Pesan Tere Liye di Sosialisasi Perpustakaan Bersama Sastrawan

Monday, April 10, 2017

Bismillahirrahmanirrahim



Siapa yang tak kenal Tere Liye? Beliau adalah salah satu sastrawan Indonesia yang puluhan bukunya sudah diterbitkan. Karya-karyanya cukup dikenal dan banyak diminati oleh banyak kalangan, salah satunya teman-teman saya di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Kelas Menulis Kepo. Wajar saja jika beliau di undang sebagai salah satu pembicara dalam acara Sosialisasi Perpustakaan Bersama Sastrawaan yang di adakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sulawesi Selatan. Acara ini diadakan di Hotel Sahid Makassar pada tanggal 30 Maret 2017 lalu.

Walaupun saya bukan penggemar buku-buku sastra milik Tere Liye namun dapat hadir di acara ini merupakan suatu kehormatan tersendiri. Apalagi mendapatkan beberapa informasi menarik terkait perkembangan perpustakaan di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. Acara ini juga dihadiri oleh masyarakat dari berbagai komunitas dan pustakawan. Dalam acara dengan tema "Wujudkan Generasi Literasi", Mas Darwis alias Tere Liye memberikan beberapa informasi untuk para generasi yang menyebut dirinya penulis ataupun yang ingin menjadi penulis. 

1. Minat Baca Warga Indonesia 

Beliau sangat senang sekali ketika Bapak Muh. Syarif Bando Kepala Perpustakaan Nasional RI mengatakan bahwa "Tidak boleh pustakawan di Indonesia mengatakan bahwa minat baca warga Indonesia rendah". Mengapa? 

"Jika minat baca warga Indonesia rendah, suram nasib penulis pak" ujarnya sambil melihat ke arah pak Syarif yang duduk tepat di samping kiri beliau sambil menunjukkan wajah berkerut seakan mengeluh. 

Beliau pun melanjutkan bahwa andai saja hari ini kebiasaan membaca warga Indonesia naik 20% maka beliau menjamin bahwa penulis di Indonesia cukup kaya. Namun pada kenyataannya banyak penulis yang bukunya dicetak susah payah menjual cetakan pertamanya. Mengapa? Simak terus hingga akhir ya.

2. Literasi

Dalam pemaparannya, beliau bertanya Apakah hanya dengan bisa membaca dan menulis cukup disebut literasi? Jika literasi ini hanya sebatas kepandaian membaca maka harus diketahui bahwa di Indonesia 98,9% warganya bisa membaca dan lebih baik dibandingkan dengan negara-negara seperti di Afrika bahkan Indonesia lebih baik dari Malaysia. Berdasarkan presentasi beliau, literasi bukan hanya sekedar bisa membaca namun seberapa banyak buku yang dibaca setahun terakhir? 

Nah, ini kembali lagi pada minat baca seseorang. Tere Liye selalu optimis bahwa minat baca di Indoesia selalu baik. Ia berusaha untuk tetap positif dalam hal tersebut. Ia pun melanjutkan presentasinya dengan sebuah pertanyaan Mengapa peradaban dunia bisa sangat maju? Itu dikarenakan adanya metode untuk mengajarkan sesuatu kepada generasi berikutnya yang disebut dengan literasi. Kini pengertian literasi tidak hanya sebatas buku namun sudah berkembang luas hingga ke gadget.

Dari Paling Kiri: Tere Liye , Kepala Perpustakaan Nasional dan para pembicara yang lain
Selain itu, literasi ini juga berhubungan dengan moralitas kejujuran. Orang yang literasinya tinggi tidak akan mudah menyebarkan berita hoax. Itu dikarenakan mereka memiliki filter terhadap informasi yang disebarkan. Beliau juga menegaskan bahwa kunci literasi adalah "buku". Buku dalam tanda kutip karena makna buku sudah sangat berkembang seperti yang dijelaskan sebelumnya.

3. Sebuah Sajak dari Tere Liye

Bacalah 10 buku maka kita akan tiba-tiba merasa sok tahu atau merasa paling pintar
Bacalah 50 buku maka sok tahunya akan mulai berkurang
Bacalah 100 buku maka sok tahunya mulai semakin berkurang
Bacalah 500 buku bacalah 1000 buku maka saat itulah kita sadar bahwa yang kita ketahui bukanlah apa-apa

Sajak Lengkap Tere Liye - Bacalah 1000 Buku
4. Apakah Gadget Mengancam Literasi?

Tere Liye sering bergurau mengatakan bahwa Hari ini sebenarnya Indonesia belum pernah memasuki periode literasi yang begitu luar biasa hebat. Beliau juga mengatakan bahwasanya manusia modern minimal menulis 1000 kata setiap hari. Ini bisa dibuktikan seberapa kali mereka menulis di facebook, twitter, whatsup, dan sosial media lainnya. Pada dasarnya manusia modern di Indonesia sudah menulis 1000 kata perhari, hanya saja kita menulis di media sosial. Seandainya dipindahkan ke hal yang lebih produktif dan menarik maka kita semua bisa menjadi penulis. 

Kita semua adalah pembaca hari ini. Misalnya detik.com pengunjungnya puluhan juta per hari. Tidak ada buku yang laku 1000 eksemplar per hari. Berita kecil-kecil saja bahkan bisa menjadi viral melalui gadget. Nah, mobile atau gadget ini bisa jadi justru menjadi solusi masa depan literasi jika digunakan dengan baik dan benar.

