Karena Berbagi itu Menyenangkan

Thursday, March 02, 2017

Bismillahirrahmanirrahim

Malam itu saya berdiri di depan sebuah rumah makan. Di kiri saya adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar rumah makan tersebut. Kala itu saya menengok ke arah kanan. Mata saya terus mencari-cari sosok orang-orang yang akan saya temui. Seketika saya menengok ke arah kiri. Terlihat beberapa orang yang masuk. Kemudian ada lagi yang keluar. Kadang dua hingga tiga orang masuk bersamaan selanjutnya satu hingga serombongan orang keluar dari pintu. Pertanda tempat ini cukup ramai pengunjung.

Dahi ini makin lama makin mengkerut. Saya pun mulai menggerak-gerakkan badan dan kaki sambil menekan tombol call dilayar HP. Mata ini terus melihat ke arah kanan masih mencari-cari orang-orang tersebut. Dalam hati pun saya berkata “Duh.. kenapa lama sekali?”. Sesekali saya menghela nafas panjang, mengsilangkan kaki, dan menelfon kembali jika tak di angkat.
Dari kejauhan saya sudah menemukan sosok yang dicari-cari. Mereka menuju tempat parkir yang jaraknya sekitar lima meter ke kanan dari tempat saya berdiri. Saya pun membalik badan dan menunggu mereka di depan pintu. Huftt… Dahi ini kembali berkerut.

“Kenapa biar di parkiran lama?” kata saya dalam hati. Saya benar-benar dongkol harus menunggu sekitar 30 menit. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakak saya kali ini. Ingin rasanya saya berteriak “LAMAAAANYA…” tapi apa daya saya hanya seorang adik yang mencoba menyenangkan hati kakaknya malam itu. Saya kembali menekan tombol call di HP. Kali ini kakak mengangkatnya.
“Hallo. Kakak dimana maki?” kata saya dengan logat khas Makassar.
“Di parkiran” ucapnya.

“Saya di depan pintu mi nah. Ke sini maki” kata saya lagi lalu menutup telfon.
Hmm.. tapi akhirnya saya bilang juga “Kenapa lama sekali?” ketika salah seorang kakak saya sudah menghapiri di depan pintu. Dia hanya berkata “Putra (nama kemenakan saya) singga berwudhu dulu di parkiran” sambil tersenyum. Hati saya pun luluh ketika mendengar ucapan itu.

Akhirnya, saya dan empat orang lainnya yang terdiri dari dua kakak dan dua kemenakan saya berkumpul di depan pintu. Kami pun masuk melalui pintu dan langsung belok ke kiri. Lalu berjalan lurus sekitar empat meter. Kami melewati beberapa deretan kursi di sebelah kanan dan kiri.

Ketika melewati sederetan kursi di lantai satu. Terdengar suara-suara tawa. Sesekali terdengar suara percakapan orang-orang yang berkumpul di kursi-kursi itu namun hanya terdengar samar. Setelah melewati sederetan kursi, kami pun belok kiri menuju tangga sekitar dua meter. Setelah itu belok kanan menaiki tangga pertama. Lalu belok kanan lagi menaiki tangga kedua. Taraa.. sampailah kita di lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, kami berusaha mencari tempat terbaik untuk duduk bersama. Sementara itu, kemenakan saya lari kesana-kemari memutari deretan sofa hijau yang tertata rapih di bagian tengah. Sementara ada beberapa kursi juga di sebelah kiri dan kanan yang berjarak sekitar satu meter dari kursi hijau itu. Deretan sofa itu berjumlah sekitar enam meja persegi panjang dengan 2 sofa panjang di bagian panjang meja dan dua sofa pendek di masing-masing meja yang di tata layaknya meja makan. Ukurannya sesuai dengan panjang dan lebar meja.

Kami pun memutuskan untuk memilih sofa urutan keempat. Tidak ada yang special dari pemilihan ini. Langsung saja saya duduk di tempat itu dan kakak saya hanya mengikutinya. Kemenakan saya masih saja tak bisa tenang. Sesekali ia menuju duduk di sofa panjang di depan saya atau duduk di sofa meja lain.

Oh iya, sebelumnya saya berkata bahwa malam ini saya ingin menyenangkan hati kakak-kakak saya. Jadi, saya dan kakak-kakak saya Alhamdulillah memiliki kebiasaan saling berbagi satu sama lain dalam hal rejeki. Jika salah seorang diantara kami memiliki rejeki lebih maka kami pun akan saling berbagi. Entah itu makan bersama di rumah atau di luar, ke pantai, bermain bersama di pusat permainan bersama kemenakan-kemenakan saya, atau sekedar berkumpun bersama dirumah sambil nonton dan makan makanan ringan. Bagi kami, bukan masalah berapa banyak yang dapat kami bagi namun lebih kepada keinginan untuk berbagi. Jadi sebenarnya dimanapun tempat berkumpul kami takkan pernah menjadi masalah. Berkumpul bersama sambil berbincang-bincang tentang kehidupan sehari-hari adalah salah satu rahmat tiada tara dari-Nya.

Akhir pekan kali ini pun menjadi salah satu momen berbagi kami. Selang 20 menit kemudian kakak saya yang ketiga pun datang bersama sang suami. Setelah mereka duduk, kami pun memesan makanan. Raut mukanya agak cerah dan dia nampak bahagia malam itu. Ternyata mereka berdua baru saja mengunjungi gerai HP. Sebuah smartphone baru kini berada di tangannya.

“Cieee.. Ciee.. HP Baru” ucap kakak saya yang duduk di sofa kecil samping kanan saya. Saya juga ikut-ikutan mengucapkan hal yang sama untuk menggoda kakak ketiga saya yang duduk di samping kiri saya. Ia pun menyerahkan HP baru kepada saya.

Seperti biasa, ketika ada HP baru kami akan langsung mencoba kamera yang ada. Saya dan kakak –kakak berfoto bersama. Tak lupa juga untuk selfie-selfie bersama. Sementara kemenakan saya masih saja berlarian kesana kemari. Kadang kami mencarinya sesekali.

Selang lima belas menit, makanan pun datang. Aroma makanan membuat perut saya berbunyi. Kami pun langsung melahap hidangan pizza yang sudah berada di atas meja ditemani dengan alunan lagu. Alunan lagu itu berasal dari lantai satu bercampur dengan suara-suara cekikikan sesekali dari enam orang yang duduk di kursi sebelah kiri kami.

Canda dan tawa malam itu pun sangat saya nikmati. Untung saja kelakuan berebut makanan tidak keluar. Kadang jika ada makanan kami akan saling berebut. Hehehe.. begitulah sedikit kisah dari saya dan sebagian kecil kelakuan jika berkumpul.

Saya sangat bersyukur atas kesempatan berbagi malam itu. Walau hanya sebagian keluarga yang berkumpul, paling tidak kekosongan dan kerinduan hati ini perlahan terisi kembali. Senyum kembali mengembang dan pikiran dapat kembali bekerja dengan lapang. Terima kasih atas nikmat yang tiada tara ini. Semoga kita bisa menikmati saat seperti ini dilain waktu. Intinya! Selalu bersyukur atas apa yang Allah swt. berikan karena Dia mencintai orang-orang yang bersyukur.
Satu lagi, jangan lupa berbagi rejeki khususnya kepada keluarga. Karena keluarga salah satu harta yang sangat berharga selain teman yang baik. Smile 

Alhamdulillahirabbil`alamin
Makassar-BTP, 2 Maret 2017

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)