Tentang Impian

Sunday, November 22, 2015

Bismillahirrahmanirrahim.

Setiap kali membaca facebook, ada saja informasi yang dapat dipetik. Banyak kenangan, semangat, perasaan, dan perjuangan seorang manusia tercurah didalamnya. Walau saya tak selalu membuka dan membaca semuanya. Tak mungkin juga kubaca semuanya, terlalu banyak diri ini tak sanggup. Cukup yang perlu dan penting saja menurutku.

Mata ini tertuju pada status dari official account Asma nadia. Lagi-lagi sebentar lagi novel barunya akan difilmkan dan ditayangkan. Wahh… DAEBAKKKKK… Rasanya iri melihatnya. Mau juga.. tapi daripada munggunakan kata iri, lebih baik diubah saja menjadi kagum. Ya! Kata KAGUM lebih tepat menggambarkan perasaan ini. Jika iri, hanya akan berdampak negatif. Sedang yang timbul adalah motivasi. Motivasi yang menggali kembali mimpi yang telah lama bersemayan namun tak bergerak sama sekali.

Mimpi ini timbul dan tenggelam. Saat membaca status itu. Ia seakan memberikan sinyal padaku. Ia seakan bertanya “Wahai kamu, apakah engkau masih mengingatku? apakah engkau masih menginginkanku?” Pikiran ini mulai mencari dari mana datangnya suara itu. YUP! itu dari lubuk hatiku. Menjadi penulis adalah salah satu impianku. Namun, impian itu sesekali timbul dan membuat jemari ini mulai menari-nari diatas keyboard laptop. Impian itu juga kadang embuat jemari ini menari-nari diatas kertas. Ia mulai bercerita, menuangkan pemikirannya di salah satu buku rahasia miliknya. BUku yang ia yakini akan berguna. Buku yang dalam pikirannya akan ia wariskan ke anaknya.

Mimpi ini pun tenggelam, bukan cuman sesekali. Tapi, seiring waktu dan kesibukan yang tak tentu. Ia terlupakan begitu saja seperti terbawa angin dan tak terkejar lagi olehku. Saya bahkan tak mampu melihatnya lagi. Saya selalu berharap, ia tak lagi terbawa oleh angin. Berharap ia kokoh tegak di benakku sambil menemani gerakan-gerakan kecil untuk menggapainya. Kadan pikiran ini mulai berhayal. Namun, seketika itu juga buyar.

“Apakah engkau hanya menginginkannya dalam lamunan saja? atau maukan engkau mewujudkannya dalam kehidupan nyata?” tanya diriku.
”Tentu aku menginginkannya di kehidupan yang nyata. Semua orang tentu menginginkan mimpinya terwujud. Jika bisa, segera terwujud. Begitu pun diriku” jawabku.
“Lalu, mengapa kau tak melakukan sesuatu?” tanyanya lagi. “Mengapa hanya lamunan yang bisa kau lakukan? apakah itu bisa mewujudkan impianmu? Jika ya, aku mendukungmu. Lakukanlah sebanyak mungkin. JIka tidak, berhentilah sampai disini. Carilah jalan yang lain” lanjutnya lagi.

Saya pun mulai berpikir. Segudang cerita yang kadang kulamunkan tak mampu kutuang. Tak ada satupun yang mampu tertuliskan. Saya pun mulai menuliskan isi hatiku. Menuliskan apa yang kupikirkan ketika itu juga. Tak banyak. Tak banyak yang mampu kutuliskan. Yang ada hanyalah hati yang tengah berbicara pada diriku sendiri. Hati yang menemukan motivasinya. Hati yang kadang gundah. Hati yang tergerak. Hati yang mendapatkan kembali mimpi yang lama terkubur. Semua mengalir begitu saja. Rasanya kadang tak nyambung.

“Kapan ya? Kapan diri ini bisa menulis sebuah buku?” tanyaku pada diriku sendiri.
”Jika engkau terus bertanya, takkan pernah ada jawaban yang pasti. Apalagi jika sekarang engkau tak melakukan apa-apa dan memulainya” ucap diri ini.
“IYa, aku tahu. Diri ini harus berbuat sesuatu” ucapku.

Saya diam sejenak. Berpikir sambil menengadahkan kepala ini ke atas. Ku pejamkan mata ini. Berpikirlah wahai diriku.
Tata kembali waktu 
Tata impianmu lebih nyata dan real.
Lakukanlah sesuatu…
Follow your heart…

…………….Bersambung………..

Makassar, 22 Nov 2015

You Might Also Like

3 komentar

  1. Go Go Go Evi.

    Hm, kalo buku masih dirasa berat. Jangan mi buku dulu. Blog mi saja dulu.
    Btw, postinganku terakhir yg ttg cincin pernikahan itu "postingan pesanan", juga beberapa postingan yang sebelumnya.

    Salah satu asyiknya ngeblog, sesekali kita mengerjakan postingan pesanan sembari menyalurkan passion kita sendiri. Terasa bekerja tetapi tidak bekerja. Rasanya seperti bersenang-senang tetapi bekerja juga, walaupun freelance. Ttp bekerja itu, kan. Menulis tidak bisa disebut pekerjaan ringan, tetap butuh pemikiran.

    Yah, alhamdulillah ..... menyenangkan.
    Jadi, blognya dirawat terus. Minimal seminggu sekali diisi. Biar besok2 bisa jadi freelancer melalui blog. Banyak, lho teman2 blogger, ibu2 bekerja yang nge-freelance melalui blog ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak.. Siippp..
      Betul sekali.. Menulis benar-benar butuh pemikiran yang keras. Tak asal dan harus berdasarkan hati serta pengetahuan. Menambah wawasan sungguh sangat penting dalam menulis.

      Iya nih.. Mulai dari blog dulu :) yang penting reguler yaa postingnya.. :)

      Oh iya, terima kasih sudah bersedia membaca dan mengomentari 3 tulisan terakhir :)

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)