Kamis, 31 Januari 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim

 

Pernah ngga sih kalian bertanya tentang apa untungnya berkomunitas? Hmmm.. Bisa jadi jawabannya ya atau tidak atau tidak pernah terpikirkan sama sekali. Hari ini akan membahas sedikit tentang untungnya berkomunitas. Tentu saja versi saya dan tak akan panjang.

Pertama-tama, saya ingin bercerita sedikit tentang pertama kali berkenalan dengan sebuah komunitas ataupun organisasi setelah memasuki perguruan tinggi. Yang pertama adalah organisasi himpunan di kampus Teknik Elektro Unhas. Kala itu penerimaan mahasiswa baru dan ada sesi perkenalan tentang komunitas yang ada di jurusan.

Berhubung karena sesuatu dan lain hal, saya kurang begitu memperhatikan dan  tidak aktif di Himpunan meski sesekali hanya membantu apa saja yang dapat saya lakukan. Meski begitu, saya bergabung di beberapa organisasi dibawahnya seperti MADZ (Mushollah Azzarra Teknik Elektro) dan Workshop HME-FT UH. MADZ, seperti namanya di mana kita orang-orang yang bergerak di dalamnya bertugas menjadi pengurus mushollah beserta program-programnya. Workshop sendiri merupakan tempat di mana kita dapat menimba ilmu seputar dunia komputer baik perangkat keras maupun lunak. 

Hal pertama yang saya pelajari di sini adalah tentang teman, komunikasi, dan organisasi. Semasa SMA saya tidak sempat memperoleh banyak ilmu organisasi. Barulah ketika kuliah saya betul-betul merasakannya. 

Selama ini saya adalah orang yang cukup kurang dalam hal pertemanan. Agak susah memperoleh teman karena sifat pendiam dan kalem (alahh... ). Meski sifat ini masih saja sama dan terbawa saat kuliah, namun dengan bergabung di organisasi ini membuat saya dapat dekat dengan beberapa teman kuliah dari berbeda kelas maupun konsentrasi penjurusan. Di sini mulailah diri ini dapat berbicara lepas tentang apa saja kepada teman-teman dekat. 

Komunikasi juga menjadi hal utama di mana, kita belajar berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan lebih muda dengan kita. Satu hal yang selalu menjadi penekanan adalah respect. Menghargai adalah kunci utama dalam hal ini. 

Selain itu, saya pun mulai belajar tentang managemen organisasi yang paling dasar. Saya mulai mengenal struktur organisasi dan mendapat amanah di posisi yang lumayan membutuhkan energi serta tanggung jawab. Mulailah saya mengenal bendahara dan koordinator dana dan usaha di periode yang berbeda. 

Belajar amanah dan menjaga tanggung jawab sungguh sesuatu yang tak mudah. Ada energi, pikiran, pengertian, dan komunikasi dua arah yang harus berperan. Jika salah satunya lemah akan melemahkan tanggung jawab itu sendiri dan membuat energi harus bertambah berkali-kali lipat untuk mengimbangi kelemahan tadi.

Meskipun begitu tidak membuat diri ini surut akan berkomunitas. Teringat di tahun 2009, saya diperkenalkan dengan sebuat komunitas internasional bernama AIESEC. Sesungguhnya, diri ini agak malu masuk ke sini. Maklum lah, bahasa inggris yang masih my name is ... what? why? where? who? how? yes or no? adalah keahlian yang dimiliki. Tak tahu dengan kata lain. Namun, ajakan teman membuat saya masuk dalam organisasi ini meski harus bengong ketika melihat mereka ngobrol.

Ingatan ini masih jelas sekali kala harus mengikuti seminar bertaraf international yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah. Seminar ini bernama National Leadership Development Seminar (NLDS) 2009. Seminar ini dihadiri oleh beberapa peserta dari negara-negara Asia seperti Jepang, Singapura, dan lain-lain yang sudah tak bisa lagi teringat. 

