Menilik Satu Dekade Rumah Baca Philosophia bersama kak Syahril

Friday, April 07, 2017

Bismillahirrahmanirrahim

Dulu perspektif saya tentang perpustakaan adalah tempat yang lumayan membosankan. Sekarang tak lagi, walau saya sangat jarang menginjakkan kaki di sana. Akhir-akhir ini saya mendengar istilah rumah baca? Apakah ini sejenis perpustakaan, saya agak penasaran seperti apakah rumah baca itu?


Oleh karenanya, saya pun segera berselancar di dunia maya dan mencari rumah baca yang ada di Makassar. Di halaman pertama muncul Rumah Baca Philosophia. Dengan cepatnya saya mencari kontak yang bisa dihubungi. Alhamdulillah bisa diperoleh dengan mudah di fanpage facebook Rumah Baca Philosophia. 

Pukul 7.30 malam, saya pun sudah berada di depan rumah baca itu. Ekspektasi saya tentang sebuah rumah baca adalah sebuah gedung yang besar dengan buku-buku yang tersusun rapih di rak-rak buku layaknya di perpustakaan. Ketika saya sampai, pikiran ini tiba-tiba nge-blank dan berdiri diam sejenak menatap tempatnya. Ini ya tempatnya? Hmm.. iya ini. Itu ada tulisannya gumam saya dalam hati.

Saya terkejut dan tak menyangka bahwa rumah baca ini adalah sebuah rumah kecil di Jalan Todopuli XI no.4 Makassar. Agak masuk lorong dari Jalan Todopuli Raya Makassar.Tinggi ruangannya kira-kira dua meter dari langit-langit rumah saya juga tak sempat mengukurnya. Luasnya kira-kira seperti rumah tipe-36. Pintunya berada di tengah. Di bagian depan, rumah ini diberikan pagar besi. Kala itu malam hari jadi warna rumah tampak tak jelas terlihat, jika tak salah ingat warna rumahnya adalah kuning. 

Ketika memasuki rumah itu, saya sedikit canggung karena tempatnya terasa begitu sempit. Terlihat buku-buku tersusun di rak-rak yang berjejer di sebelah kanan. Ada juga di depan dan di belakang saya tepat di samping pintu masuk. Ada satu ruangan lagi di sebelah kiri yang berisi buku juga. Di sana tak ada kursi. Hanya ada karpet merah yang menghiasi ruangan. Di sanalah saya dipersilakan duduk. Ada juga sebuah komputer putih yang berada di samping saya. 

Kini di depan saya duduk seorang kontributor aktif di rumah baca ini. Namanya Kak Syahril biasa dipanggil Kak Calli. Beliau mulai aktif di sini pada tahun 2010 ketika rumah baca ini pindah ke Jalan Todopuli. Awalnya rumah baca ini berada di Jalan Tamalanrea dekat Kampus Unhas dan lebih dikenal dengan nama Kafe Baca.

Berbincang bersama kak Syahril di Rumah Baca Philosophia
Berdasarkan penuturan beliau, rumah baca ini sudah hadir selama satu dekade di tahun 2017 ini. Ketika pertama kali di bentuk, rumah baca ini bertujuan untuk mewadahi mahasiswa-mahasiswa himpunan dengan menghadirkan buku-buku bacaan wajib bagi pengurus lembaga mahasiswa. Buku bacaan wajib tersebut seperti buku-buku kajian politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Kafe baca pun didirikan sebagai wadah untuk menampung buku-buku dan membuat tempat baca sambil dapat menikmati hidangan yang ada. Hidangan yang disiapkan sebenarnya bukan inti dari Kafe Baca. Penghasilannya digunakan untuk menunjang penambahan buku-buku baru ke depannya. Seiring berjalannya waktu, kafe baca ini pun tak mampu lagi menahan beban biaya kafe yang harga sewa tempatnya semakin lama semakin meningkat sehingga dipindahkan lah ke rumah salah seorang pendiri. 

Sekarang buku-buku yang tersedia di sana cukup beragam. Ada buku untuk anak-anak hingga dewasa. Bukunya sudah mencakup semua kalangan karena sudah mulai mengarah kepada perpustakaan publik dimana sebuah perpustakaan publik diharuskan menyediakan semua jenis buku.Walau demikian, buku-buku ekonomi karena para pendirinya merupakan alumni fakultas ekonomi. Ada juga buku sosial politik dan filsafat yang masih mendominasi. Di sana kita masih dapat menemukan buku-buku jadul alias buku tua yang mungkin sudah mengalami banyak revisi di cetak terbarunya. Tapi tak ada salahnya dibaca jika memang ingin tahun ilmu pengetahuan di tahun 1980-an. 

