Rabu, 28 November 2018

Dear, My dearest Mom

Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, tak sengaja melihat postingan instagram salah satu teman. Ia membahas tentang surat untuk ibu. Ia pun menuliskan beberapa penggal bait di caption-nya. Hampir saja butir-butir air dari kelopak mata jatuh ke pipi, namun diri ini mencoba membendungnya dengan sekuat tenaga.

Sejak 2007 lalu, Ibu menghembuskan nafas terakhirya di dunia. Ia tak lagi dapat saya peluk bahkan tak dapat lagi bersenda gurau dengannya. Meski selama ini saya sangat dekat dengan ayah bahkan rasanya tak ingin lepas darinya sedari kecil, namun kebersamaan ibu lebih intents.

Beranjak SMP, kami sering menghabiskan waktu bersama selepas pulang sekolah. Masih teringat jelas, sore hari di mana kami sering berkumpul bersama tetangga dan keluarga dekat lainnya yang se-kampung. Ibu selalu mewanti-wanti tentang pergaulan. Ketika kami berkumpul, tak jarang mereka membicarakan tentang cara bergaul seseorang atau sikap seseorang. Bisa dikatakan mereka “bergosip”.

Ibu adalah sosok yang cukup tegas. Utamanya dalam hal pengeluaran. Tak jarang keinginan untuk belanja tak dapat dipenuhi karena beliau sangat memperhitungkan keuangan kami. Perlu saya akui bahwa kami bukanlah orang dengan kekayaan berlimpah. Butuh kerja keras untuk menghidupi dirinya beserta keluarga.

Ayah adalah seorang petani, sedangkan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga yang bertugas mengurus anak-anaknya. Walaupun begitu, ibu tetap berusaha membantu ayah dengan menjual “cangkang” ketupat kepada penjual coto. Cangkang ini nantinya yang akan diisi oleh beras dan kemudian dimasak dan jadilah ketupat yang dapat dinikmati bersama coto maupun bakso di pasar.

Di awal bisnis sepertinya ibu cukup berhasil meraup uang dan mencukupi kebutuhan keluarga. Ayah juga masih kuat untuk mencari uang dengan bekerja di pabrik pembuat rokok secara tradisional. Waktu pun berlalu dan saya lahir.

Di usia 6 tahun, saya melihat bahwa ibu tak sehat. Beliau sering batuk-batuk dan kadang sakit. Seiring bertambah usia, batuknya semakin parah. Sudah banyak obat dokter yang diminumnya. Sepertinya sudah beberapa kali berganti obat dokter, namun batuknya malah bertambah parah saja.

Sejak SMP, ibu tak lagi dapat bekerja banyak. Kami anak-anaknya pun harus membantu beliau untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menjalankan bisnisnya. Uang jajan kami pun kadang ditentukan dari banyaknya ketupat yang dapat kami buat.

Saat SMA, beliau tak lagi se-produktif dulu. Untuk ke pasar saja kadang kala beliau harus ditemani karena tak mampu membawa barang berat-berat. Tubuhnya lama kelamaan mengurus dan suaranya mulai parau. Malam hari kadang rasanya beliau tak bisa tidur dikarenakan batuk-batuk tiada henti.

Walaupun ibu mengalami pergulatan hidup semacam itu, namun di mata ini, beliau adalah sosok yang sangat kuat. Ia masih bisa bekerja dan masih dapat memberikan kasih saying kepada anak-anaknya. Meski memang kami jarang berbincang-bincang lama. Namun, setiap kata yang beliau ucapkan selalu untuk kebaikan kami semata.

Terima kasih ibu.
Maafkan anakmu  yang tak mampu menjagamu sepanjang waktu.
Maafkan anakmu yang tak mampu bersamamu sepanjang waktu
Rasa sesal tak jua mampu kuhapuskan
Karena diri yang tak bersamamu di detik-detik terakhirmu
Diri ini tak berada disampingmu, memelukmu
Kuingin memelukmu tapi tak bisa lagi
Ketika kulihat tubuh kaku itu
Terbungkus rapih dalam balutan kain putih
Pikiran ini kosong
Tak tahu harus bagaimana
Air mata yang tak mampu kuluapkan di depan umum
Kuterdiam! Tak bisa berkata-kata
Satu kata saja, satu pertanyaan saja
Orang-orang itu akan mengajukannya
Di saat itulah mata ini mengeluarkan cairan beningnya
Ibu, Terima kasih atas jasamu
Semoga engkau senantiasa dalam Lindungan-Nya di alam sana
Semoga Allah melapangkan kuburmu
Semoga kita mendapatkan syafaat Rasulullah swt.
Semoga kita dipersatukan di Jannah-Nya. Aamiin

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang,

28 November 2018, 10:34PM!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir. Semoga bisa bermanfaat selalu :) Amin.
Jangan lupa komentarmu ya, karena komentarmu adalah semangatku untuk terus berbagi ^^)

Komentar yang mengandung SARA, link hidup, dan spamming akan dihapus ya.. Terima kasih atas perhatiannya :)


Follow @hervianakamaluddin