Kalian bisa membayangkan bagaimana bengongnya saya ketika materi dimulai. Semua serba bahasa inggris. Kadang kala harus menengok kiri bertanya kepada teman "eh, itu artinya apa?" Teman pun kadang bingung menjelasakan dan meresa tidak enak ketika harus berbicara ditengah peresentasi.

Apalagi waktu sesi pengelompokan. Karena kami adalah tim expansion, jadi dikelompokkan dengan International Delegates. "Ya Allah, mampus!" dalam hati ingin rasanya berteriak namun hanya mampu melemparkan senyum. Kami diharuskan membuat yel-yel. Apalah daya saya hanya bisa sebagai pengikut dan tersenyum atau bergeleng kepala jika tiba saatnya diri ini ditanya "Any idea?" Air mata ini rasanya ingin membasahi pipi.

Pulang dari sana, saya pun mulai introkspeksi diri. "Evhy, ini bukan akhir dari segalanya." Meski dengan segala keterbatasan kemampuan tidak membuat diri ini surut dan berhenti. Segalanya justru berawal dari sini. 

Saya menjadi semangat belajar. Meski tidak mengikuti kursus bahasa inggris namun sedikit demi sedikit kemampuan itu meningkat dengan sendirinya. Mengapa? Hmm.. Teringat detik-detik di mana saya harus membuka kamus atau google translate untuk mentranslate dokumen penjelasan usai seminar. Hal itu harus dipelajari untuk memahami deskripsi pekerjaan, apa saja yang harus dilakukan, dan lain sebagainya. 

Hal yang sama juga saya lakukan ketika harus membalas email. Karena organisasi internasional, email pun datang dalam bahasa Inggris. Misalnya kalimat "saya ingin mengkonfiramasi tentang agenda pertemuan ...." Kalian bisa membayangkan bagaimana diri ini harus mengetikkan kalimat tersebut di google translate lalu meng-copy paste di badan email

Dari sini, banyak kosa kata yang mulai diketahui. Lama kelamaan, membalas email pun lancar. Membaca dokumen 3 lembar pun bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit. Dulu bisa memakan waktu hingga satu jam lamanya bahkan bisa lebih. :D

Tidak hanya ini yang berkembang di sini. Saya mulai mempelajari tentang manajemen organisasi, talent management, bertemu dengan partner, membuat planning yang lebih efektif, dan masih banyak lainnya. Hal yang paling saya sukai adalah organisasi ini memberikan ruang bagi otak ini untuk mengekspresikan ide dan membuatnya menjadi nyata.

Sekecil apapun idenya benar-benar dihargai. Hal ini yang membuat segalanya menjadi menyenangkan, apalagi ketika ide itu diterima dan dilaksanakan. Jadilah saya yang pendiam ini mulai percaya diri. Dari mengungkapkan pendapat hingga mampu berbicara di depan umum.

Usai berkutat dengan organisasi ini di tahun 2014, mulailah diri ini mencoba mencari jalan lain. Karena kesukaan pada menulis seperti yang sudah dijelaskan pada beberapa tulisan sebelumnya, diri ini pun mencari komunitas yang mampu menyalurkan itu. Masuklah di facebook group Ibu-ibu Doyan Nulis hingga akhirnya memasuki dunia per-blogger-an. Dunia yang saat ini saya jalani dan cukup ditekuni namun tidak juga seratus persen menulis setiap hari.

Setelah memasuki dunia yang satu ini, mulailah diri ini mengenal banyak hal utamanya di Kelas Menulis Kepo dan Blogger Anging Mammiri. Kelas Menulis Kepo adalah kelas di mana kita menuntut ilmu seputar kepenulisan dan melatih kita untuk menulis. Blogger Anging Mammiri sendiri merupakan tempat di mana para blogger dapat saling berbagi informasi, ilmu, rejeki, dan makanan. #eh.

