Kamis, 27 April 2017

,
Bismillahirrahmanirrahim

“Belajar adalah hak setiap orang” -evhykamaluddin

Punya keluarga, sahabat, teman, tetangga, atau kenalan yang tunanetra? Jika kalian kenal dengan seorang tunanetra, cobalah untuk memperhatikan sejenak apa saja yang dapat dilakukan olehnya dan bagaimana ia melakukannya? Namun sebelum merambah jauh tentang semua itu, kita harus membangun kesepahaman tentang tunanetra.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia tunanetra berarti tidak dapat melihat atau buta. Namun tunanetra sendiri sebenarnya bukan hanya orang buta tetapi orang yang mengalami gangguan terhadap alat penglihatan sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Kelainan pada fungsi mata memiliki jenjang tersendiri dari yang ringan hingga yang berat. Adapun tingkatan tunanetra adalah sebagai berikut:
  1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision) adalah mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
  2. Tunanetra setengah berat (partially sighted) adalah mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.
  3. Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.

 Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tunanetra sendiri belum tentu buta tetapi orang buta sudah pasti tunanetra.

Bagaimana tunanetra belajar?

Jika ditinjau dari intelektual yang dimiliki, seorang tunanetra umumnya memiliki tingkat intelektual yang sama seperti seorang dengan penglihatan normal kecuali terdapat penyakit tambahan seperti gangguang fungsi otak ataupun organ lainnya. Jadi ada anak tunanetra yang pintar, cukup pintar, dan kurang pintar. Intelegensi yang dimiliki pun lengkap seperti kemampuan berbicara, menganalisis, berbaur, bersosialisasi, belajar, dan sebagainya. Mereka pun memilki perasaan seperti manusia pada umumnya yakni perasaan bahagia, sedih, marah, kecewa, gelisah, senang, dan sebagainya.

Oleh karena itu, seorang tunanetra masih dapat mengikuti jenjang pendidikan seperti anak pada umumnya bergantung penanganan yang diberikan. Sebenarnya penanganan pertama dalam hal peningkatan pendidikan pada anak tunanetra adalah bagaimana seorang anak menerima keadaan dirinya kemudian diterima oleh keluarganya sehingga timbul rasa percaya diri untuk menjalani hidup. Setelah timbulnya rasa percaya diri akan ada dorongan untuk belajar dan mengasah kemampuan untuk hidup yang lebih baik. Selanjutnya tinggal mengkonsultasikan keinginannya kepada pihak sekolah.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah yayasan pendidikan tunanetra di Makassar. Nama yayasannya adalah YAPTI (Yayasan Pendidikan Tunanetra Indonesia). Di sana saya mengunjungi kelas-kelas yang ada dan sedikit berbincang-bincang dengan guru dan murid-muridnya. Di yayasan ini terdapat kurang lebih 40 orang peserta didik tunanetra mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA.

Ada fakta menarik saya ketahui tentang jumlah siswa yang ada di sekolah ini. Menurut salah seorang guru Sejarah di sana, mengajar seorang siswa(i) tunanetra seperti mengajar sepuluh orang di sekolah umum. Oleh karenanya, lima orang adalah jumlah yang dianggap banyak. Pantas saja ketika memasuki kelas-kelas yang ada hanya terdapat dua hingga tiga orang saja di dalam kelas karena jumlah maksimal siswa dalam satu kelas hanyalah lima orang saja. Ini dikarenakan diperlukan perhatian khusus agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.

Dari segi usia, belajar di sekolah adalah hak siapa saja selama memiliki keinginan untuk belajar. Seperti kata pepatah, tidak ada kata terlambat untuk sekolah. Misalnya saja Agustinus, seorang laki-laki tunanetra yang berusia 24 tahun yang saat ini duduk di bangku SD kelas 6. Ia mengalami tunanetra ketika kelas tiga sekolah dasar akibat jatuh, namun barulah tiga tahun lalu ia melanjutkan sekolah kembali. Ini dikarenakan orang tuanya baru memasukkan dirinya di sekolah tersebut.

Dalam dunia pendidikan tunanetra, pembelajaran tidak dilakukan dengan menggunakan papan tulis namun lebih kepada mendeskripsikan sesuatu. Hal ini dikarenakan tunanetra lebih banyak memanfaatkan indra lain khususnya pendengaran dan indra peraba. Indra peraba disini yakni tangan ataupun kaki yang digunakan oleh tunanetra untuk mengenali benda-benda dari sentuhan tangan/kaki.

Untuk pembelajaran di sekolah sendiri, ada beberapa alat bantu yang digunakan agar tunanetra lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran. Alat bantu tersebut bergantung pada fungsinya. Ada alat bantu peraga, alat bantu tulis, alat bantu cetak, alat bantu optik, dan alat bantu pendengaran. Alat bantu peraga dapat berupa alat bantu yang dapat diamati dengan diraba atau dilengkapi dengan suara. Misalnya saja peta timbul yang dapat disentuh, ketika disentuh terdengar suara menyebutkan nama daerahnya.

