Selasa, 15 Januari 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim
Foto bersama netizen MPR-RI
Cerita ini adalah lanjutan dari Keseruan Deklarasi Netizen MPR-RI hari ke-2. Dari deklarasi hingga ke eksplorasi Ibu Kota, itulah judul perjalanan kali ini. Nah dalam kegiatan gathering ini, kami tak hanya di pertemukan dan merumuskan sebuah neklarasi netizen namun diberi hadiah untuk mengeksplore beberapa tempat di Jakarta.

Seperti judulnya, dari gedung MPR kami langsung beranjak ke Museum Macam. Saya tidak begitu menikmati melihat pemandangan ibu Kota, bukan karena tak suka, tapi rasanya saya sempat tertidur atau tak sadar sudah sampai di suatu tempat. Kini kami berada di tepat di depan sebuah gedung dan itulah pemberhentian kami.
Bersama delegasi Makassar
“Eh, kita ke sini? Ini di mana? Kok kayak Mall? Bukannya kita mau ke museum?” ucap diri ini kepada salah satu delegasi dari Makassar yang duduk di samping saya di bus. Pertanyaan ini tiba-tiba saja saat sampai di sebuah gedung pemberhentian pertama.

“Iya  kak, kita sudah sampai di museum macan” ucapnya sambil memperlihatkan foto-foto yang ada di salah satu sosial media.

“Oh ini ya, yang banyak orang foto-foto di ruangan serba bulat-bulat yang ada cerminnya juga. Yang bola-bola motif bulat-buat itu. Saya pernah lihat foto teman di situ” ucap saya lagi. “Keren ya, ternyata ini tempatnya” lanjut saya lagi.

Saya tentu sangat kaget melihat kenyataan bahwa gedung museum ini bukanlah seperti yang ada bayangan saya. Dari dulu entah terpartri selalu bahwa museum itu adalah gedung tua yang isinya memamerkan tentang sesuatu dan ini museum macan ya mungkin memamerkan tentang jenis-jenis macan atau mungkin binatang lainnya. Hahahahha dasar kurang gaul..
Guidenya menjelasakan dulu sebelum kita masuk area pameran
Ternyata kata MACAN dalam Museum MACAN ini adalah kepanjangan Modern and Contemporary Art in Nusantara. Nah, karya-karya yang dipamerkan di sini memiliki jangka waktu tertentu. Jadi tidak selamanya akan dipamerkan. Beberapa waktu lalu yang dipamerkan adalah yang saya sebutkan dalam percakapan di atas, karya dengan tema bulat-bulat.

Untuk kali ini, museum art ini menghadirkan tiga karya seniman lainnya yakni Arahmaiani dari Indonesia, Lee Mingwei dari Taiwan, dan On Kawara asal Jepang. Ketiga seniman ini memamerkan karya yang ada hubungannya dengan waktu.
Berfoto diantara karya seni Arahmaiani
Arahmaiani dengan tema “The Past has not Passed, Masa Lalu Belumlah Berlalu”, Lee Mingwei memiliki tema “Seven Stories, Tujuh Kisah”, dan On Kawara sendiri dengan tema “One Million Years (Reading).” Pameran karya seni mereka berlangsung dari tanggal 17 November 2018 – 10 Maret 2019. Kira-kira setiap empat bulan, karya di museum ini akan berganti. Oleh karena itu, jangan kahawatir akan bosan berkunjung ke sini.