Kedua komunitas tersebut sudah seperti keluarga bagi saya. Bukan hanya soal ilmu yang didapatkan, namun soal pertemanan, kepercayaan, kegalauan, seru-seruan, canda, tawa, lebih percaya diri, dan segala pengalaman berharga yang diberikan. Hingga akhirnya saya bisa seperti sekarang ini. Yang kadang malu-maluin karena PDnya terlalu over.

Ada lagi satu komunitas yang tak kalah bernilainya. Itu adalah Tunanera Sighted Network atau biasa disingkat Tu-SiWork. Komunitas ini adalah kumpulan anak muda yang baik difabel netra maupun non-difabel untuk saling terkoneksi dan berkolaborasi dalam menuntut ilmu. 

Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Mulai dari cara berinteraksi dengan difabel netra dan mengajarkan komputer, menulis, bahasa pemrograman, dan bahasa inggris. Kadang rasanya bukan saya yang mengajar, malah diri ini yang belajar banyak. Hingga akhirnya kami dapat mengukir kisah-kisah bermakna di tahun 2018 dalam sebuah buku berjudul "Kumpulan Cerita Tu-Si Work : Menembus Batas Jarak Pandang". Buku ini berhasil di launching pada tanggal 26 Januari 2019 di acara Tu-Si Work Fest 2019.

Buku tersebut mengajak para pembacanya untuk mendalami dan memahami dunia tunanetra sekaligus dapat melihat sisi lain dari dunia mereka. Keresahan, kegelisahan, dan rasa syukur dapat mungkin akan dirasakan kala membacanya. Seperti salah seorang yang membaca buku ini sambil meneteskan butiran-butiran kecil dari matanya.

Nah, inilah sepenggal kisah dari beberapa komunitas yang pernah saya jalani, dulu dan kini. Sebenarnya masih ada beberapa namun tak sempat tersebutkan. Bukan karena tak memberi manfaat namun sungguh manfaatnya banyak sekali yang tak mampu saya sebutkan satu per satu. Tulisan di atas sudah mewakili sebagian dari manfaat yang diberikan. Kembali lagi kepertanyaan, apa untungnya berkomunitas? Silahkan menyimpulkan sendiri.

Oh iya, untuk menambah lebih banyak referensi kalian dapat membaca tulisan "Membenihkan Asa pada Ladang-ladang Komunitas" dari kak niar. Ada juga tentang "Saya dan Komunitas" dari kak Ayi.


Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Wendy's MARI

31 Januari 2019










Selasa, 15 Januari 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim
Foto bersama netizen MPR-RI di depan The Mending Project
Foto bersama netizen MPR-RI
Cerita ini adalah lanjutan dari Keseruan Deklarasi Netizen MPR-RI hari ke-2. Dari deklarasi hingga ke eksplorasi Ibu Kota, itulah judul perjalanan kali ini. Nah dalam kegiatan gathering ini, kami tak hanya dipertemukan dan merumuskan sebuah neklarasi netizen namun diberi hadiah untuk mengeksplore beberapa tempat di Jakarta.

Seperti judulnya, dari gedung MPR kami langsung beranjak ke Museum Macan. Saya tidak begitu menikmati melihat pemandangan Ibu Kota, bukan karena tak suka, tapi rasanya saya sempat tertidur atau tak sadar sudah sampai di suatu tempat. Kini kami berada tepat di depan sebuah gedung dan itulah pemberhentian kami.
Bersama delegasi Makassar
Bersama delegasi Makassar
“Eh, kita ke sini? Ini di mana? Kok kayak Mall? Bukannya kita mau ke museum?” ucap diri ini kepada salah satu delegasi dari Makassar yang duduk di samping saya di bus. Pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul saat sampai di sebuah gedung pemberhentian pertama.

“Iya  kak, kita sudah sampai di museum macan” ucapnya sambil memperlihatkan foto-foto yang ada di salah satu sosial media.