Selain membaca buku, di sini juga ada kajian-kajian khusus setiap hari senin. Untuk sementara bukunya itu buku ekonomi, judulnya bisa dilihat di fanpagenya. Tahun lalu juga ada kelas bahasa inggris dimana pengajarnya dari salah seorang anggota rumah baca. Nah, ke depannya akan diadakan diskusi tentang tokoh ekonomi yang akan diadakan setiap hari jumat. Tak heran jika pesertanya adalah mahasiswa ekonomi semua. 

"Oh iya kak, kan sekarang bedah bukunya lebih kepada topik ekonomi. Kalau misalnya bedah buku seperti novel dan lainnya itu ada tidak?" tanya saya penasaran. 

"Untuk bedah buku karya sastra itu tidak pernah. Sebenarnya bukan tidak mau sih tapi tidak ada teman-teman yang mau memulai. Sementara di sini kan rata-rata anak ekonomi jadi bukan pembaca karya sastra. Kita bacaji tapi hanya sekedar membaca saja tidak di dalami" ucapnya.

"Oh jadi fasilitatornya yang kurang di' " kata saya nyeletup.

"iya, seandainya ada mungkin kita bisa adakan" ucapnya lagi. 

Menurut kak syahril yang juga merupakan dosen ekonomi di STIE Nobel "sebenarnya kami tidak menutup ruang lingkup rumah baca dengan hanya membicarakan tentang ekonomi saja. Kami sangat terbuka dengan berbagai topik. Hanya saja kembali ke teman-teman dan kurangnya tenaga yang bisa menfasilitasi topik lainnya. Jika ada yang ingin berdiskusi tentang topik lain dan bisa menfasilitasinya kami siap bekerja sama dan menerimanya dengan tangan terbuka." Ini merujuk kepada visi dari rumah baca ini untuk menjadikan rumah baca selain sebagai perpustakaan juga dapat digunakan sebagai tempat pertukaran ilmu pengetahuan seperti diskusi dan semacamnya.

Salah satu hal menarik adalah rumah baca ini sering dikunjungi anak-anak dan warga sekitar. Kata kak syahril biasanya ibu-ibu mengantar anaknya ke rumah baca dan mereka pun juga ikut untuk membaca. Walau ada juga yang sekedar melihat-lihat saja. 

"Kalau ibu-ibu di sini biasanya baca buku apa kak?" tanya saya.

"Untuk ibu-ibu muda biasanya saya lihat mereka baca karya sastra kayak novel, tapi kalau orang tua biasanya baca buku pendidikan untuk anak atau buku agama yang ada hubungannya dengan mendidik anak" ucapnya sambil memegang sebuah buku bersampul merah dengan kotak kuning dibagian depan. Saya pun selalu memperhatikan dengan seksama sambil sesekali mengangguk-angguk sambil berguman "emm" atau berkata "oh" atau "iya" ketika beliau menjawab pertanyaan.

"Kalau misalkan yang anak-anak itu bukunya bagaimana? kalau untuk SD, TK" tanya saya lagi lebih antusias. 

"Kalau buka anak-anak ada komik, buku kecil-kecil membuat karya apa sih judulnya itu. yang anak-anak kecil membuat tulisan terus di satukan. Itu semua anak-anak suka. Satu hari mereka pinjam besoknya selesai pinjam lagi. Mereka yang bisa kasi penuh di sini. Cuman kendalanya buku-bukunya anak-anak sedikit."

"Oh jadi anak-anak di sini suka membaca tinggi minat bacanya di'" ucap saya.

"Nah, tapi sekarang agak kurang anak-anak yang datang karena mungkin bosan bukunya itu-itu terus" ucapnya tetap dengan memegang buku yang sama. Sesekali beliau mengubah posisi duduk dari bersilah atau melekuk lututnya keatas. 