Salah satu karya yang paling saya senangi dari Arahmaiani adalah Masa Lalu Belumlah berlalu. Hal ini menceritakan tentang budaya yang masih terbawa dari masa penjajahan Belanda. Salah satunya adalah Rokok. Di sini kamu akan melihat video yang ditayangkan dan setelah kalian melihatnya, kalian dengan sendirinya akan memahami masa lalu yang sesungguhnya masih ada di waktu sekarang. Saya akan memberikan sedikit bocoran tentang karya-karya Arahmaiani lainnya adalah Performance History (1980 – sekarang), 11 June 2002 (2003), Nation for Sale (1996), Flag Project (2006-2010), Do Not Prevent the Fertility of The Mind (1997 – 2014 – 2018), I Love You (After Josheph Beuys Social Sclupture)(2009).
Ini salah satu karya Arahmaiani
Do not Prevent the Fertility of the Mind Project by Arahmaiani
Lee Mingwei menghadirkan tujuh karya sesuai dengan temanya, yakni The Mending Project (2009/2018), The Dining Project (1997/2018), Guernica in Sand (2006/2015), Our Labirinth (2015 – sekarang), Between Going and Staying (2007), The writing Project (1998 – sekarang), dan Sonic Blossom (2013 – sekarang). Sedangkan On Kawara hanya memiliki karya One Million Years dimana para pengunjung akan berada dalam suatu ruangan untuk membaca buku tersebut dengan cara tersendiri yang telah ditetapkan oleh sang penulis.

Salah satu spot The Writing Project karya Lee Mingwei
Cukup hal itu saja yang bisa saya ungkapkan. Karena sejatinya, karya seni harus kalian nikmati langsung dan mendapatkan penjelasan langsung dari para guide. Saya sudah merasakan sendiri bagaimana mereka menjelaskan dengan sangat baik. Sampai saya tak bisa berhenti berkata “WOW” saat mendengarkan makna dari karya-karya tersebut. AMAIZING, GOOD JOB!!
Kak yani tengah mengambil gambar The Mending Project
Performance dalam Sonic Blossom Project
Eh iya, hampir lupa. Untuk berkunjung ke sini, kalian harus membayar tiket masuk untuk dewasa seharga Rp. 90.000,-. Katanya museum macan ini hanya buka dari Hari Selasa – Ahad. Nampaknya, hari senin itu museum di liburkan ya, soalnya Monas (Monumen Nasional) juga tutup di Hari Senin. Untuk letak museum, kalian harus naik eskalator atau lift ke lantai dua. Jika kalian naik tangga eskalator kalian akan menemui bendera-bendera yang ternyata isinya SEMUT!!!! Ngga percaya? Datang aja sendiri!

Adapun peraturan yang harus dipatuhi ketika berada di dalam museum:
  • Mohon berbicara dengan lembut dan berjalan dengan tenang
  • Dilarang menyentuh karya
  • Atur ponsel ke mode senyap dan hindari menelfon di area pameran
  • Dilarang memotret menggunakan flash. Dilarang membawa kamera seperti DSRL, SLR, dan Paraloid.
  • Barang berukuran besar yang lebih dari 24x24x15 cm harus disimpan dipenitipan barang
  • Dilarang mengkonsumsi makanan dan minuman di area pameran
  • Diperbolehkan mengsketsa hanya menggunakan pensil dengan buku yang tidak lebih dari ukuran A4

Demikian eksplorasi di Museum MACAN ini. Segera kunjungi Museum ini sebelum karyanya berganti lagi. Di sini juga dipamerkan beberapa koleksi seni museum dengan tema “Pop and Beyond”. Ada juga beberapa performance yang akan dilakukan di tanggal-tanggal tertentu. Ketika kalian berkunjung dan membeli tiket masuk, kalian akan dibekali dengan sebuah buku penjelasan seputar karya-karya seni yang dipamerkan dan hal-hal lainnya yang akan diadakan di museum ini. So, check it out!

Oh iya, kalian percaya ngga sih kalau di sini itu ada tempat memelihara semut. Ngga percaya? Buktikan aja sendiri dan lihat lebih dekat.