Untuk alat bantu tulis dapat digunakan alat menulis Braille. Alat bantu cetak terdapat mesin ketik Braille ataupun printer Braille. Untuk alat bantu optik digunakan kaca pembesar ataupun kacamata dengan lensa pembesar namun ini hanya dapat digunakan bagi low vision atau anak tunanetra sebagian. Sedangkan alat bantu pendengaran dapat berupa talking book (buku yang berbicara), CD, dan kaset.

Oh iya, untuk dapat melanjutkan proses pembelajaran utamanya dijenjang awal seorang tunanetra harus dapat membaca dan menulis. Karena penglihatan yang terganggu, seorang tunanetra tentu sulit mengenali huruf-huruf biasa (huruf awas/alfabet) seperti A, B, C ,D, dan seterusnya. Untuk memudahkan tunanetra mengenal huruf agar dapat membaca dan menulis, diciptakanlah huruf khusus yakni huruf Braille. Huruf Braille ini merupakan sistem penulisan sentuh berupa titik-titik timbul yang mewakili huruf/karakter tertentu.

Beberapa simbol Braille yang mewakili beberapa karakter

Alat bantu untuk menulis huruf Braille
Seiring dengan berkembangnya teknologi, saat ini para tunanetra dapat menggunakan alat elektronik seperti laptop, komputer, dan hape. Dengan bantuan aplikasi pembaca layar, tunanetra dapat menggunakan barang elektronik tersebut sebagai alat bantu dalam proses belajar. Aplikasi ini dapat membaca tulisan yang ada di layar elektronik. Selain itu, jika kita menekan tombol keyboard atau tombol-tombol huruf yang ada di hape maka akan diubah menjadi suara. Contohnya, ketika kita menekan tombol “A” maka akan terdengar suara “A” versi Bahasa Indonesia.

“Laptop dan hape dengan aplikasi pembaca layar sangat membantu sekali dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah” ungkap Risya, mahasiswi tunanetra jurusan Sastra Bahasa Indonesia Universitas Hasanuddin ketika diwawancarai via facebook. Hal ini juga diakui oleh seorang guru Bahasa Indonesia di YAPTI bahwa penggunaan teknologi ini cukup membantu, tentunya bagi orang-orang yang mampu memilki alat elektronik tersebut. Misalnya dalam menganalisa teks sastra yang tersedia, tinggal di foto lalu aplikasi pembaca layar akan membaca teks yang ada dalam foto.

Namun tetap saja penggunaan teknologi ini tidak dapat menggantikan huruf Braille. “Huruf Braille adalah ciri khas seorang tunanetra. Jika ada tunanetra yang tidak bisa membaca huruf Braille sama saja dengan buta huruf” tegas Pak Kandacong, guru Bahasa Indonesia di YAPTI yang juga seorang tunanetra. Oleh karenanya, pembelajaran membaca dan menulis menggunakan Braille tidak dapat ditinggalkan meskipun dengan perkembangan teknologi yang ada.

Selain pembelajaran di dalam kelas, ada juga kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa mereka lakukan. Seperti kegiatan di Mushollah yakni kegiatan pengajian bulanan, hafalan Al-Qur'an, dan Qiro’ah. Kegiatan lain adalah pelatihan Braille, komputer, belajar musik, olahraga judo, dan lain sebagianya. Di YAPTI sendiri, para tunanetra sering mengikuti lomba-lomba baik lomba umum maupun lomba khusus untuk disabilitas.

“Di sini sering mengikuti lomba, bahkan lombanya bukan lagi tingkat daerah tapi tingkat nasional” tutur Ilham seorang siswa tingkat SMA kelas 1 sekaligus ketua OSIS di YAPTI. Adapun lomba-lomba yang pernah diikuti seperti lomba judo, lomba nyanyi, lomba lari, lomba catur, lomba band tingkat Sulawesi Selatan dan masih banyak yang lainnya. Berdasarkan penuturan sang ketua OSIS, juara tertinggi yang pernah diraih untuk lomba nasional adalah medali perak seperti lomba judo dan lari.

Hal ini membuktikan bahwa tunanetra memang dapat menjalani berbagai aktifitas dalam keterbatasan penglihatannya meskipun dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda. Oleh karenanya, seyogianya dalam kehidupan sosial bernegara sepatutnya kita saling menghargai dan membantu satu sama lain. Kita seharusnya tidak memandang sinis seorang tunanetra. Karena sesunguhnya tunanetra bukanlah sebuah penyakit, itu hanyalah gangguan fungsi mata yang menyebabkan seorang tak mampu menggunakan penglihatan dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Saya jadi teringat sebuah artikel yang ditulis oleh seorang tunanetra yang belajar di sekolah inklusif*. Berdasarkan pengalaman Ria seorang gadis tunanetra yang masuk ke sekolah inklusif tingkat SMA, kesuksesan pendidikan seorang tunanetra bergantung pada dorongan dan bantuan orang-orang yang ada di sekitarnya baik secara moril, akses, maupun penerimaan dirinya dengan tangan terbuka tanpa adanya diskriminasi di lingkungan sekolahnya. Dorongan (support) dan bantuan yang kuat serta telaten dari orang tua, guru, masyarakat, dan teman-teman di sekolah akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kesuksesan sang tunanetra di berbagai bidang.