"Kak tidak pernah sebelumnya kayak minta buku begitu?" tanya teman yang duduk di sebelah kanan saya. "Kayak sumbangan buku?" tanya kak syahril. "iya"

"Kita selalu sih di fanpagenya dan kita sampaikan kalau menerima sumbangan. Selama ini lumayan banyak sumbangan, ada juga biasa tetangga di sini dia sumbang buku-buku yang tidak dia baca. Kita berusaha untuk sebarkan kalau menerima sumbangan buku. Karena ini murni sama sekali tidak ada pendapatannya. Sementara salah satu indikator perpustakaan adalah penambahan buku." ujarnya.

Buku-buku di sini sudah di sortir. Apalagi buku-buku dengan pembahasannya sedikit fulgar sudah dikeluarkan dan diberikan kepada orang lain. Jadi jangan khawatir jika anak-anak membaca buku di sini. Karena akan ada yang mengawasi dan bukunya sudah di pisahkan yang mana khusus untuk anak-anak. Tempat ini akan terbuka dari pukul sepuluh pagi sampai sebelas malam. Namun, kadang-kadang menyesuaikan dengan waktu luang para pengurusnya karean rata-rata mereka harus bekerja menunaikan kewajiban di tempat kerja masing-masing. 

Penataan Buku di Rumah Baca Philosophia
Oh iya, beberapa waktu lalu saya mengikuti sosialisasi perpustakaan. Salah satu pembicaranya mengatakan bahwa minat baca di Indonesia sebenarnya tinggi hanya saja mereka tidak menemukan buku yang pas untuk dibaca. Karena kebanyakan orang beranggapan bahwa buku-buku di perpustakaan itu buku-buku berat (dalam hal ini isi dan pembahasannya). Saya pun menanyakan tanggapannya tentang hal ini kepada beliau. 

"Sebenarnya saya harus mengakui bahwa kalau orang luar memandang rumah baca memang selalu di sini dianggap buku-buku yang ada memang buku-buku yang berat. Itu pandangannya orang dan memang faktanya begitu. Sebenarnya kita bukan mau dipandang seperti itu, cuman kebetulan memang yang ada peminatnya ya cuma buku-buku itu. Karena kan sebenarnya buku yang di sini tidak semua buku berat. Ada juga karya sastra dan ada juga buku anak-anak. Cuman kondisinya memang, dulu banyak orang-orang yang senang buku-buku sosial dan rata-rata sebelumnya kebanyakan mahasiswa yang ada di sini jadi ya.. untuk memenuhi kebutuhannya mereka ya banyak buku-buku begini. Makanya kita tidak kayak yang lain. Seperti ada di Tamalanrea, itu ada kata kerja, perpustakaannya itu lebih spesifik karya sastra semua seperti puisi, novel. Di sini kita usahakan beragam bukan hanya karya sastra, politik juga bisa. Jadi kita membayangkan dulu jika ada teman-teman S1, S2, atau S3 mau tesis atau disertasi, kita maunya di sini jadi rujukan. Ada disediakan di sini. Jadi selain buku-buku di sini, ada juga perpustakaan digital. Ada koleksi lumayan banyak e-book disitu" ucapnya sambil menunjuk ke komputer. Saya berbalik sejenak lalu melihat ke arah beliau kembali. 

Nah, sebenarnya berbagai kegiatan di rumah baca sudah dicoba namun memang pengunjung yang ada masih belum dapat menandingi pengunjung bioskop apalagi mall. Masih banyak hal yang dilakukan oleh Rumah Baca selama beberapa tahun terakhir. Jangan lupa untuk mengunjungi tulisan selanjutnya tentang satu dekade Rumah Baca Philosophia part kedua yang akan membahas tentang arti philosophia, mengapa diberi nama philosophia, suka duka rumah baca, dan mengapa rak bukunya sampai dibuat seperti itu serta kegiatan lainnya yang di lakukan oleh Rumah Baca Philosophia. Jangan sampai ketinggalan.

Yuk.. tetap membaca, menulis, menyumbang buku, atau sekedar berkunjung dan membaca di rumah baca. Tunjukkan aksimu apapun itu untuk mendukung gerakan gemar membaca tanah air Indonesia. Mulai dari diri kita, semoga bisa menjadi contoh yang baik untuk teman dan orang-orang sekeliling kita. Semangat!!

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,
6 - 7 April 2017

You Might Also Like

1 komentar

  1. kelebihan rumah baca ini dibandingkan perpustkaan lainnya apa?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)