Tempat memelihara semut
Salah satu koleksi lukisan di lantai 6



Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang, 

16 Desember 2018

Senin, 14 Januari 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim

Tahun 2018 lalu, tepatnya bulan September, saya mengikuti salah satu program dari Sobat LemINA yakni Nulis Bareng Sobat (NBS). Program ini sudah berjalan mulai tahun 2014 yang berlangsung selama enam bulan per angkatan. Jadi selama setahun akan ada dua angkatan yang berjalan. NBS yang saya ikuti kali ini adalah angkatan ke-6.
Foto bersama Relawan Anak Sobat LemINA
Pict by Kak Bunga
Itu tadi cerita singkat mengapa pada akhirnya saya dapat bergabung dengan Sobat LemINA hingga akhirnya saya pun mengikuti Rapat Kerja Sobat LemINA untuk tahun 2019. Rapat kerja ini berlangsung di Wisata Kebun Gowa tanggal 5 - 6 Januari 2019. Lantas apa saja agenda yang akan mereka lakukan di tahun ini? yuk, simak penjelasan singkat berikut ini. Siapa tahu kamu bisa berkontribusi juga.
  • Aku Sayang Badanku (ASB) adalah kegiatan edukasi tentang kekerasan seksual pada anak yang diperuntukkan bagi para guru. Kegiatan ini melibatkan relawan anak dan relawan psikolog sebagai fasilitator. ASB dijadwalkan bulan Agustus tahun 2019 mendatang. 
  • Nulis Bareng Sobat adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan menulis anak-anak dalam hal bercerita, menuliskan ide, ataupun menulis puisi. Program NBS batch enam saat ini masih berlangsung untuk siswa sekolah dasar kelas IV di SD N Katangka 1 Makassar dan SD Inpres Katangka Gowa. Untuk angkatan selanjutnya akan dibuka kembali kira-kira bulan Juni 2019.
  • Nulis Blog Relawan (NBR) merupakan program untuk meningkatkan kapasitas relawan Sobat LemINA dalam hal kepenulisan utamanya di blog. Diharapkan teman-teman relawan anak dapat bercerita tentang pengalaman mereka melalui program ini di blog masing-masing.
  • Festival Anak merupakan agenda tahun Sobat LemINA yang akan digelar beberapa bulan kedepan.
  • Managemen Kebersihan Menstruasi. Program ini dibuat untuk anak-anak SD dikarenakan saat ini banyak anak-anak yang sudah mendapatkan menstruasi awal pada saat menduduki bangku sekolah dasar sekaligus menyiapkan anak-anak yang belum mendapatkan menstruasi dapat teredukasi tentang kebersihan dan tidak kaget saat tamu bulanan ini datang.
  • Newsletter adalah salah satu bentuk pelaporan tentang apa saja kegiatan yang sudah dilakukan oleh Sobat LemINA. Konsepnya seperti majalah dan dapat diunduh secara gratis di website lemina.org.
  • Seragam untuk Sobat adalah kegiatan pembagian seragam sekolah kepada siswa sekolah dasar yang ditargetkan. 
  • FGD khusus Guru/Orang Tua merupakan pendekatan khusus kepada guru atau orang tua terkait isu-isu tentang anak. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dalam menjalankan atau membuat program-program yang relevan terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh orang tua maupun guru yang berhubungan dengan dunia anak.
  • Pengembangan Kapasitas adalah program pengembangan diri bagi para relawan anak di Sobat LemINA. Jadi, relawan anak tidak serta merta turun melakukan kegiatan kerelawanan. Ada beberapa pelatihan yang harus dijalani untuk meningkatkan kapasitas diri agar lebih siap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang akan dijalankan.
Demikian penjelasan singkat tentang kegiatan Sobat LemINA. Eh iya, mungkin ada yang belum tahu. Sobat LemINA adalah komunitas relawan anak yang bekerja ikhlas dan bersama-sama untuk meningkatkan kulaitas hidup ibu dan anak. Semua bergerak dengan satu tujuan, yaitu Untuk Senyum Anak Indonesia. Komunitas ini merupakan bagian adari Yayasan Lembaga Ibu dan Anak (LemINA). Untuk lebih lengkapnya bisa langsung melipir ke website www.lemina.org.

Setelah mengetahui program-program ini, saya pribadi sangat berharap semoga semua program ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari berbagai pihak agar pelaksanaannya dapat dimaksimalkan. Bagi yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan yang disebutkan dapat memantau berita terbaru di instagram @sobatlemina. 