5. Mengapa Literasi Kita Rendah?

Perlu disadari bahwa semua orang bertanggung jawab atas rendahnya literasi di Indonesia. Yang pertama adalah penulis. Apakah penulis kita sudah produktif? Apakah penulis sudah memberikan alternatif bacaan yang baik bagi para pembacanya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi hal yang menarik menyangkut rendahnya literasi dan juga berpengaruh pada hasil penjualan sebuah buku. Berdasarkan penuturan beliau, di Indonesia sedikit sekali penulis yang membuat satu buku dalam satu tahun. Beberapa penulis produktif yang dulu terkenal juga sudah tak produktif lagi dengan beberapa alasan. Itulah yang menjadi tanggung jawab penulis terhadap literasi.

Yang kedua adalah pemerintah. Apakah pemerintah pernah memberikan insentif bagi penulis buku? Sedikit bocoran rahasia dari Mas Tere Liye adalah jangan mau jadi penulis. Karena pada kenyataannya, pajak penulis adalah pajak penghasilan yang paling mahal di seluruh Indonesia. Profesi seperti dokter, arsitek, insinyur, pengacara, dan lain sebagainya pajaknya hanya setengah dari pajak penulis. Jika kalian mencari tahu berapa pajak penghasilan profesi dokter maka pajak penghasilan seorang penulis adalah dua kali lipat dari pajak penghasilan seorang dokter.


Para Peserta Sosialisai
Beliau juga minta maaf sebelum melontarkan pernyataannya bahwa "penulis adalah profesi yang tidak pernah dibantu oleh pemerintah. Ada sih, ada bantuannya tapi sedikit sekali dibandingkan UMKM." Fakta yang ada dimana UMKM pajaknya hanya 1 % dari penghasilan nilai bruto per tahun, sedangkan penulis pajaknya 30% dari peredaran bruto per tahun. Industri-industri entertaiment seperti layar tancap tidak akan dikenakan pajak sedangkan buku tetap bayar pajak PPN. Itulah fakta yang terjadi. 

Oleh karenanya, jangan heran jika buku-buku yang ada agak mahal termasuk bukunya bang Tere. Namun jika ingin buku beliau secara gratis bisa baca lewat facebooknya. Disana dibagi-bagiakan secara gratis ungkap beliau lewat pernyataannya. "Jika ingin buku-buku saya gratis silahkan baca di facebook saya. Gratis kan? Kalau mau beli bukunya mahal!" Ucap beliau sambil memegang mikrofon di tangannya.

Yang ketiga adalah komunitas dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Apakah kalian sudah mengambil bagian yang betul-betul tahan banting? "Jika kalian bergerak mendirikan komunitas baca, sudah saatnya kalian berdiri gagah dan hadapilah kenyataannya bahwa orang-orang memang tidak peduli dengan kita. Misalnya saja saya membuat Gerakan Membaca 1000 Buku Anak Indonesia. Saya mengirimkan banyak buku dari ujung ke ujung Indonesia. Apakah ada yang me-recognize? Tidak ada. Coba bandingkan dengan penghargaan artis atau film" ujar bang Tere. 

Ini adalah fakta lain tentang dunia penulisan dimana penghargaan untuk sebuah buku memang terpinggirkan. Jadi jika memang ingin membuat sebuah komunitas baca, berdirilah dengan gagah. Walau hanya punya sepuluh buku, tetaplah lakukan dan dirikan perpustakaan baca. "Insya Allah dengan sendirinya akan ada jalannya" kata bang Tere. Yang penting adalah komitmen yang tahan banting tadi. 

Yang keempat adalah keluarga, sekolah, dan guru. Apakah sejak awal sudah membiasakan anak-anak membaca? Apakah aktifitas membaca sudah menyenangkan bagi anak? Apakah gurunya juga membaca? Jangan sampai seperti kasus orang tua yang menyuruh anaknya sholat di Mesjid tapi dia sendiri tidak sholat. Jangan sampai guru menyuruh "Anak-anak bacalah buku" namun gurunya tidak membaca. 

Selanjutnya adalah toko buku, diskon ada atau tidak? dan yang paling penting adalah perpustakaan. Jumlah pustakawan utama di Indonesia menurut penuturan Kepala Perpustakaan Nasional RI adalah sepuluh dan tidak banyak yang mengapresiasinya. Ini adalah realita tentang literasi. Menurut bang Tere perkembangan literasi di Indonesia mungkin membutuhkan waktu kurang lebih lima puluh tahun lagi. Ketika waktu itu datang, Indonesia akan mendapatkan manfaat yang sangat luar biasa utamanya bagi orang-orang yang bergerak di bidang penulisan.

6. Tips bagaimana caranya menulis produktif?

Dalam acara ini, bang Tere hanya memberikan wejangan singkat yakni dibutuhkan Niat yang baik dan komitment untuk terus menulis. So, bagi teman-teman yang ingin menjadi penulis produktif tanyakan pada diri sendiri Sudahkan kita memiliki niat yang baik? Sudahkah kita berkomitmen terhadap niat tersebut?

Mengikuti kegitan ini selama kurang lebih satu jam membuat saya sungguh sadar bahwa betapa pentingnya literasi dalam kehidupan kita. Apajadinya jika kita tak dapat menikmati buku-buku berkualitas? Apajadinya jika generasi kita kurang membaca dan kurang pengetahuan? Kita tentu punya jawaban dan perspektif masing-masing. 

Saat generasi muda menganggap bahwa membawa buku dan duduk membaca buku adalah hal yang sangat-sangat keren se-keren melihat artis korea mungkin. Saat itulah generasi literal hadir di Indonesia.
- Tere Liye -


Alhamdulillahirabbil`alamin
Makassar-Barombong,
9 April 2017






You Might Also Like

2 komentar

  1. wuahhh ini yg saya mau hadir tapi sudah full undangannya hiks.. makasih kak evhy sharing2nya lewat post blog ini . keren !

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama kak qiah.. sepertinya saya ditakdirkan untuk ikut acara ini :)

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)