“Oh ini ya, yang banyak orang foto-foto di ruangan serba bulat-bulat yang ada cerminnya juga. Yang bola-bola motif bulat-buat itu. Saya pernah lihat foto teman di situ” ucap saya lagi. “Keren ya, ternyata ini tempatnya” lanjut saya lagi.

Saya tentu sangat kaget melihat kenyataan bahwa gedung museum ini bukanlah seperti yang ada bayangan saya. Dari dulu entah terpartri selalu bahwa museum itu adalah gedung tua yang isinya memamerkan tentang sesuatu dan ini Museum Macan ya mungkin memamerkan tentang jenis-jenis macan atau mungkin binatang lainnya. Hahahahha dasar kurang gaul..
Guidenya menjelasakan dulu sebelum kita masuk area pameran
Guidenya menjelasakan dulu sebelum kita masuk area pameran
Ternyata kata MACAN dalam Museum MACAN ini adalah kepanjangan Modern and Contemporary Art in Nusantara. Nah, karya-karya yang dipamerkan di sini memiliki jangka waktu tertentu. Jadi tidak selamanya akan dipamerkan. Beberapa waktu lalu yang dipamerkan adalah yang saya sebutkan dalam percakapan di atas, karya dengan tema bulat-bulat.

Untuk kali ini, museum art ini menghadirkan tiga karya seniman lainnya yakni Arahmaiani dari Indonesia, Lee Mingwei dari Taiwan, dan On Kawara asal Jepang. Ketiga seniman ini memamerkan karya yang ada hubungannya dengan waktu.
Berfoto diantara karya seni Arahmaiani
Berfoto diantara karya seni Arahmaiani
Arahmaiani dengan tema “The Past has not Passed, Masa Lalu Belumlah Berlalu”, Lee Mingwei memiliki tema “Seven Stories, Tujuh Kisah”, dan On Kawara sendiri dengan tema “One Million Years (Reading).” Pameran karya seni mereka berlangsung dari tanggal 17 November 2018 – 10 Maret 2019. Kira-kira setiap empat bulan, karya di museum ini akan berganti. Oleh karena itu, jangan kahawatir akan bosan berkunjung ke sini.

Salah satu karya yang paling saya senangi dari Arahmaiani adalah Masa Lalu Belumlah berlalu. Hal ini menceritakan tentang budaya yang masih terbawa dari masa penjajahan Belanda. Salah satunya adalah Rokok. Di sini kamu akan melihat video yang ditayangkan dan setelah kalian melihatnya, kalian dengan sendirinya akan memahami masa lalu yang sesungguhnya masih ada di waktu sekarang. Saya akan memberikan sedikit bocoran tentang karya-karya Arahmaiani lainnya adalah Performance History (1980 – sekarang), 11 June 2002 (2003), Nation for Sale (1996), Flag Project (2006-2010), Do Not Prevent the Fertility of The Mind (1997 – 2014 – 2018), I Love You (After Josheph Beuys Social Sclupture)(2009).
Ini salah satu karya Arahmaiani
Ini salah satu karya Arahmaiani
Do not Prevent the Fertility of the Mind Project by Arahmaiani
Do not Prevent the Fertility of the Mind Project by Arahmaiani
Lee Mingwei menghadirkan tujuh karya sesuai dengan temanya, yakni The Mending Project (2009/2018), The Dining Project (1997/2018), Guernica in Sand (2006/2015), Our Labirinth (2015 – sekarang), Between Going and Staying (2007), The writing Project (1998 – sekarang), dan Sonic Blossom (2013 – sekarang). Sedangkan On Kawara hanya memiliki karya One Million Years dimana para pengunjung akan berada dalam suatu ruangan untuk membaca buku tersebut dengan cara tersendiri yang telah ditetapkan oleh sang penulis.