Oh iya, doakan saya juga agar bisa amanah dan mampu melaksanakan program dengan baik. Doa kalian adalah suatu dukungan yang semoga diijabah oleh Allah Subehanahu Wata'ala. Pas di acara rapat kerja kemarin, dapat amanah utuk mengorganisir kegiatan Nulis Blog Relawan

Yeayy, finally berhasil menyelesaikan tantangan writing challenge #1 Sobat LemINA

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong, 

14 Januari 2019, 8.14PM

Minggu, 30 Desember 2018

,
Bismillahirrahmanirrahim
Foto bersama di Hari ke-3
Seperti biasa, pagi-pagi sarapan dulu di Hotel lalu berangkat lagi. Hari ini kami akan kembali lagi ke gedung MPR. Agenda hari ini adalah penyerahan teks deklarasi yang telah di tandatangani kemarin kepada Sekretaris Jendral MPR-RI sekaligus menutup acara gathering nasional kali ini. Eh iya, bagi yang ingin tahu acara Gathering MPR-RI itu sejak tahun berapa dan diadakan dimana saja, bisa dilihat di inforgrafis yang ada dibagian akhir dari tulisan ini.

Check kehadiran lagi di Gedung MPR-RI
Sedikit cerita tentang hari ketiga ini. Kami cukup semangat karena hari ini adalah saatnya penyerahan teks Deklarasi Netizen MPR-RI kepada Sekretaris Jendral MPR-RI yakni Bapak Dr. Ma'ruf Cahyono SH.MH. Penyerahan ini akan dilaksanakan kembali di tempat yang sama pada hari ke-2, yaitu di Gedung MPR-RI lantai 2.
Detik dimana Pak Ma'ruf Cahyono memasuki ruangan
Bapak Ma'ruf-Sekertaris Jendral MPR-RI dan Ibu Siti-Kepala Bagian Humas MPR-RI
Sambil menunggu bapak Sesjen datang, kami sempat mengadakan sharing-sharing tentang hal-hal yang kami harapkan dari Gathering MPR-RI ke depannya bila ada. Beberapa hal yang disampaikan melalui dua orang teman kami adalah bila ada gathering berikutnya diharapkan para warga net dapat dibawa berkunjung ke kantor google. Kami juga berharap agar ada komunikasi dengan google dan edukasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia google yang wajib diketahui oleh warga net.
Tak lama waktu berselang. Sekira 20 menit, Sesjen MPR-RI telah tiba dan memasuki ruangan. Diskusi kami pun juga usai dan kembali duduk rapih menyambut kedatang beliau. Acara kemudian dibuka dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya
Setelah itu, kami pun kembali membacakan teks Deklarasi Warganet di depan para petinggi MPR-RI ini. Para hadirin pun langsung berderi dan membacakan teks secara bersamaan. Ada rasa gembira dan bangga serta haru bisa hadir menyaksikan momen ini.

Dari tulisan sebelumnya (gathering hari pertama dan hari-2) dan di sini pun selalu menyebut-nyebut teks deklarasi. Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih isi deklarasinya? Nah, karena ini hari terakhir dan peresmian secara sah. Saya akan berbaik hati membocorkan isi deklarasi tersebut.
Teks Deklarasi Netizen MPR-RI
1. Tidak menyebarkan konten Hoax dan SARA

Fenomena ini cukup sering kita temui dalam dunia digital yang semakin maju. Banyak dari masyarakat yang kadang menelan mentah-mentah suatu berita dan langsung membagikan berita yang ada. Sesungguhnya sikap membagikan suatu berita adalah hal yang baik, namun membaca dan memperhatikan konten serta mengetahui sumber yang jelas dari berita yang ada haruslah diperhatikan terlebih dahulu sebelum menyebarluaskan berita tersebut. Begitu pula untuk konten SARA, banyak diantaranya di kemas dalam bentuk-bentuk yang mungkin bisa diterima masyarakat luas. Salah satunya konten yang dikemas dalam hal-hal Lucu namun sebenarnya sangat menyinggung pihak-pihak tertentu dan tak layak menjadi konsumsi publik.
Pembacaan Deklarasi Netizen MPR-RI
Pembacaan Deklarasi Netizen MPR-RI diikuti oleh seluruh hadirin

2. Bijak bermedia sosial sesuai dengan Pancasila

Kita ketahui bersama bahwa Pancasila adalah ideology yang mengandung nilai-nilai yang seharusnya diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Pancasila juga telah dijabarkan dalam suatu pengamalan pancasila dimana kita dapat dengan mudahnya mencontoh sikap-sikap yang telah dijabarkan tersebut. Nah, sikap ini tidak hanya untuk diterapkan di dunia nyata, namun selayaknya juga dalam dunia maya. Karena saat ini, dunia maya merupakan suatu ruang untuk saling berinteraksi satu sama lain melalui media sosial. Oleh karena itu, pengamalan Pancasila seperti saling menghargai, berempati, tidak menyebar ujaran kebencian, dan lain sebagainya sungguh suatu keharusan untuk diterapkan dalam interaksi sosial kita untuk menciptakan masyarakat yang harmonis.

