Bagaimana Tunanetra belajar di Sekolah?

Thursday, April 27, 2017

Bismillahirrahmanirrahim

“Belajar adalah hak setiap orang” -evhykamaluddin

Punya keluarga, sahabat, teman, tetangga, atau kenalan yang tunanetra? Jika kalian kenal dengan seorang tunanetra, cobalah untuk memperhatikan sejenak apa saja yang dapat dilakukan olehnya dan bagaimana ia melakukannya? Namun sebelum merambah jauh tentang semua itu, kita harus membangun kesepahaman tentang tunanetra.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia tunanetra berarti tidak dapat melihat atau buta. Namun tunanetra sendiri sebenarnya bukan hanya orang buta tetapi orang yang mengalami gangguan terhadap alat penglihatan sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Kelainan pada fungsi mata memiliki jenjang tersendiri dari yang ringan hingga yang berat. Adapun tingkatan tunanetra adalah sebagai berikut:
  1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision) adalah mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
  2. Tunanetra setengah berat (partially sighted) adalah mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.
  3. Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.

 Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tunanetra sendiri belum tentu buta tetapi orang buta sudah pasti tunanetra.

Bagaimana tunanetra belajar?

Jika ditinjau dari intelektual yang dimiliki, seorang tunanetra umumnya memiliki tingkat intelektual yang sama seperti seorang dengan penglihatan normal kecuali terdapat penyakit tambahan seperti gangguang fungsi otak ataupun organ lainnya. Jadi ada anak tunanetra yang pintar, cukup pintar, dan kurang pintar. Intelegensi yang dimiliki pun lengkap seperti kemampuan berbicara, menganalisis, berbaur, bersosialisasi, belajar, dan sebagainya. Mereka pun memilki perasaan seperti manusia pada umumnya yakni perasaan bahagia, sedih, marah, kecewa, gelisah, senang, dan sebagainya.

Oleh karena itu, seorang tunanetra masih dapat mengikuti jenjang pendidikan seperti anak pada umumnya bergantung penanganan yang diberikan. Sebenarnya penanganan pertama dalam hal peningkatan pendidikan pada anak tunanetra adalah bagaimana seorang anak menerima keadaan dirinya kemudian diterima oleh keluarganya sehingga timbul rasa percaya diri untuk menjalani hidup. Setelah timbulnya rasa percaya diri akan ada dorongan untuk belajar dan mengasah kemampuan untuk hidup yang lebih baik. Selanjutnya tinggal mengkonsultasikan keinginannya kepada pihak sekolah.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah yayasan pendidikan tunanetra di Makassar. Nama yayasannya adalah YAPTI (Yayasan Pendidikan Tunanetra Indonesia). Di sana saya mengunjungi kelas-kelas yang ada dan sedikit berbincang-bincang dengan guru dan murid-muridnya. Di yayasan ini terdapat kurang lebih 40 orang peserta didik tunanetra mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA.

Ada fakta menarik saya ketahui tentang jumlah siswa yang ada di sekolah ini. Menurut salah seorang guru Sejarah di sana, mengajar seorang siswa(i) tunanetra seperti mengajar sepuluh orang di sekolah umum. Oleh karenanya, lima orang adalah jumlah yang dianggap banyak. Pantas saja ketika memasuki kelas-kelas yang ada hanya terdapat dua hingga tiga orang saja di dalam kelas karena jumlah maksimal siswa dalam satu kelas hanyalah lima orang saja. Ini dikarenakan diperlukan perhatian khusus agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.

Dari segi usia, belajar di sekolah adalah hak siapa saja selama memiliki keinginan untuk belajar. Seperti kata pepatah, tidak ada kata terlambat untuk sekolah. Misalnya saja Agustinus, seorang laki-laki tunanetra yang berusia 24 tahun yang saat ini duduk di bangku SD kelas 6. Ia mengalami tunanetra ketika kelas tiga sekolah dasar akibat jatuh, namun barulah tiga tahun lalu ia melanjutkan sekolah kembali. Ini dikarenakan orang tuanya baru memasukkan dirinya di sekolah tersebut.