Salah satu spot The Writing Project karya Lee Mingwei
Salah satu spot The Writing Project karya Lee Mingwei
Cukup hal itu saja yang bisa saya ungkapkan. Karena sejatinya, karya seni harus kalian nikmati langsung dan mendapatkan penjelasan langsung dari para guide. Saya sudah merasakan sendiri bagaimana mereka menjelaskan dengan sangat baik. Sampai saya tak bisa berhenti berkata “WOW” saat mendengarkan makna dari karya-karya tersebut. AMAIZING, GOOD JOB!!
Kak yani tengah mengambil gambar The Mending Project
Kak yani tengah mengambil gambar The Mending Project
Performance dalam Sonic Blossom Project
Performance dalam Sonic Blossom Project
Eh iya, hampir lupa. Untuk berkunjung ke sini, kalian harus membayar tiket masuk untuk dewasa seharga Rp. 90.000,-. Katanya museum ini hanya buka dari hari Selasa – Ahad. Nampaknya, hari senin itu museum diliburkan ya, soalnya Monas (Monumen Nasional) juga tutup di hari yang sama. Untuk letak museum, kalian harus naik eskalator atau lift ke lantai dua. Jika kalian naik tangga eskalator kalian akan menemui bendera-bendera yang ternyata isinya SEMUT!!!! Ngga percaya? Datang aja sendiri!

Adapun peraturan yang harus dipatuhi ketika berada di dalam museum:
  • Mohon berbicara dengan lembut dan berjalan dengan tenang
  • Dilarang menyentuh karya
  • Atur ponsel ke mode senyap dan hindari menelfon di area pameran
  • Dilarang memotret menggunakan flash. Dilarang membawa kamera seperti DSRL, SLR, dan Paraloid.
  • Barang berukuran besar yang lebih dari 24x24x15 cm harus disimpan dipenitipan barang
  • Dilarang mengkonsumsi makanan dan minuman di area pameran
  • Diperbolehkan mengsketsa hanya menggunakan pensil dengan buku yang tidak lebih dari ukuran A4

Demikian eksplorasi di Museum MACAN ini. Segera kunjungi Museum ini sebelum karyanya berganti lagi. Di sini juga dipamerkan beberapa koleksi seni museum dengan tema “Pop and Beyond”. Ada juga beberapa performance yang akan dilakukan di tanggal-tanggal tertentu. Ketika kalian berkunjung dan membeli tiket masuk, kalian akan dibekali dengan sebuah buku penjelasan seputar karya-karya seni yang dipamerkan dan hal-hal lainnya yang akan diadakan di museum ini. So, check it out!

Oh iya, kalian percaya ngga sih kalau di sini itu ada tempat memelihara semut. Ngga percaya? Buktikan aja sendiri dan lihat lebih dekat.


Tempat memelihara semut di dalam sebuah bendera yang terbuat dari sterofoam yang dilapisi kaca sebagai pelindung
Tempat memelihara semut
Salah satu koleksi lukisan Museum Macan di lantai 6
Salah satu koleksi lukisan di lantai 6



Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Antang, 

16 Desember 2018

Senin, 14 Januari 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim

Tahun 2018 lalu, tepatnya bulan September, saya mengikuti salah satu program dari Sobat LemINA yakni Nulis Bareng Sobat (NBS). Program ini sudah berjalan mulai tahun 2014 yang berlangsung selama enam bulan per angkatan. Jadi selama setahun akan ada dua angkatan yang berjalan. NBS yang saya ikuti kali ini adalah angkatan ke-6.
Foto bersama Relawan Anak Sobat LemINA
Pict by Kak Bunga
Itu tadi cerita singkat mengapa pada akhirnya saya dapat bergabung dengan Sobat LemINA hingga akhirnya saya pun mengikuti Rapat Kerja Sobat LemINA untuk tahun 2019. Rapat kerja ini berlangsung di Wisata Kebun Gowa tanggal 5 - 6 Januari 2019. Lantas apa saja agenda yang akan mereka lakukan di tahun ini? yuk, simak penjelasan singkat berikut ini. Siapa tahu kamu bisa berkontribusi juga.
  • Aku Sayang Badanku (ASB) adalah kegiatan edukasi tentang kekerasan seksual pada anak yang diperuntukkan bagi para guru. Kegiatan ini melibatkan relawan anak dan relawan psikolog sebagai fasilitator. ASB dijadwalkan bulan Agustus tahun 2019 mendatang. 
  • Nulis Bareng Sobat adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan menulis anak-anak dalam hal bercerita, menuliskan ide, ataupun menulis puisi. Program NBS batch enam saat ini masih berlangsung untuk siswa sekolah dasar kelas IV di SD N Katangka 1 Makassar dan SD Inpres Katangka Gowa. Untuk angkatan selanjutnya akan dibuka kembali kira-kira bulan Juni 2019.
  • Nulis Blog Relawan (NBR) merupakan program untuk meningkatkan kapasitas relawan Sobat LemINA dalam hal kepenulisan utamanya di blog. Diharapkan teman-teman relawan anak dapat bercerita tentang pengalaman mereka melalui program ini di blog masing-masing.
  • Festival Anak merupakan agenda tahun Sobat LemINA yang akan digelar beberapa bulan kedepan.
  • Managemen Kebersihan Menstruasi. Program ini dibuat untuk anak-anak SD dikarenakan saat ini banyak anak-anak yang sudah mendapatkan menstruasi awal pada saat menduduki bangku sekolah dasar sekaligus menyiapkan anak-anak yang belum mendapatkan menstruasi dapat teredukasi tentang kebersihan dan tidak kaget saat tamu bulanan ini datang.
  • Newsletter adalah salah satu bentuk pelaporan tentang apa saja kegiatan yang sudah dilakukan oleh Sobat LemINA. Konsepnya seperti majalah dan dapat diunduh secara gratis di website lemina.org.
  • Seragam untuk Sobat adalah kegiatan pembagian seragam sekolah kepada siswa sekolah dasar yang ditargetkan. 
  • FGD khusus Guru/Orang Tua merupakan pendekatan khusus kepada guru atau orang tua terkait isu-isu tentang anak. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dalam menjalankan atau membuat program-program yang relevan terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh orang tua maupun guru yang berhubungan dengan dunia anak.
  • Pengembangan Kapasitas adalah program pengembangan diri bagi para relawan anak di Sobat LemINA. Jadi, relawan anak tidak serta merta turun melakukan kegiatan kerelawanan. Ada beberapa pelatihan yang harus dijalani untuk meningkatkan kapasitas diri agar lebih siap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang akan dijalankan.
Demikian penjelasan singkat tentang kegiatan Sobat LemINA. Eh iya, mungkin ada yang belum tahu. Sobat LemINA adalah komunitas relawan anak yang bekerja ikhlas dan bersama-sama untuk meningkatkan kulaitas hidup ibu dan anak. Semua bergerak dengan satu tujuan, yaitu Untuk Senyum Anak Indonesia. Komunitas ini merupakan bagian adari Yayasan Lembaga Ibu dan Anak (LemINA). Untuk lebih lengkapnya bisa langsung melipir ke website www.lemina.org.

Setelah mengetahui program-program ini, saya pribadi sangat berharap semoga semua program ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari berbagai pihak agar pelaksanaannya dapat dimaksimalkan. Bagi yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan yang disebutkan dapat memantau berita terbaru di instagram @sobatlemina. 

Oh iya, doakan saya juga agar bisa amanah dan mampu melaksanakan program dengan baik. Doa kalian adalah suatu dukungan yang semoga diijabah oleh Allah Subehanahu Wata'ala. Pas di acara rapat kerja kemarin, dapat amanah utuk mengorganisir kegiatan Nulis Blog Relawan

Yeayy, finally berhasil menyelesaikan tantangan writing challenge #1 Sobat LemINA

Alhamdulillahirabbil`alamin

Makassar-Barombong, 

14 Januari 2019, 8.14PM

Follow @hervianakamaluddin