3. Menerapkan Empat Pilar MPR-RI dalam literasi digital

Apasih Empat Pilar MPR-RI? Dan mengapa perlu diterapkan dalam literasi digital? Nah, perlu kita ketahui bahwa Empat Pilar MPR-RI ini adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika. Sementara Literasi Digital adalah suatu wadah dimana masyarakat dapat dengan mudah dan cepat mengakses informasi secara digital utamanya melalu ponsel pintar mereka. Bila nilai-nilai empat pilar ini kurang diterapkan, informasi yang beredar bisa jadi dibuat tanpa landasan dan etika yang baik. Hal ini dapat mengancam moral bangsa serta mampu memecah kedamaian menjadi sebuah kerusuhan dimana-mana.

4. Bersatu membuat keren Indonesia dengan konten yang positif

Syukur, Alhamdulillah, saat ini banyak sekali komunitas atau individu-individu yang membuat gerakan-gerakan positif untuk menebarkan nilai-nilai positif di masyarakat. Dengan bersatu maka kita akan membuat Indonesia yang keren ini tambah keren. Dengan menyebarkan konten-konten positif, diharapkan Indonesia bisa lebih terekspose dengan hal-hal positif di dalamnya.
Pesan-pesan oleh Bapak Ma,ruf Cahyono

Antusianme peserta mencatat dan memperhatikan pesan-pesan dari Sesjen MPR-RI
Inilah empat komitmen yang disepakati dalam diskusi yang berahir tanpa voting alias musyawarah mufakat. Dalam acara ini, Pak Ma’ruf selaku Sesjen MPR-RI menyampaikan bahwa perwakilan-perwakilan dari berbagai kota ini bertugas untuk membawa empat komitmen ini ke daerah masing-masing. Kami diharapkan mampu mewakili daerah kami agar dapat menyampaikan pesan-pesan atau nilai-nilai pancasila dapat disampaikan kepada Masyarakat dalam bentuk aktual atau keseharian.
Foto bersama Delegasi Makassar dengan Sekretaris Jendral MPR-RI

Demikian keseruan kami. Meski baru berjumpa, namun rasanya sudah lama kenal. Rasanya sudah seperti keluarga besar yang baru dipertemukan. Oh iya, ini ada oleh-oleh dari dalam ruangan MPR-RI. Taaaraaaaaaa…. (liat gambar hehehe)


Ini dia infografis yang dijanjikan. Semoga bermafaat ya.

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang, 

15 Desember 2018 
,
Bismillahirrahmanirrahim
Inilah kami para warganet hari ke-2
Pada pukul 06.30 pagi, kegiatan kami dimulai dengan sarapan terlebih dahulu. Maklumlah ya, manusia tetap butuh makan. Setelah makan, kami pun berangkat menuju bus masing-masing. Sebagai warga neraga yang mencintai Indonesia, membagi tim kedalam nama Bus Merah dan Bus Putih adalah salah satu contoh untuk tetap mengingat identitas Sang Pusaka Merah Putih.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya di pimpin oleh Mbak Lia
Peserta berdiri sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya
Saya pun tergabung dalam jajaran tim Merah. Pagi itu kami menuju ke sebuah gedung sakral dimana tidak semua orang dapat berada di sana. Itulah Gedung MPR. Gedung dimana pembukaan gathering ini akan berlangsung.  Sesampainya di kawasan Gedung MPR, kami dibawa ke sebuah ruangan di lantai 2. Suatu kebanggan tersendiri ketika mengetahui bahwa ruangan tersebut adalah ruangan yang hanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu dari luar negeri atau tamu-tamu penting lainnya dan di sanalah kami disambut.