Dalam dunia pendidikan tunanetra, pembelajaran tidak dilakukan dengan menggunakan papan tulis namun lebih kepada mendeskripsikan sesuatu. Hal ini dikarenakan tunanetra lebih banyak memanfaatkan indra lain khususnya pendengaran dan indra peraba. Indra peraba disini yakni tangan ataupun kaki yang digunakan oleh tunanetra untuk mengenali benda-benda dari sentuhan tangan/kaki.

Untuk pembelajaran di sekolah sendiri, ada beberapa alat bantu yang digunakan agar tunanetra lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran. Alat bantu tersebut bergantung pada fungsinya. Ada alat bantu peraga, alat bantu tulis, alat bantu cetak, alat bantu optik, dan alat bantu pendengaran. Alat bantu peraga dapat berupa alat bantu yang dapat diamati dengan diraba atau dilengkapi dengan suara. Misalnya saja peta timbul yang dapat disentuh, ketika disentuh terdengar suara menyebutkan nama daerahnya.

Untuk alat bantu tulis dapat digunakan alat menulis Braille. Alat bantu cetak terdapat mesin ketik Braille ataupun printer Braille. Untuk alat bantu optik digunakan kaca pembesar ataupun kacamata dengan lensa pembesar namun ini hanya dapat digunakan bagi low vision atau anak tunanetra sebagian. Sedangkan alat bantu pendengaran dapat berupa talking book (buku yang berbicara), CD, dan kaset.

Oh iya, untuk dapat melanjutkan proses pembelajaran utamanya dijenjang awal seorang tunanetra harus dapat membaca dan menulis. Karena penglihatan yang terganggu, seorang tunanetra tentu sulit mengenali huruf-huruf biasa (huruf awas/alfabet) seperti A, B, C ,D, dan seterusnya. Untuk memudahkan tunanetra mengenal huruf agar dapat membaca dan menulis, diciptakanlah huruf khusus yakni huruf Braille. Huruf Braille ini merupakan sistem penulisan sentuh berupa titik-titik timbul yang mewakili huruf/karakter tertentu.

Beberapa simbol Braille yang mewakili beberapa karakter

Alat bantu untuk menulis huruf Braille
Seiring dengan berkembangnya teknologi, saat ini para tunanetra dapat menggunakan alat elektronik seperti laptop, komputer, dan hape. Dengan bantuan aplikasi pembaca layar, tunanetra dapat menggunakan barang elektronik tersebut sebagai alat bantu dalam proses belajar. Aplikasi ini dapat membaca tulisan yang ada di layar elektronik. Selain itu, jika kita menekan tombol keyboard atau tombol-tombol huruf yang ada di hape maka akan diubah menjadi suara. Contohnya, ketika kita menekan tombol “A” maka akan terdengar suara “A” versi Bahasa Indonesia.

“Laptop dan hape dengan aplikasi pembaca layar sangat membantu sekali dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah” ungkap Risya, mahasiswi tunanetra jurusan Sastra Bahasa Indonesia Universitas Hasanuddin ketika diwawancarai via facebook. Hal ini juga diakui oleh seorang guru Bahasa Indonesia di YAPTI bahwa penggunaan teknologi ini cukup membantu, tentunya bagi orang-orang yang mampu memilki alat elektronik tersebut. Misalnya dalam menganalisa teks sastra yang tersedia, tinggal di foto lalu aplikasi pembaca layar akan membaca teks yang ada dalam foto.

Namun tetap saja penggunaan teknologi ini tidak dapat menggantikan huruf Braille. “Huruf Braille adalah ciri khas seorang tunanetra. Jika ada tunanetra yang tidak bisa membaca huruf Braille sama saja dengan buta huruf” tegas Pak Kandacong, guru Bahasa Indonesia di YAPTI yang juga seorang tunanetra. Oleh karenanya, pembelajaran membaca dan menulis menggunakan Braille tidak dapat ditinggalkan meskipun dengan perkembangan teknologi yang ada.

Selain pembelajaran di dalam kelas, ada juga kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa mereka lakukan. Seperti kegiatan di Mushollah yakni kegiatan pengajian bulanan, hafalan Al-Qur'an, dan Qiro’ah. Kegiatan lain adalah pelatihan Braille, komputer, belajar musik, olahraga judo, dan lain sebagianya. Di YAPTI sendiri, para tunanetra sering mengikuti lomba-lomba baik lomba umum maupun lomba khusus untuk disabilitas.