Jadi, yuk kita sama-sama mendukung saudara-saudari kita yang tunanetra dengan tidak memandang remeh kemampuan mereka. Mari perlakukan mereka layaknya manusia ingin di Mari sama-sama membangun Indonesia dengan terus belajar tingkatkan ilmu pengetahuan, syukuri apa yang ada, dan menereapkan ilmu pengetahuan kita untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan sampai kitalah orang buta yang sebenarnya sesuai dengan sebuah kalimat dalam terminologi buta berdasarkan rekomendasi dari The White House Conference on Child Health and Education di Amerika (1930), “Seseorang dikatakan buta jika tidak dapat mempergunakan penglihatannya untuk kepentingan pendidikannya” (Patton, 1991).

* Pendidikan inklusif adalah pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah reguler dalam satu kesatuan yang sistemik. Dalam bahasa sederhananya, sekolah inklusif ini merupakan satu sekolah untuk semua.

Referensi:
  1. Corn & Koenig. (1996). Foundation of Low Vision: Clinical and Functional Persfectives. New York: American Foundation for the Blind Press.
  2. Jamila K.A, Muhammad. (2008). Anak-Anak yang Bermasalah. Bandung: Mizan.
  3. Sumiyati Yeti. (2014). Makalah Bimbingan dan Pendidikan Anak Tunanetra, [Online]. Tersedia: http://www.academia.edu. [06 Maret 2015].
  4. Andriani, Ria. (2018). Pahit Manis Menjalani Pendidikan di Sekolah Inklusif, [Online]. Tersedia: http://pertuni.idp-europe.org/pengumuman/Hasil_Lomba_2008.php. [03 Agustus 2018]. Pemenang Lomba Mengarang Pertuni 2008 dengan tema : Akses Tunanetra ke Lembaga Pendidikan Umum dalam Setting Pendidikan Inklusif. 
  5. Sumber gambar dari: www.google.com 

Alhamdulillahirabbil`alamin
Makassar-Shelter, 27 April 2017

Minggu, 23 April 2017

,
Bismillahirrahmanirrahim

Menjelang siang saya mulai lapar, kabarnya ada Indonesian Burger festival yang diadakan di Eatery Four Point by Sheraton. Penasaran bagaimanakah Indonesian burger yang mereka siapkan. Saya pun tancap gas menuju ke lokasi tersebut.

Sampai di sana, sedikit bingung di manakah Eatery-nya? Ketika memasuki pintu samping hotel, saya langsung menuju lantai dua. Setahu saya di sanalah tempatnya. Ternyata oh ternyata, cukup lurus saja dari pintu masuk tadi. Tak perlu naik ke lantai dua, cukup di lantai satu.

Di sana sudah ada dua teman saya yang menunggu, hari ini memang ada teman blogger juga yang datang. Karena ini Indonesian Burger, tak enak rasanya jika tak membagikannya ke para pembaca. Oh iya, kami juga berkesempatan bertemu dengan chief executivenya lhoo.

Berdasarkan penuturan beliau, Indonesian Burger Festival ini dibuat untuk mengangkat masakan khas Indonesia kedalam bentuk yang berbeda yakni burger. Kali ini, Burgernya dibuat dengan tiga varian rasa yakni rasa asli Konro Bakar Burger, Ayam Taliwang, dan Ikan bakar jimbaran. Salah satu alasan mengapa rasa khas Indonesia dalam burger adalah karena chief Kamal - excutive chief sebagai koki yang berasal dari Indonesia dan inisitor dari burger ini tetap ingin mempertahankan rasa khas Indonesia dalam masakannya meskipun begitu tak dapat Ia pungkiri juga bahwa masakan western juga cukup simple dan higenis sehingga terciptalah perpaduan rasa Indonesia ala western tanpa mengubah rasa khas masing-masing. Jreng.. jreng.. Jadilah Indonesian Burger ini.

Bagaimana tampilan Indonesian Burger?

Sabtu, 22 April 2017

,
Bismillahirrahmanirrahim

Siang ini saya jalan-jalan ke mall baru yang katanya Mall Gaul dengan #pipo alias Phinishi Point Mall. Letaknya di Tanjung Bunga bersebelahan dengan hotel The Rindra di Makassar. Mall ini baru saja melakukan grand launching tanggal 21 April 2017 kemarin. 


Ketika masuk pintu utama mall, kita akan disuguhkan pemandangan tempat-tempat nongkrong dan makan. Salah satunya adalah Warung Koffie Batavia. Hari ini merupakan soft opening dari warung ini. Terlihat orang-orang memenuhi kursi-kursi yang ada.

Di sana saya bertemu dengan teman-teman blogger yang sedang berkumpul bersama untuk acara icip-icip menu di warung ini. Namanya mungkin saja warung, namun tampilannya tentu tak seperti warung tegal di pinggiran jalan. Bisa dibilang ini adalah warung ala resto. Apalagi tempatnya di dalam mall tentu lebih gaul daripada warung kopi kebanyak.