Di sini, kami akan melakukan pembacaan deklarasi yang telah ditetapkan. Acara pembukaan dimulai dengan doa dari Pak Andre (Ardianto Madjid – Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi) serta di buka oleh Ibu Siti Fauziah selaku Kepala Biro Humas Sekretariat Jendral MPR-RI. Tak lupa kami menyanyikan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya sebagai bentuk penanaman cinta tanah air.

Para peserta di saat menedengarkan sambutan
Ibu Siti sedang menyampaikan sambutan di acara pembukaan Gathering Netizen MPR-RI
Usai penyambutan, kami langsung membacakan Deklarasi Netizen MPR-RI. Pembacaan ini diwakili oleh dua delegasi lalu diikuti oleh seluruh peserta. Dengan pembacaan ini kami pun mendapatkan empat point Deklarasi.

Deklarasi ini kemudian ditandatangani bersama. Nama kami akan dipanggil satu persatu untuk menandatangani hasil deklarasi yang telah dibacakan sebelumnya. Ada rasa haru dan bangga dapat menjadi bagian dari acara ini. Kertas yang telah ditandatangani oleh 44 orang perwakilan dari 11 Kota di Indonesia ini akan diserahkan secara langsung kepada Sekretaris Jendral MPR-RI pada esok hari.
Pembacaan Deklarasi
Penandatanganan Deklarasi oleh Evhy

Akhirnya, acara penandatanganan pun selesai. Saatnya foto-foto di lingkungan MPR hehehe. Para peserta diberi waktu kira-kira 30 menit untuk mengexplore gedung MPR dan berfoto di area yang di izinkan. Kebanyakan dari kami berfoto di depan Gedung Ruang Sidang Nusantara 1. Gedung bersejarah di tahun 1998.
Agenda foto bersama di depan Gedung Sidang Nusantara I
Selanjutnya, kami pun akan diajak untuk menjelajahi beberapa tempat di Ibu Kota. Tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Museum Macan. Setelah menjajaki bagian-bagian museum dan menikmati karya seni yang elegan dan luar biasa, kami pun diantar ke Kota Tua dimana terdapat banyak museum-museum di sana. Kala malam tiba, kami pun dinner bersama di Jimbaran Resto – Taman Impian Jaya Ancol. Cerita selengkapnya dapat dibaca di tulisan Dari Musem Macan ke Kota Tua hingga Jimbaran Ancol.