“Di sini sering mengikuti lomba, bahkan lombanya bukan lagi tingkat daerah tapi tingkat nasional” tutur Ilham seorang siswa tingkat SMA kelas 1 sekaligus ketua OSIS di YAPTI. Adapun lomba-lomba yang pernah diikuti seperti lomba judo, lomba nyanyi, lomba lari, lomba catur, lomba band tingkat Sulawesi Selatan dan masih banyak yang lainnya. Berdasarkan penuturan sang ketua OSIS, juara tertinggi yang pernah diraih untuk lomba nasional adalah medali perak seperti lomba judo dan lari.

Hal ini membuktikan bahwa tunanetra memang dapat menjalani berbagai aktifitas dalam keterbatasan penglihatannya meskipun dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda. Oleh karenanya, seyogianya dalam kehidupan sosial bernegara sepatutnya kita saling menghargai dan membantu satu sama lain. Kita seharusnya tidak memandang sinis seorang tunanetra. Karena sesunguhnya tunanetra bukanlah sebuah penyakit, itu hanyalah gangguan fungsi mata yang menyebabkan seorang tak mampu menggunakan penglihatan dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Saya jadi teringat sebuah artikel yang ditulis oleh seorang tunanetra yang belajar di sekolah inklusif*. Berdasarkan pengalaman Ria seorang gadis tunanetra yang masuk ke sekolah inklusif tingkat SMA, kesuksesan pendidikan seorang tunanetra bergantung pada dorongan dan bantuan orang-orang yang ada di sekitarnya baik secara moril, akses, maupun penerimaan dirinya dengan tangan terbuka tanpa adanya diskriminasi di lingkungan sekolahnya. Dorongan (support) dan bantuan yang kuat serta telaten dari orang tua, guru, masyarakat, dan teman-teman di sekolah akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kesuksesan sang tunanetra di berbagai bidang.

Jadi, yuk kita sama-sama mendukung saudara-saudari kita yang tunanetra dengan tidak memandang remeh kemampuan mereka. Mari perlakukan mereka layaknya manusia ingin di Mari sama-sama membangun Indonesia dengan terus belajar tingkatkan ilmu pengetahuan, syukuri apa yang ada, dan menereapkan ilmu pengetahuan kita untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan sampai kitalah orang buta yang sebenarnya sesuai dengan sebuah kalimat dalam terminologi buta berdasarkan rekomendasi dari The White House Conference on Child Health and Education di Amerika (1930), “Seseorang dikatakan buta jika tidak dapat mempergunakan penglihatannya untuk kepentingan pendidikannya” (Patton, 1991).

* Pendidikan inklusif adalah pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah reguler dalam satu kesatuan yang sistemik. Dalam bahasa sederhananya, sekolah inklusif ini merupakan satu sekolah untuk semua.

Referensi:
  1. Corn & Koenig. (1996). Foundation of Low Vision: Clinical and Functional Persfectives. New York: American Foundation for the Blind Press.
  2. Jamila K.A, Muhammad. (2008). Anak-Anak yang Bermasalah. Bandung: Mizan.
  3. Sumiyati Yeti. (2014). Makalah Bimbingan dan Pendidikan Anak Tunanetra, [Online]. Tersedia: http://www.academia.edu. [06 Maret 2015].
  4. Andriani, Ria. (2018). Pahit Manis Menjalani Pendidikan di Sekolah Inklusif, [Online]. Tersedia: http://pertuni.idp-europe.org/pengumuman/Hasil_Lomba_2008.php. [03 Agustus 2018]. Pemenang Lomba Mengarang Pertuni 2008 dengan tema : Akses Tunanetra ke Lembaga Pendidikan Umum dalam Setting Pendidikan Inklusif. 
  5. Sumber gambar dari: www.google.com 

Alhamdulillahirabbil`alamin
Makassar-Shelter, 27 April 2017

You Might Also Like

2 komentar

  1. wahhh luar biasaa evhy sekolahnya mereka yaa,.. sayang nya saya tidak ikutan waktu kalian kesana, dari tulisan evhy saja sudah takjub luar biasa.. pantas skali lah mmg kita bersyukur terus tidak mengeluh2 saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak qiahh.. luar biasa sekali kak.. motivasinya mereka untuk tetap belajar sangat inspiratif :) sukaa :)

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)