Senin, 10 April 2017

,
Bismillahirrahmanirrahim

Mengikuti acara Femme 2017 adalah suatu kepuasan tersendiri bagi saya sebagai penikmat fashion. Mata saya sungguh dimanjakan oleh berbagai koleksi fashion tanah air. Kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti pembuakaan acara Femme 2017 yang diadakan di Four Poin by Sheraton Makassar. Pembukaan ini cukup meriah dengan mengakat motif cobo' di kain sutra Sulawesi Selatan.

Motif cobo' yang merupakan motif kain tradisional di sulap menjadi fesyen modern oleh dua perancang busana di pembukaan Femme 2017. Perancang tersebut adalah Ibu Ida Noer Haris perancang asal Kota Makassar dan juga merupakan ketua IWAPI Sulawesi Selatan. Perancang lainnya adalah Priyo Oktaviano perancang nasional yang diundang khusus untuk membuka acara pembukaan ini. 
,
Bismillahirrahmanirrahim



Siapa yang tak kenal Tere Liye? Beliau adalah salah satu sastrawan Indonesia yang puluhan bukunya sudah diterbitkan. Karya-karyanya cukup dikenal dan banyak diminati oleh banyak kalangan, salah satunya teman-teman saya di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Kelas Menulis Kepo. Wajar saja jika beliau di undang sebagai salah satu pembicara dalam acara Sosialisasi Perpustakaan Bersama Sastrawaan yang di adakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sulawesi Selatan. Acara ini diadakan di Hotel Sahid Makassar pada tanggal 30 Maret 2017 lalu.

Walaupun saya bukan penggemar buku-buku sastra milik Tere Liye namun dapat hadir di acara ini merupakan suatu kehormatan tersendiri. Apalagi mendapatkan beberapa informasi menarik terkait perkembangan perpustakaan di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. Acara ini juga dihadiri oleh masyarakat dari berbagai komunitas dan pustakawan. Dalam acara dengan tema "Wujudkan Generasi Literasi", Mas Darwis alias Tere Liye memberikan beberapa informasi untuk para generasi yang menyebut dirinya penulis ataupun yang ingin menjadi penulis. 

1. Minat Baca Warga Indonesia 

Beliau sangat senang sekali ketika Bapak Muh. Syarif Bando Kepala Perpustakaan Nasional RI mengatakan bahwa "Tidak boleh pustakawan di Indonesia mengatakan bahwa minat baca warga Indonesia rendah". Mengapa? 

"Jika minat baca warga Indonesia rendah, suram nasib penulis pak" ujarnya sambil melihat ke arah pak Syarif yang duduk tepat di samping kiri beliau sambil menunjukkan wajah berkerut seakan mengeluh. 

Beliau pun melanjutkan bahwa andai saja hari ini kebiasaan membaca warga Indonesia naik 20% maka beliau menjamin bahwa penulis di Indonesia cukup kaya. Namun pada kenyataannya banyak penulis yang bukunya dicetak susah payah menjual cetakan pertamanya. Mengapa? Simak terus hingga akhir ya.

2. Literasi

Dalam pemaparannya, beliau bertanya Apakah hanya dengan bisa membaca dan menulis cukup disebut literasi? Jika literasi ini hanya sebatas kepandaian membaca maka harus diketahui bahwa di Indonesia 98,9% warganya bisa membaca dan lebih baik dibandingkan dengan negara-negara seperti di Afrika bahkan Indonesia lebih baik dari Malaysia. Berdasarkan presentasi beliau, literasi bukan hanya sekedar bisa membaca namun seberapa banyak buku yang dibaca setahun terakhir? 

Nah, ini kembali lagi pada minat baca seseorang. Tere Liye selalu optimis bahwa minat baca di Indoesia selalu baik. Ia berusaha untuk tetap positif dalam hal tersebut. Ia pun melanjutkan presentasinya dengan sebuah pertanyaan Mengapa peradaban dunia bisa sangat maju? Itu dikarenakan adanya metode untuk mengajarkan sesuatu kepada generasi berikutnya yang disebut dengan literasi. Kini pengertian literasi tidak hanya sebatas buku namun sudah berkembang luas hingga ke gadget.

Dari Paling Kiri: Tere Liye , Kepala Perpustakaan Nasional dan para pembicara yang lain
Selain itu, literasi ini juga berhubungan dengan moralitas kejujuran. Orang yang literasinya tinggi tidak akan mudah menyebarkan berita hoax. Itu dikarenakan mereka memiliki filter terhadap informasi yang disebarkan. Beliau juga menegaskan bahwa kunci literasi adalah "buku". Buku dalam tanda kutip karena makna buku sudah sangat berkembang seperti yang dijelaskan sebelumnya.

3. Sebuah Sajak dari Tere Liye

Bacalah 10 buku maka kita akan tiba-tiba merasa sok tahu atau merasa paling pintar
Bacalah 50 buku maka sok tahunya akan mulai berkurang
Bacalah 100 buku maka sok tahunya mulai semakin berkurang
Bacalah 500 buku bacalah 1000 buku maka saat itulah kita sadar bahwa yang kita ketahui bukanlah apa-apa

Sajak Lengkap Tere Liye - Bacalah 1000 Buku
4. Apakah Gadget Mengancam Literasi?

