We are like Family

Thursday, December 17, 2015

Bismillahirrahmanirrahim.

Subuh itu saya masih terjaga. Semalaman ini menjaga anak sepupuku yang kecelakaan. Ia jatuh dari motor akibat terserempet sebuah mobil. Hanya itu yang kutau. Maklum, saya kurang kepo. Saya hanya ingin membantu saja tanpa harus mengorek-ngorek informasi lebih dalam.

“Pergi tidur dulu..” ucap tante-tante yang menghampiriku. “Tidur disana nda apa-apa” ucapnya.
”IYa..” ucapku sambil memberikan senyuman lebar. Setelah senyumanku itu. Ia pun berlalu pergi. Seperti kesal terhadapku karena saya belum juga ingain tidur. Padahal menurutnya, tak apa tidur sebentar. Terima kasih sudah sangat perhatian padaku. Saya tak tahu bagaimana penampilanku waktu itu. Yang jelas, saya masih harus menunggu hingga datang penggantiku. Kala itu hanya diriku yang bisa menjaganya semalam suntuk. Oleh karenanya, saya tetap harus semangat menjaga.

Sebanarnya, sesekali saya juga merasakan kantuk. Sesekali mata ini terpejam. Yup! saya merasakannya. Entah terpejam beberapa menit lalu bangkit lagi. Tak banyak yang perlu kulakukan. Cukup mengkipas saudariku yang terbaring itu dan memperhatikan cairan infus. Cukup itu saja. Walau begitu, saya tetep harus terjaga karena memang kodisi kamar panas. Saya harus tetep mengipasnya.

Saya duduk di kursi plastik warna hijau. Disanalah sesekali mata ini sayup-sayup menyala. Saya berhenti sejenak untuk meluruskan badan di kursi itu. terpejam, lalu bangun lagi. Sambil mengipas, saya juga membaca. Untung saya membawa buku bacaan yang dapat menemaniku sepanjang malam. sesekali pula, saya harus pindah haluan untuk mengkipas. Pasti tidurnya tak terlalu nyaman. Kamar yang pengap dan kepalanya yang sakit akaibat benturan. Yang sabar ya… cantik.

Telfon berdering. Entah dari siapa. Tak ada namanya.

“Hallo.. Assalamualaikum” ucapku.
”Halo.. eh, evhy.. mamanya resky sudah di makassar” ucap seorang laki-laki di telfon. Oh! Dia adalah ayahnya resky, pasien yang kujaga saat ini.
”Iye. Belumpi sampai di sini” ucapku.
”Oh iya.” ucapnya lalu menutup telfon.
Tak lama kemudian, telfon berdering lagi.
”Sudah ada mamanya resky di rumah sakit?” tanya bapak itu kembali.
”oh..” saya melihat ke arah pintu. seseorang baru datang.
“iya.. sudah sampai. Sudah ada disini” ucapku kala melihat ibunya resky berada di ambang pintu dan bersiap untuk masuk bersama tas bawaanya.
Saya pun melambaikan tangan.
“oke pade. terima kasih nah..” ucapnya.
”Iya.. sama-sama” ucapku. Telfon pun ditutup.

Kini ibu resky sudah berada di sampingku. Ia pun menaruh barangnya di lantai dekat bangsal. Ia langsung mengelus kepala anaknya dan mengajaknya berbicara.
”Nak, ini mama. Bagaimana keadaannya?” Tanya sang ibu pada anaknya yang terbaring lemas. Di pipinya ada bekas luka tergores. Lumayan parah. Di bagian kepala juga ada benjolan. Sang ibu terus saja mengelus kepala sang anak.
”Pusing..” jawab sang anak singkat. Tubuhnya masih lemas. Ia belum makan apa-apa sejak kemarin. Jika sesuatu masuk ke tubuhnya akan langsung ia muntahkan. Bahkan setiap kali ia meminum air putih, sekitar 10 – 15 menit kemudian akan ia muntahkan kembali.

Ya.. Allah.. beginilah jika sakit. Engkau mengangkat nikmat kesehatan, nikmat makan, dan semoga Engkau mengangkat pula dosa-dosanya seperti yang Engkau janjikan kepada orang yang sakit. Aamiin.

Kini saya sudah bisa bernafas lega sedikit. Sudah bisa merebahkan badan, tapi tunggu nanti-nanti. Rasanya tak bisa tidur ditempat seperti ini.
“Sudah tidur?” seorang bapak bertanya padaku. Ia masih saudara dengan tante-tante tadi.
”IYa.. sedikit” ucapku.
“Belumpi itu” kata tante-tante tadi sambil sedikit kesal, karena tak mengindahkan ajakannya sebelumnya. Saya hanya bisa tersenyum. Rasa lelah sedikit menyerang dan kantuk mulai terasa. Saya menggelar sarung untuk membaringkan badanku sementara.

“Bangun-bangun. Masa jam segini masih tidur” terdengar suara bapak-bapak berteriak. Itu mengagetkanku. Yahh.. baru juga merebahkan badan. Rombongan dokter datang untuk check pasien pagi ini. Saya agak kesal gara-gara suaranya sangat besar dan bikin kaget. “Ini bapak ngga tau ya kalau ini rumah sakit” geramku dalam hati. Jadinya saya pun harus segera bangkit.

Usai pemeriksaan pasien satu persatu. Para penjaga pasien mengunjungi pasien lain. Wah!!!!!! Saya melihat keajaiban. Rasanya kami tak pernah bertemu dan kenal sebelumnya. Tapi disini terasa kami sudah kenal lama. Kami saling bercengkrama. Bertanya kabar, saling peduli satu sama lain. Bahkan kami masih sempat bercanda satu sama lain walau kami baru berbicara beberapa detik yang lalu. Sungguh keindahan ukhuwah yang luar biasa. Baru kali ini saya menemukannya. Kami tak merasa sendiri. Seakan kami semua adalah keluarga. Keluarga jauh yang baru saja dipertemukan. MasyaAllah… Keren yaa.. orang-orang di kamar ini. Terutama tante-tante tadi yang sangat peduli padaku. Terima kasih atas kepedulian dan perhatiannya ^^

Alhamdulillahirabbil`alamin.

RS.Wahidin LONTARA 3, Kamar 4 - Makassar

17 Desember 2015 (5 Rabi al-awwal 1437 H)

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)