LanjutBaca: Keseruan Deklarasi Warga Net(Netizen) MPR-RI 2018 #Day3 
,
Bismillahirrahmanirrahim
Foto bersama 44 Delegasi Warganet dari 11 Kota
Tak menyangka rasanya bisa menghadiri Gathering Nasional Warga Net (Netizen) MPR-RI 2018 di Jakarta. Yang seharusnya menghadiri acara ini adalah ketua dan sekertaris dari komunitas blogger Anging Mammiri yakni, kak Nur Al Marwah dan kak Tari Artika.  Namun karena sesuatu dan lain hal, beliau –beliau tidak dapat menghadiri acara tersebut dan mempercayakan kepada pengurus lainnya. Teripilhlah empat orang yang terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki. Saya pun terpilih menjadi salah satu diantara empat orang tersebut.
Bersama kak Yani, siap-siap berangkat
Dalam acara ini, MPR-RI menghadirkan 44 orang warga net yang berasal dari 11 kota. Tiap kota mengirimkan empat delegasi sebagai perwakilan yang diharapkan menjadi agen perubahan dan penyebaran nilai-nilai empat pilar MPR-RI khususnya dalam penyebaran informasi secara daring di kota masing-masing. Acara ini pun digelar mulai tanggal 7 – 9 Desember 2018.
Inilah ke empat orang delegasi dari Makassar, Blogger Anging Mammiri
Kiri ke Kanan: Yani, Evhy, Raya, dan Fahril
Hari pertama, kami para delegasi berkumpul di Ruang Merapi Hotel The Sultan Jakarta untuk makan malam bersama. Makan mala mini juga dirangkaikan dengan penyambutan para delegasi dari setiap kota. Di sinilah kami bercengkrama dan memperkenalkan diri satu sama lain.
Registrasi Peserta dari Makassar
Pada malam tersebut, kami disambut oleh Ibu Siti Fauziah selaku Kepala Biro Humas Sekretariat Jendral MPR-RI bersama Mas Ardianto Madjid selaku Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi. Beliau menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para peserta yang bersedia hadir dalam kegiatan ini.
Yang duduk di kursi kiri ke kanan: Mba Mira Sahid, Ibu Siti, dan Mas Andre
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mempertemukan para netizen dari berbagai kota, namun juga untuk merumuskan Deklarasi Warga Net (Netizen) MPR-RI 2018. Kami diminta untuk merumuskan beberapa point yang akan dibacakan bersama di depan Sekretaris Jendral MPR-RI. Deklarasi ini merupakan komitmen kami dalam menyebarkan informasi secara online.
Suasana sebelum acara penyambutan di mulai
Kami pun dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari perwakilan tiap kota. Rumusan kelompok kecil ini lalu dikumpulkan dan dirumuskan kembali. Dari rumusan lima kelompok yang terbentuk, kami pun mendapatkan 4 point besar yang menggambarkan semua point-point yang kami ajukan. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam, dari jam 8.30 malam hingga selesai.
Anggota kelompok empat yang kece dan keren :D
Usai penetapan ini, tim MPR-RI pun kembali ke dalam ruangan untuk menerima rumusan deklarasi yang telah disepakati. Rumusan ini akan diolah lagi oleh mereka hingga besok kami akan membacakan point deklarasi yang disepakati oleh pihak MPR. Tak lupa pula kami berkenalan dengan jajaran MPR yang telah berjasa menyukseskan acara ini. Setelah itu, kami pun bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Oh iya, hal asyik lainnya adalah kami dipasangkan bersama blogger dari lain kota tiap kamar. Jadi setiap kamar akan dihuni oleh dua orang dari kota yang berbeda.
Foto bersama para wanita tangguh Warganet dari 11 Kota

Sesi perkenalan dengan orang-orang di balik layar Gathering Netizen MPR-RI
Oh iya, tak lupa pula kami dari Makassar mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak-kakak yang telah membantu proses registrasi kami. Untuk registrasi dibutuhkan fotokopi KTP dari setiap anggota tim. Nah, kami dari Makassar baru tahu pas sudah sampai di Bandara. Jadinya belum ada yang meng-copy KTPnya kecuali satu orang. Dengan kebaikan dari kakak-kakak blogger dari Medan, kami bisa menitip dan merekalah yang pergi meng-copy-kan untuk kami. Namun, karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing dan dikejar dealine, rasanya kami belum mengucapkan ras terima kasih dengan benar. Untuk itu, sekalian melalui tulisan ini, kami memohon maaf jika tak sempat berterima kasih dan kami sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya.

Additional story!
Kami sampai di Jakarta sekitar jam 12 siang. Yang cowok tak lupa menunaikan sholat Jum'at terlebih dahulu. Barulah kami memesan kendaraan menuju ke lokasi Hotel tempat kami akan beristirahat. Setelah menempuh penjalan selama kurang lebih 1 jam. Kami pun sampai di lokasi. Perut mulai keroncongan namun registrasi baru akan dimulai sekira pukul 4 sore. Jadilah kami memutuskan berjalan-jalan mencari makan di sekitar hotel. You know lah ya, makan di hotel mehong! Dengan berjalan kaki selama 20 menit-an, sampai jualah di salah satu mall di sana yang menyedikan tempat makan. Maklumlah di sekitar lokasi Hotel yang berdampingan dengan GBK ini sulit sekali menemukan tempat makan pinggiran.
Perjalanan di bawah terik matahari.
Sediakan payung sebelum hujan berfungsi sekali.
Tak apalah berjalan!
Yang penting dapat tempat makan nyaman dan spot foto kece, eh.
 LanjutBaca: Keseruan Deklarasi Warga Net(Netizen) MPR-RI 2018 #Day2

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang. 

13 Desember 2018

Follow @hervianakamaluddin