Tere Liye sering bergurau mengatakan bahwa Hari ini sebenarnya Indonesia belum pernah memasuki periode literasi yang begitu luar biasa hebat. Beliau juga mengatakan bahwasanya manusia modern minimal menulis 1000 kata setiap hari. Ini bisa dibuktikan seberapa kali mereka menulis di facebook, twitter, whatsup, dan sosial media lainnya. Pada dasarnya manusia modern di Indonesia sudah menulis 1000 kata perhari, hanya saja kita menulis di media sosial. Seandainya dipindahkan ke hal yang lebih produktif dan menarik maka kita semua bisa menjadi penulis. 

Kita semua adalah pembaca hari ini. Misalnya detik.com pengunjungnya puluhan juta per hari. Tidak ada buku yang laku 1000 eksemplar per hari. Berita kecil-kecil saja bahkan bisa menjadi viral melalui gadget. Nah, mobile atau gadget ini bisa jadi justru menjadi solusi masa depan literasi jika digunakan dengan baik dan benar.

5. Mengapa Literasi Kita Rendah?

Perlu disadari bahwa semua orang bertanggung jawab atas rendahnya literasi di Indonesia. Yang pertama adalah penulis. Apakah penulis kita sudah produktif? Apakah penulis sudah memberikan alternatif bacaan yang baik bagi para pembacanya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi hal yang menarik menyangkut rendahnya literasi dan juga berpengaruh pada hasil penjualan sebuah buku. Berdasarkan penuturan beliau, di Indonesia sedikit sekali penulis yang membuat satu buku dalam satu tahun. Beberapa penulis produktif yang dulu terkenal juga sudah tak produktif lagi dengan beberapa alasan. Itulah yang menjadi tanggung jawab penulis terhadap literasi.

Yang kedua adalah pemerintah. Apakah pemerintah pernah memberikan insentif bagi penulis buku? Sedikit bocoran rahasia dari Mas Tere Liye adalah jangan mau jadi penulis. Karena pada kenyataannya, pajak penulis adalah pajak penghasilan yang paling mahal di seluruh Indonesia. Profesi seperti dokter, arsitek, insinyur, pengacara, dan lain sebagainya pajaknya hanya setengah dari pajak penulis. Jika kalian mencari tahu berapa pajak penghasilan profesi dokter maka pajak penghasilan seorang penulis adalah dua kali lipat dari pajak penghasilan seorang dokter.


Para Peserta Sosialisai
Beliau juga minta maaf sebelum melontarkan pernyataannya bahwa "penulis adalah profesi yang tidak pernah dibantu oleh pemerintah. Ada sih, ada bantuannya tapi sedikit sekali dibandingkan UMKM." Fakta yang ada dimana UMKM pajaknya hanya 1 % dari penghasilan nilai bruto per tahun, sedangkan penulis pajaknya 30% dari peredaran bruto per tahun. Industri-industri entertaiment seperti layar tancap tidak akan dikenakan pajak sedangkan buku tetap bayar pajak PPN. Itulah fakta yang terjadi. 

Oleh karenanya, jangan heran jika buku-buku yang ada agak mahal termasuk bukunya bang Tere. Namun jika ingin buku beliau secara gratis bisa baca lewat facebooknya. Disana dibagi-bagiakan secara gratis ungkap beliau lewat pernyataannya. "Jika ingin buku-buku saya gratis silahkan baca di facebook saya. Gratis kan? Kalau mau beli bukunya mahal!" Ucap beliau sambil memegang mikrofon di tangannya.

Yang ketiga adalah komunitas dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Apakah kalian sudah mengambil bagian yang betul-betul tahan banting? "Jika kalian bergerak mendirikan komunitas baca, sudah saatnya kalian berdiri gagah dan hadapilah kenyataannya bahwa orang-orang memang tidak peduli dengan kita. Misalnya saja saya membuat Gerakan Membaca 1000 Buku Anak Indonesia. Saya mengirimkan banyak buku dari ujung ke ujung Indonesia. Apakah ada yang me-recognize? Tidak ada. Coba bandingkan dengan penghargaan artis atau film" ujar bang Tere. 

Ini adalah fakta lain tentang dunia penulisan dimana penghargaan untuk sebuah buku memang terpinggirkan. Jadi jika memang ingin membuat sebuah komunitas baca, berdirilah dengan gagah. Walau hanya punya sepuluh buku, tetaplah lakukan dan dirikan perpustakaan baca. "Insya Allah dengan sendirinya akan ada jalannya" kata bang Tere. Yang penting adalah komitmen yang tahan banting tadi. 

Yang keempat adalah keluarga, sekolah, dan guru. Apakah sejak awal sudah membiasakan anak-anak membaca? Apakah aktifitas membaca sudah menyenangkan bagi anak? Apakah gurunya juga membaca? Jangan sampai seperti kasus orang tua yang menyuruh anaknya sholat di Mesjid tapi dia sendiri tidak sholat. Jangan sampai guru menyuruh "Anak-anak bacalah buku" namun gurunya tidak membaca. 

