Menerjang Hujan

Friday, January 23, 2015

Bismillahirrahmanirrahim.

Aku segera pulang ke rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku pulang bersama mam Erny, teacher koordinatorku. Ia ingin diantar pulang.

Aku pun mulai meninggalkan kator dan menuju ke tujuan pertama. Tujuan pertama kami adalah rumah Mam Erny. Baru setengah perjalanan, hujan turun. Aku pun langsung meminggirkan motor dan membuka jok. Di jok motor jas hujanku berada.

Denga sigap, aku berusaha memakai matel hujan itu dengan cepat. Namun apa daya, lenganku yang masih sakit membuatku sedikit lambat. Sakit lengan ini akibat terjatuh kemarin malam.
”mam maafkan lama. Tidak apa-apa jaki (read: tidak apa-apa mam)?” ucapku.
”Tidakji (tidak apa-apa)” ucapnya. Akhirnya selesai juga aku memasang tameng pelindung hujan itu.

Hujan semakin lebat.
”Mam, maaf ya. Agak lambat jalannya. Saya kurang bisa melihat” Ucapku pada mam erny yang duduk di belakangku.
”Tidak apa-apa mam” ucapnya. Aku sungguh tak enak. Aku memakai mantel hujan sendiri. Mantel hujanku adalah mantel untuk 1 orang yang terdiri dari atasan dan bawahan.
”Mam, Maaf. Boleh hari ini saya tidak antar sampai rumah?” ucapku.
”Apa mam?” tanya mam erny. Rupanya suaraku teredam karena suara hujan. Aku pun mengulang ucapanku hingga 3 kali.
”Oh iya, tidak apa-apa” ucapnya.

Aku benar-benar tak enak padanya. Ia memintaku untuk mengantarkannya hingga ke rumah. Namun apa daya, hujan yang lebat menghalangi pandanganku. Aku tak sanggup membelok ke arah sebelah. Akhirnya dengan perasaan yang kurang enak, mam erny kuturunkan di tempat penyeberangannya.

Aku pun berlalu pergi. Hujan semaki lebat. Pandanganku sedikit kabur. Aku pun melambatkan laju motor. Jalan juga sebagian kebanjiran. Aku terus melaju dan menerjang arus hujan.

“Aku harus sampai di rumah” ucapku dalam hati. “Ya Allah.. Lahaulawalakuwwataillabillah.. Atagfirullah..” Kalimat ini terus terucap. Kilat dan suara petir juga menemani lebatnya hujan. Aku tak berhenti mengingat Allah swt. Bisa saja malaikat maut datang tiba-tiba.

Kenekatanku kali ini adalah karena aku percaya oleh Allah swt. Aku berserah diri padaNya. Apapun yang terjadi ditengah perjalananku ini, itulah takdirku. Ya Allah.. Astagfirullah..

Walau badai menerjang, angin kencang menerpa, hujan membasahi tubuh, air menggenang di jalan-jalan raya, gemuruh terdengar, kilat bersinar, aku tetap ingin pulang ke rumah. Aku sungguh gigih menerjang hujan.

Alhamdulillah.. Aku sampai di rumah dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah..

Alhamdulillahirabbil`alamin ^^

Makassar, 22 Januari 2015

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)