bicara, Ia meletakkan HP yang di genggamnya. Ia kembali mengisi formulir surat pindah. Ia melengkapi semuanya, hingga akhirnya ia pun menyuruhku tandatangan.
“Oh ini salah kelurahan. Kelurahannya bukan disini tapi di BTN Antara. Untung saya belum tandatangan. Tapi samaji (read: sama saja) itu formulirnya. Langsung bawa ke Kecamatan. Semoga bisa langsung di proses. Kalau di minta tandatangan, ke kelurahan di BTN Antara. Tapi tidakji (read:tidak) itu” ucapnya sambil memberikan formulir itu padaku.

“Oh. Iye (read: iya) pak” ucapku sambil mengambil lembaran formulir itu.
“Terima kasih pak” ucapku sebelum keluar dari kantor kelurahan. Bapak itu hanya mengangguk.

Aku pun menuju ke kantor Kecematan sesuai instruksi bapak tadi. Aku memasuki area kator kecematan. letaknya hanya sekitar 5 meter dari kantor kelurahan tadi. Aku langusng menuju ke loket.
”Ibu, mau urus surat pindah” ucapku pada ibu-ibu di loket.
”Oh. Sistemnya lagi offline” ucap ibu itu.
”Hmm.. kapan kira-kira online lagi?”tanyaku.
”Kurang tahu juga” jawabnya.
”hmmm.. harus online ya? tidak bisa begitu sekarang di urusnya?”tanyaku lagi. Aku berpikir “apakah tidak ada jalur offline? Misalnya isi formulir gitu?”
“Lagi offline sistemnya. Memangnya pindah ke mana? Sudah ada formulirnya” ucap ibu itu.
”Ke Barombong. Ia ada” ucapku. Aku pun berdiri sejenak dan berpikir. Lalu berlalu pergi. Tiba-tiba berpikir kembali. Aku pun kembali ke loket.
”Ibu tadi formulir itu maksudnya dari kelurahan kan?” tanyaku.
”Iya” jawab ibu yang masih berdiri di loket itu sedari tadi. Seseorang di sampingnya hanya diam saja.

Aku berlalu pergi. Aku kepikiran dengan tanda tangan di formulir surat pindah di kelurahan. Aku pun menuju ke kantor lurah yang tepat. Aku mulai melaju menuju daerah BTN ANtara. Kala memasuki kawasan ini, aku mencari orang yang tepat untuk bertanya. Pilihanku jatuh pada tukang bemo yang tegah berdiri di pinggir jalan.
“Pak, dimana kantor lurah di sini?” tanyaku pada bapak itu yang tengah berdiri di samping bemonya.
”oh.. disana. Engg.. Dari sini, lurus di belokan itu. Teruuuuss.. sampai dapat SD belok kiri. Setelah itu belok kanan” ucapnya sambil menunjukkan arah.
”Oh.. Makasih Pak” ucapku tanpa lupa berterima kasih dan berlalu pergi.

Aku pun mengikuti arah yang ditunjukkan. Dalam hati masih timbul sedikit was-was. Jangan sampai aku tersesat. Dengan hati-hati aku mengendarai motor ini. Setelah 15 menit mencari, aku pun menemukan tempat yang dituju sesuai arahan bapak bemo tadi. Alhamdulillah..

Aku segera memarkir motor dan memasuki kantor kelurahan itu. Kali ini kantornya takkan salah lagi.
”Bu, mau urus surat pindah” ucapku pada ibu-ibu yang duduk di dekat pintu masuk.
”Ada surat keterangannya?” tanya ibu itu.
“Iya”ucapku sambil mengangguk.

Wanita di samping meja ibu itu meminta surat keterangan. Aku pun hanya menyerahkan formulir yang sudah diisi tadi dan KTP. Ia pun tinggal mengecek kesamaan data. Aku hanya duduk dan menunggu hingga urusan selesai. Terakhir, wanita itu memberikan formulir tadi kepada ibu tempatku bertanya pertama untuk meminta tanda tangan. Aku menyaksikan itu di depanku.

Semua selesai. Kini wanita itu menyerahkan dokumennya padaku. Aku pun mengambil dan memasukkannya ke dalam map. Ini agar dokumennya tidak lecet.
“Uang resgistrasinya 10.000,-“ kata ibu itu dengan suara tak ramah.
“oh” aku sedikit kaget dan heran. Aku pun mengeluarkan uang Rp. 10.000,- dan menyerahkan padanya. Ia mengambil uang itu dan memasukkan dalam laci mejanya. Ia pun sibuk dengan HPnya.
”Makasih” ucapku sambil sedikit menganggukkan kepala. aku pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedikit tak rela.

Aku terus bertanya-tanya dijalan
“Lho, memangnya ngurus surat pindah harus bayar?”
“Perasaan tadi bapak disana tidak minta apa-apa dan langsung menyuruhku ke kantor kecematan”
“berarti sebenarnya tak bayar kan? Aku harus kembali ke kantor kelurahan sebelumnya. Aku harus bertanya ke bapak itu.” ucapku dalam hati.

“Pak, kalau urus surat pindah harus bayar ya?” tanyaku langusng pada bapak itu kala memasuki kantor lurah yang pertama kudatangi.
“Ya.. paling biasa.. Berapakah diminta disana?”Ucapnya.
”Tidakji pak. Saya cuma mau tau dibayar apa tidak?” Ucapku.
”Ya.. paling 20.000,- atau 10.000,- biaya registrasi. Tergantung… Berapakah diminta disana?” ucapnya dengan sedikit tak enak mengucapkannya. Ini benar-benar pertanda bahwa sesungguhnya kita tak bayar apa-apa.

“Makasih pak” ucapku dan berlalu pergi. Aku pun dengan perasaan kesal. Aku benar-benar kesal. Aku benar-benar tak ikhla menyerahkan uangku pada mereka. “Apakah mereka itu pengemis? Hello.. dia itu sudah PNS, punya gaji, apalagi punya jabatan, oh… benar-benar deh. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus melaporkan ini. Ehhhhhhhh… sungguh kesal” Aku terus mengulang kata-kata ini. Entah berapa kali.

Keselllllllllll… asli keselnya. Aku sungguh merasa tersholimi. “Ya Allah.. semoga ….”
”Ya Allah, Semoga hamab bisa lulus S2 ke Korea tahun ini, Tahun 2015. Amin” ucapku dalam hati.

Astagfirullah…. Air mataku pun menetes sejenak.
Huhhhhh… Aku menghela nafas sebentar. Aku mencoba menenangkan diri kala di kantor. Aku memasuki ruangan gelap. Disana aku mengelurakan uneg-uneg dalam hati. Marahku berbuah air mata.

Astagfirullah…

Alhamdulillahirabbil`alamin.

Makassar, 19 Januari 2015

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)