Selanjutnya adalah toko buku, diskon ada atau tidak? dan yang paling penting adalah perpustakaan. Jumlah pustakawan utama di Indonesia menurut penuturan Kepala Perpustakaan Nasional RI adalah sepuluh dan tidak banyak yang mengapresiasinya. Ini adalah realita tentang literasi. Menurut bang Tere perkembangan literasi di Indonesia mungkin membutuhkan waktu kurang lebih lima puluh tahun lagi. Ketika waktu itu datang, Indonesia akan mendapatkan manfaat yang sangat luar biasa utamanya bagi orang-orang yang bergerak di bidang penulisan.

6. Tips bagaimana caranya menulis produktif?

Dalam acara ini, bang Tere hanya memberikan wejangan singkat yakni dibutuhkan Niat yang baik dan komitment untuk terus menulis. So, bagi teman-teman yang ingin menjadi penulis produktif tanyakan pada diri sendiri Sudahkan kita memiliki niat yang baik? Sudahkah kita berkomitmen terhadap niat tersebut?

Mengikuti kegitan ini selama kurang lebih satu jam membuat saya sungguh sadar bahwa betapa pentingnya literasi dalam kehidupan kita. Apajadinya jika kita tak dapat menikmati buku-buku berkualitas? Apajadinya jika generasi kita kurang membaca dan kurang pengetahuan? Kita tentu punya jawaban dan perspektif masing-masing. 

Saat generasi muda menganggap bahwa membawa buku dan duduk membaca buku adalah hal yang sangat-sangat keren se-keren melihat artis korea mungkin. Saat itulah generasi literal hadir di Indonesia.
- Tere Liye -


Alhamdulillahirabbil`alamin
Makassar-Barombong,
9 April 2017






Jumat, 07 April 2017

,
Bismillahirrahmanirrahim

Dulu perspektif saya tentang perpustakaan adalah tempat yang lumayan membosankan. Sekarang tak lagi, walau saya sangat jarang menginjakkan kaki di sana. Akhir-akhir ini saya mendengar istilah rumah baca? Apakah ini sejenis perpustakaan, saya agak penasaran seperti apakah rumah baca itu?


Oleh karenanya, saya pun segera berselancar di dunia maya dan mencari rumah baca yang ada di Makassar. Di halaman pertama muncul Rumah Baca Philosophia. Dengan cepatnya saya mencari kontak yang bisa dihubungi. Alhamdulillah bisa diperoleh dengan mudah di fanpage facebook Rumah Baca Philosophia. 

Pukul 7.30 malam, saya pun sudah berada di depan rumah baca itu. Ekspektasi saya tentang sebuah rumah baca adalah sebuah gedung yang besar dengan buku-buku yang tersusun rapih di rak-rak buku layaknya di perpustakaan. Ketika saya sampai, pikiran ini tiba-tiba nge-blank dan berdiri diam sejenak menatap tempatnya. Ini ya tempatnya? Hmm.. iya ini. Itu ada tulisannya gumam saya dalam hati.

Saya terkejut dan tak menyangka bahwa rumah baca ini adalah sebuah rumah kecil di Jalan Todopuli XI no.4 Makassar. Agak masuk lorong dari Jalan Todopuli Raya Makassar.Tinggi ruangannya kira-kira dua meter dari langit-langit rumah saya juga tak sempat mengukurnya. Luasnya kira-kira seperti rumah tipe-36. Pintunya berada di tengah. Di bagian depan, rumah ini diberikan pagar besi. Kala itu malam hari jadi warna rumah tampak tak jelas terlihat, jika tak salah ingat warna rumahnya adalah kuning. 

Ketika memasuki rumah itu, saya sedikit canggung karena tempatnya terasa begitu sempit. Terlihat buku-buku tersusun di rak-rak yang berjejer di sebelah kanan. Ada juga di depan dan di belakang saya tepat di samping pintu masuk. Ada satu ruangan lagi di sebelah kiri yang berisi buku juga. Di sana tak ada kursi. Hanya ada karpet merah yang menghiasi ruangan. Di sanalah saya dipersilakan duduk. Ada juga sebuah komputer putih yang berada di samping saya. 

Kini di depan saya duduk seorang kontributor aktif di rumah baca ini. Namanya Kak Syahril biasa dipanggil Kak Calli. Beliau mulai aktif di sini pada tahun 2010 ketika rumah baca ini pindah ke Jalan Todopuli. Awalnya rumah baca ini berada di Jalan Tamalanrea dekat Kampus Unhas dan lebih dikenal dengan nama Kafe Baca.

Berbincang bersama kak Syahril di Rumah Baca Philosophia
Berdasarkan penuturan beliau, rumah baca ini sudah hadir selama satu dekade di tahun 2017 ini. Ketika pertama kali di bentuk, rumah baca ini bertujuan untuk mewadahi mahasiswa-mahasiswa himpunan dengan menghadirkan buku-buku bacaan wajib bagi pengurus lembaga mahasiswa. Buku bacaan wajib tersebut seperti buku-buku kajian politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Kafe baca pun didirikan sebagai wadah untuk menampung buku-buku dan membuat tempat baca sambil dapat menikmati hidangan yang ada. Hidangan yang disiapkan sebenarnya bukan inti dari Kafe Baca. Penghasilannya digunakan untuk menunjang penambahan buku-buku baru ke depannya. Seiring berjalannya waktu, kafe baca ini pun tak mampu lagi menahan beban biaya kafe yang harga sewa tempatnya semakin lama semakin meningkat sehingga dipindahkan lah ke rumah salah seorang pendiri. 

Sekarang buku-buku yang tersedia di sana cukup beragam. Ada buku untuk anak-anak hingga dewasa. Bukunya sudah mencakup semua kalangan karena sudah mulai mengarah kepada perpustakaan publik dimana sebuah perpustakaan publik diharuskan menyediakan semua jenis buku.Walau demikian, buku-buku ekonomi karena para pendirinya merupakan alumni fakultas ekonomi. Ada juga buku sosial politik dan filsafat yang masih mendominasi. Di sana kita masih dapat menemukan buku-buku jadul alias buku tua yang mungkin sudah mengalami banyak revisi di cetak terbarunya. Tapi tak ada salahnya dibaca jika memang ingin tahun ilmu pengetahuan di tahun 1980-an. 

Selain membaca buku, di sini juga ada kajian-kajian khusus setiap hari senin. Untuk sementara bukunya itu buku ekonomi, judulnya bisa dilihat di fanpagenya. Tahun lalu juga ada kelas bahasa inggris dimana pengajarnya dari salah seorang anggota rumah baca. Nah, ke depannya akan diadakan diskusi tentang tokoh ekonomi yang akan diadakan setiap hari jumat. Tak heran jika pesertanya adalah mahasiswa ekonomi semua. 

"Oh iya kak, kan sekarang bedah bukunya lebih kepada topik ekonomi. Kalau misalnya bedah buku seperti novel dan lainnya itu ada tidak?" tanya saya penasaran. 

"Untuk bedah buku karya sastra itu tidak pernah. Sebenarnya bukan tidak mau sih tapi tidak ada teman-teman yang mau memulai. Sementara di sini kan rata-rata anak ekonomi jadi bukan pembaca karya sastra. Kita bacaji tapi hanya sekedar membaca saja tidak di dalami" ucapnya.

"Oh jadi fasilitatornya yang kurang di' " kata saya nyeletup.

"iya, seandainya ada mungkin kita bisa adakan" ucapnya lagi. 

Menurut kak syahril yang juga merupakan dosen ekonomi di STIE Nobel "sebenarnya kami tidak menutup ruang lingkup rumah baca dengan hanya membicarakan tentang ekonomi saja. Kami sangat terbuka dengan berbagai topik. Hanya saja kembali ke teman-teman dan kurangnya tenaga yang bisa menfasilitasi topik lainnya. Jika ada yang ingin berdiskusi tentang topik lain dan bisa menfasilitasinya kami siap bekerja sama dan menerimanya dengan tangan terbuka." Ini merujuk kepada visi dari rumah baca ini untuk menjadikan rumah baca selain sebagai perpustakaan juga dapat digunakan sebagai tempat pertukaran ilmu pengetahuan seperti diskusi dan semacamnya.

Salah satu hal menarik adalah rumah baca ini sering dikunjungi anak-anak dan warga sekitar. Kata kak syahril biasanya ibu-ibu mengantar anaknya ke rumah baca dan mereka pun juga ikut untuk membaca. Walau ada juga yang sekedar melihat-lihat saja. 

"Kalau ibu-ibu di sini biasanya baca buku apa kak?" tanya saya.

"Untuk ibu-ibu muda biasanya saya lihat mereka baca karya sastra kayak novel, tapi kalau orang tua biasanya baca buku pendidikan untuk anak atau buku agama yang ada hubungannya dengan mendidik anak" ucapnya sambil memegang sebuah buku bersampul merah dengan kotak kuning dibagian depan. Saya pun selalu memperhatikan dengan seksama sambil sesekali mengangguk-angguk sambil berguman "emm" atau berkata "oh" atau "iya" ketika beliau menjawab pertanyaan.

"Kalau misalkan yang anak-anak itu bukunya bagaimana? kalau untuk SD, TK" tanya saya lagi lebih antusias. 

"Kalau buka anak-anak ada komik, buku kecil-kecil membuat karya apa sih judulnya itu. yang anak-anak kecil membuat tulisan terus di satukan. Itu semua anak-anak suka. Satu hari mereka pinjam besoknya selesai pinjam lagi. Mereka yang bisa kasi penuh di sini. Cuman kendalanya buku-bukunya anak-anak sedikit."

"Oh jadi anak-anak di sini suka membaca tinggi minat bacanya di'" ucap saya.

"Nah, tapi sekarang agak kurang anak-anak yang datang karena mungkin bosan bukunya itu-itu terus" ucapnya tetap dengan memegang buku yang sama. Sesekali beliau mengubah posisi duduk dari bersilah atau melekuk lututnya keatas. 

"Kak tidak pernah sebelumnya kayak minta buku begitu?" tanya teman yang duduk di sebelah kanan saya. "Kayak sumbangan buku?" tanya kak syahril. "iya"

"Kita selalu sih di fanpagenya dan kita sampaikan kalau menerima sumbangan. Selama ini lumayan banyak sumbangan, ada juga biasa tetangga di sini dia sumbang buku-buku yang tidak dia baca. Kita berusaha untuk sebarkan kalau menerima sumbangan buku. Karena ini murni sama sekali tidak ada pendapatannya. Sementara salah satu indikator perpustakaan adalah penambahan buku." ujarnya.

Buku-buku di sini sudah di sortir. Apalagi buku-buku dengan pembahasannya sedikit fulgar sudah dikeluarkan dan diberikan kepada orang lain. Jadi jangan khawatir jika anak-anak membaca buku di sini. Karena akan ada yang mengawasi dan bukunya sudah di pisahkan yang mana khusus untuk anak-anak. Tempat ini akan terbuka dari pukul sepuluh pagi sampai sebelas malam. Namun, kadang-kadang menyesuaikan dengan waktu luang para pengurusnya karean rata-rata mereka harus bekerja menunaikan kewajiban di tempat kerja masing-masing. 

Penataan Buku di Rumah Baca Philosophia
Oh iya, beberapa waktu lalu saya mengikuti sosialisasi perpustakaan. Salah satu pembicaranya mengatakan bahwa minat baca di Indonesia sebenarnya tinggi hanya saja mereka tidak menemukan buku yang pas untuk dibaca. Karena kebanyakan orang beranggapan bahwa buku-buku di perpustakaan itu buku-buku berat (dalam hal ini isi dan pembahasannya). Saya pun menanyakan tanggapannya tentang hal ini kepada beliau. 

"Sebenarnya saya harus mengakui bahwa kalau orang luar memandang rumah baca memang selalu di sini dianggap buku-buku yang ada memang buku-buku yang berat. Itu pandangannya orang dan memang faktanya begitu. Sebenarnya kita bukan mau dipandang seperti itu, cuman kebetulan memang yang ada peminatnya ya cuma buku-buku itu. Karena kan sebenarnya buku yang di sini tidak semua buku berat. Ada juga karya sastra dan ada juga buku anak-anak. Cuman kondisinya memang, dulu banyak orang-orang yang senang buku-buku sosial dan rata-rata sebelumnya kebanyakan mahasiswa yang ada di sini jadi ya.. untuk memenuhi kebutuhannya mereka ya banyak buku-buku begini. Makanya kita tidak kayak yang lain. Seperti ada di Tamalanrea, itu ada kata kerja, perpustakaannya itu lebih spesifik karya sastra semua seperti puisi, novel. Di sini kita usahakan beragam bukan hanya karya sastra, politik juga bisa. Jadi kita membayangkan dulu jika ada teman-teman S1, S2, atau S3 mau tesis atau disertasi, kita maunya di sini jadi rujukan. Ada disediakan di sini. Jadi selain buku-buku di sini, ada juga perpustakaan digital. Ada koleksi lumayan banyak e-book disitu" ucapnya sambil menunjuk ke komputer. Saya berbalik sejenak lalu melihat ke arah beliau kembali. 

Nah, sebenarnya berbagai kegiatan di rumah baca sudah dicoba namun memang pengunjung yang ada masih belum dapat menandingi pengunjung bioskop apalagi mall. Masih banyak hal yang dilakukan oleh Rumah Baca selama beberapa tahun terakhir. Jangan lupa untuk mengunjungi tulisan selanjutnya tentang satu dekade Rumah Baca Philosophia part kedua yang akan membahas tentang arti philosophia, mengapa diberi nama philosophia, suka duka rumah baca, dan mengapa rak bukunya sampai dibuat seperti itu serta kegiatan lainnya yang di lakukan oleh Rumah Baca Philosophia. Jangan sampai ketinggalan.

Yuk.. tetap membaca, menulis, menyumbang buku, atau sekedar berkunjung dan membaca di rumah baca. Tunjukkan aksimu apapun itu untuk mendukung gerakan gemar membaca tanah air Indonesia. Mulai dari diri kita, semoga bisa menjadi contoh yang baik untuk teman dan orang-orang sekeliling kita. Semangat!!

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong,
6 - 7 April 2017

Rabu, 05 April 2017

,
Bismillahirrahmanirrahim

Mendengar kata Femme, di benak saya langsung terbersit tentang sebuah acara fashion dimana mata kita akan dimanjakan dengan berbagai macam model pakaian dari ratusan brand yang ada di Indonesia. Femme (Female on The Move) di umur nya yang ke dua belas di tahun 2017 ini menghadirkan berbagai macam produk fashion yang dapat memperindah penampilan kita seperti sepatu, aksesoris, baju, hijab, dan make up. Ada juga 16 booth untuk pameran KPR.


Sebagai pecinta atau penggemar fashion, Femme adalah kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Jika bukan penggemar fashion pun, kalian akan tetap dapat menikmati acara ini. Kok bisa? Bisa dong. Berikut beberapa alasan mengapa kamu harus ke Femme.

Follow @hervianakamaluddin